Chapter 2

32 14 0
                                        

Sinar matahari semakin terik, serta angin yang mulai memberikan hembusan kencang menandakan hari mulai memasuki siang.

Dua bersaudara yang masih asyik berbincang didalam bangunan kokoh yang tegak berdiri dengan sedikit luka didinding, Dimas yang masih merasa ragu akan keberanian Adiknya dan keputusannya untuk tetap ikut bersama Kakanya berjuang.

Tetapi disela perbincangan itu Rendi merasa ada sesuatu yang mengingatkan kepada ruangan gudang tempat Ayahnya dulu membuat karya dan menyimpan barang-barang berharganya. Karena ayah dari 2 remaja bersaudara itu adalah seorang seniman sekaligus sastrawan yang sangat hebat, Beliau menggeluti seni didalam hal melukis serta sastra didalam mengarang sebuah buku dan puisi, dan dari situlah Ayahnya memberi nafkah untuk Istrinya dan kedua Anaknya.

Titisan bakat sang Ayah itu tercurah kepada sang Adik Rendi, karena semasa hidupnya, Rendi sangat lebih dekat dengan Ayahnya dibanding Dimas  yang tidak terlalu dekat.
"Ka, aku teringat sesuatu tentang ruangan gudang tempat Ayah membuat sebuah karyanya, serta menyimpan setiap barang-barang berharganya"
"Hmmmm, iyaaa, tapi gudang itu kan sekarang sudah tidak digunakan lagi, sudah kotor, banyak debu karena tak terurus oleh kita"
"Iyaa sih Ka, tapi bagaimana kalau kita lihat, siapa tau ada barang atau apapun sejenisnya, atau ada sebagian karya Ayah yang tertulis dan masih tersimpan rapih disana"
"Baik Ren, kita coba lihat kegudang sekarang"
"Iyaaa Ka, ayoo Kita kesana"

Mereka berduapun melangkahkan kakinya ke gudang tempat Ayahnya tercinta menuangkan semua imajinasinya serta ide dan gagasannya.
Ketika sampai didepan pintu gudang, merekapun terhenti sejenak dan menjadi ragu untuk masuk kedalam, karena dibenak mereka ada rasa dan imajinasi yang begitu menakutkan pula, mungkin karena gudang tersebut sudah terlalu lama tidak pernah terurus dan tidak pernah dimasuki oleh mereka.

"Ssstttt, Ren kamu duluan yang masuk"
"Yaaah, Kaka, Kaka saja yang duluan, masa harus Rendi yang duluan, ayo dong Kaa"
"Heeeummmh, iya deh," dengan wajah sedikit cemas, karena takut dan perasaan yang bercampur aduk.

Lalu Dimaspun membuka pintu gudang tersebut dengan perlahan, berbarengan dengan matanya yang sedikit terpenjam karena ketakutan, sedangkan disisi lain Rendi yang berbalik arah membelakangi Dimas karena perasaan yang sama serta bayangan imajinasi yang berlebihan.

Ketika pintu itu perlahan telah terbuka lebar, dan Dimas yang juga perlahan masuk serta membuka matanya dengan sangat pelan, seketika itu Dimas mencoba membukakan matanya lebih lebar, lalu Dimas kaget dan terkagum karena melihat isi dari gudang peninggalan Ayahnya yang sangat menakjubkan, jantung yang asalnya berdebar kencang menjadi normal kembali, dan imajinasi yang membuat Dimas ketakutan menjadi hilang begitu saja.

"Waaaaaawww, luar biasa," kata Dimas dengan menunjukan wajah terkagum kagum.

Karena didalam gudang tersebut banyak peninggalan-peninggalan Ayahnya dengan berbagai macam barang-barang antik dan karya-karya lukisan serta karya tulisan yang masih utuh tersimpan dan terpajang rapih. Sedangkan Rendi yang tidak mengetahui betul karena masih dalam keadaan berbalik badan.

"Ren, sini ayo cepat masuk"
"Serem ngga Ka," tanya Rendi.
"Yaaah ngga kali, masa serem, sini ayoo, ini gudang ruangan peninggalan Ayah luar biasa menakjubkan sekali Ren."

Mendengar Kakanya berbicara seperti itu membuat Rendipun penasaran, lalu Rendi berbalik arah dan masuk kedalam gudang itu, dengan kaget dan perasaan yang bercampur aduk karena melihat gudang peninggalan Ayahnya yang sangat menakjubkan.

