── 15

311 59 2
                                    

Aruna sekarang berada di ruang keluarga, duduk bersama Daniel yang sibuk mengunyah makanan dengan pandangan yang sibuk menatap layar televisi dan tangan yang sibuk memencet konsol game miliknya. Sesekali ia menyebut "Kak Nana" dengan nada lagu yang tak asing di telinganya. Kurang tahu juga mengapa, pokoknya Daniel ini punya kebiasaan memanggil-manggil orang disebelahnya sembari bernyanyi.

Pernah waktu itu Daniel sedang duduk dengan sang Ayah sembari menonton sepak bola tetapi Ayahnya justru malah akhirnya kesal sendiri sebab Daniel terus menyebut "ayah, ayah, ayah" dengan nada lagu balonku ada lima.

"Kak Nana ngapain sih?" tanya Daniel kala gamenya sudah selesai di babak pertama dan ada jeda untuk ganti ke babak selanjutnya.

"Nggak ngapa-ngapain. Nemenin dek Iel doang. Dek Iel main mulu emang gak ada PR?" tanya Aruna.

"Tadi udah Daniel cek sama Bunda, nggak ada sih kak. Makanya Iel main game sekarang." Jawab Daniel yang direspon dengan anggukan kepala oleh sang gadis yang melemparkan pertanyaan tersebut. Lalu setelahnya, Aruna merebahkan dirinya di sofa dengan paha Daniel yang ia gunakan sebagai bantal kepala.

Untungnya punya Adik macam Daniel begini tuh, kalau dirusuhi begini dia akan tetap diam saja. Paling-paling responnya hanya menatap aneh lalu setelahnya kembali fokus pada kegiatannya. Mana berani marah, sumber terbesar dalam misi penghasut ayah untuk beli game baru itu asalnya dari Aruna. Jadi ya kalau diapa-apain nurut saja.

Baru saja ia merebahkan diri, dua notifikasi datang berentetan mengganggu ketenangannya kali ini. Entah dari siapa, yang jelas Aruna sekarang sedang malas untuk membuka handphonenya. Tak tahu juga, rasanya malas sekali. Ohiya, mau memperjelas saja, kalau kalian kira Aruna betulan ngambek dengan Nicholas itu bohongan kok. Nggak ngambek deh serius.

Cuma malu saja sih sedikit. Ya habisnya kenapa dari awal tidak bilang coba, kalau sedang telfon Reksa?! Kalau begini kan jatuhnya jadi curhat ke orang yang akan dijadikan bahan curhat. Bisa Aruna tebak bahwa sekarang Reksa sedang tertawa terbahak-bahak, menertawakan curhatan alaynya. Haduh, nggak mau ketemu Reksa dulu aja deh besok. Malu deh.

Lalu satu notifikasi kembali datang dan sekali lagi, sama saja seperti notifikasi sebelumnya, sama-sama mengganggu Aruna bermalas-malasan. Sungguh. Tapi nampaknya manusia ini tidak mau menyerah, sekarang sudah bukan mengirim notifikasi chat malah menelfon Aruna sampai tiga kali, sinting.

"Iya, dengan Aruna disini. Ada yang bisa dibantu?" sahut Aruna kala telefonnya akhirnya ia terima sebab sudah terlampau kesal sendiri.

"Baca chat gue." Balas seseorang di seberang sana yang setelahnya telefon langsung diputus dan meninggalkan lockscreen handphone Aruna dengan bubble notifikasi dari Reksa.

Reksaa
| Mau martabak nggak?
| Gue abis beli nih. Bantu abisin, Na
| Gue di balkon depan
19.13

Enak saja, masa harga dirinya ditukar dengan martabak begini sih?! Memangnya Aruna dan martabak manis atau terang bulan itu lebih berharga terang bulannya?!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
REKSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang