Percobaan pelarian diri Lethia tidak terjadi untuk kedua kalinya. Antares memastikannya, dengan turun sendiri ke Lapis Lazuli beberapa kali dalam seminggu untuk melihat keadaan. Putri itu tampak lebih tenang sekarang. Ketika Antares berlalu di taman, ia bisa melihat senyuman putri itu di balik jendela. Pemandangan itu selalu menghentikan langkah kaki Antares.
Mereka bilang, kebingungan membawa ketidakpercayaan, ketidakpercayaan berujung pada ilusi. Di sisi lain, kepasrahan berimbas menjadi ketenangan, dan ketenangan berubah menjadi kenyamanan. Lethia telah belajar, sedikit demi sedikit, untuk menjadi lebih nyaman di balik pintu-pintu berpalang besi itu.
Antares lega karenanya. Bukan karena itu membuat suasana hati Aran baik. Alasannya jauh lebih gelap, terikat pada masa lalu yang ia ingin lupakan. Wajah Lethia terlalu mirip dengan Balvier Desmares, seseorang yang tidak bisa Antares lupakan. Alasan mengapa senyuman Balvier bisa membuatnya lega adalah cerita yang sama sekali lain — yang tidak seorang pun perlu tahu.
Tentu saja, Lethia bukanlah Balvier. Senyuman Lethia bukan berarti adalah senyuman Balvier. Putri itu dibuang, menunjukkan bagaimana Balvier tidak peduli akan Lethia. Tetapi sungguh aneh, karena memori Antares tidak mengatakan hal yang sama. Seingatnya, Lethia adalah harta Balvier yang paling berharga. Atau seiring waktu berjalan, manusia memang bisa berubah begitu rupa?
Lamunan Antares dipecahkan pelukan tiba-tiba di pinggangnya. Tawa anaknya itu teredam baju Antares, jemarinya yang mungil masih melingkari tubuhnya. Itu adalah sore di hari libur, dan yang diinginkan anaknya hanya perhatian lebih. Antares tersenyum dan mulai menepuk-nepuk kepala yang hanya setinggi pinggangnya itu.
"Besok aku akan membuatkan sup kesukaan Ayah," katanya. "Kali ini Ayah akan mengakui rasanya sudah seenak buatan Ibu dahulu."
Antares membelainya. Ia mendongak, matanya saling pandang dengan jenderal tua itu. Ia tampak penasaran, ingin bertanya sesuatu, tapi tetap diam. Akhirnya Antares mengakhirnya dengan sebuah tawa lembut, dan menarik tangan anaknya.
"Ayo Kishar, kubantu kau memasak," Antares berkata, berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah. "Buat yang banyak, Pangeran Aran gembira ketika mendapat bekal masakanmu tempo hari."
***
Lethia sedang menari ketika Aran datang, dan ia tidak berhenti. Matanya sesekali mengintip ke arah pangeran itu melalui sela-sela cadarnya. Bibirnya membentuk sebuah simpul, yang sudah begitu lama tidak ia perlihatkan pada siapapun. Kali ini pun sama, biarlah semuanya tersembunyi di balik cadar.
Ketika para dayang menyelesaikan nada-nada terakhir di alunan lagunya, hentakan kaki Lethia pun berhenti. Kapan terakhir ia tidak menikmati sesuatu seperti itu? Ia berterima kasih pada Zaniah untuk mengajarinya tarian Gondvana pada siang-siang yang sepi. Sejak percobaan pelarian dirinya itu, Lethia sadar daripada menyesali apa yang tidak bisa ia temui di luar, lebih baik menikmati apa yang bisa ia dapat di dalam.
Aran yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kini berjalan ke arah salah seorang dayang dan mengambil sitar darinya. Ia terduduk di antara para dayang dengan alat-alat musik, dan memulai alunan baru. Para dayang lain mengikuti aba-abanya. Lagu baru telah dimulai, dan Lethia pun mengikutinya dengan jentikan dan hentakan-hentakan baru.
Pada setiap putaran badan Lethia memperhatikan pangeran itu. Memainkan sitar dengan piawai, ia pasti sudah belajar sejak ia kecil. Senyuman di ujung lekuk bibirnya menunjukkan bahwa ia juga menikmati lagu ini. Hal itu tanpa sadar membuat Lethia bertambah gembira.
Pangeran itu, walaupun mengunjunginya secara berkala di malam hari, tidak pernah berkata banyak tentang dirinya sendiri. Ia bahkan tidak bertanya banyak hal pada Lethia. Ketika makan malam sudah tersaji, ia hanya terduduk di seberang dan makan dalam diam. Sesekali pandangannya terlempar dan melekat pada Lethia, tapi hanya sebatas itu. Seakan ia ada di sana hanya untuk memeriksa.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lapis Lazuli (COMPLETE STORY)
FantasiaCOMPLETE STORY Silakan menikmati cerita ini dari awal hingga tamat! Arleth Blancia, seorang putri dari Luraxia, hanya ingin hari-hari yang damai bersama kakaknya. Aldebaran, seorang putra mahkota dari Gondvana, ingin membuktikan dirinya layak dengan...