"Waaah, keren juga ya Ka, ini seperti museum Ka, banyak barang-barang antik serta dihiasi sebuah karya-karya Ayah"
"Iyaaa Ren, luar biasa sekali, Ayah Kita memang hebat"
"Sudah pasti itu Ka, mungkin itu bisa jadi suatu alasan Ibu memilih menikah dengan Ayah," kata Rendi dengan raut muka yang ternsenyum.
"Iya Ren, tetapi," dengan wajah yang murung, karena Dimas merasa rindu akan kehadiran kedua orang tuanya
"Tetapi kenapa Ka, ini baru saja senang dan terkejut, sudah murung lagi, aaaah Kaka enggak seru!"
"Hmmmmm, iyaa sih Ren, tetapi perasaan rindu Kaka terbangun ketika melihat foto diatas dinding itu, coba kamu tengok keatas situ," Dimas menunjukan telunjuknya kearah foto itu.
"Oohhh Iyaa, Ka itu foto kita berempat sewaktu dulu," perasaan Rendi merasakan hal yang sama seperti Dimas.
"Iya Ren, Kaka rindu akan kehadiran Ayah sama Ibu, yang dulu selalu ada buat kita, selalu memeluk dengan erat raga serta jiwa kita, yang menghiasi kebahagian kita dan yang menemani disaat kita bersedih dan menangis, karena hal yang  sepele sewaktu Kita masih kecil," air mata Dimas yang mulai keluar perlahan yang mengalir membasahi pipinya.

Dibalik itu, Rendi yang juga merasakan hal yang sama seperti yang Kakanya rasakan, tetesan air mata yang juga membasahi pipinya.
Dimas beranjak melangkahkan kakinya kedekat foto yang terpajang didinding itu, lalu ia mengambilnya.

Dipegangnya foto yang ada dibingkai itu dengan rasa kerinduan yang sangat mendalam, bergetar tangannya saat dipegang dan di pandangnya foto itu, air mata yang semakin deras keluar dan membasahi pipinya jatuh kebumi. Teringat kembali kepada masa masa dimana kedua orang tuanya masih ada, dan tertuang kembali didalam ingatannya kepada waktu 4 tahun silam, saat Dimas berusia 20 tahun, dan Rendi berusia 14 tahun, pada saat Rendi masih duduk di bangku kelas 2 SMA.

Mengenang bagaimana hangatnya didalam rumah, kenyamanan yang selalu terasa serta keindahan yang selalu terlihat jelas didepan mata.

Di sisi lain Rendi yang melihat kakanya yang memandang foto didalam bingkai merasakan hal yang sama juga, tetapi, saat hendak melihat seluruh isi ruangan itu, Rendi melihat selembar kertas yang kusut, dan didalamnya terlihat tulisan serta masih ada pena yang tergeletak disebelah selembar kertas itu.

Hati serta pikiran Rendi menjadi penasaran akan selembaran kertas yang tergeletak di meja tempat Ayahnya berkarya. Dia hanya berpikir bahwa mungkin itu adalah sebuah puisi karangan Ayahnya, tetapi rasa penasaran itu semakin menjadi jadi, Rendi menepuk pundak Dimas, dan menunjukan selembar kertas yang tergeletak diatas meja itu.

"Ka, coba lihat itu, di meja itu ada kertas yang berisi tulisan."
"Ka,!"
"Iyaaa Ren apa?"
"Itu lihat kearah sana," Rendi menunjukan jari telunjuknya kearah selembaran kertas yang tergeletak diatas meja itu.
"Haah, iyaaa, itu tulisan apa yaaa?"
"Ya Rendi juga ngga tau Ka, coba deh kita lihat kesana"
"Iyaa Ren, ayooo, barangkali itu hal yang sangat penting."

Merekapun melangkahkan kakinya kearah meja itu, Lalu Dimas mengambilnya dan membaca isi tulisan yang ada didalam selembar kertas yang kusut itu, Rendi yang berdiri pematung disebelah kiri Dimas, mendengarkan Kakanya yang membacakan isi tulisan yang tertulis diselembaran kertas itu, ternyata bukanlah sebuah tulisan puisi, tetapi seuntai kalimat yang berbentuk surat dari Ayahnya, yang tertulis dengan tulisan lekukan-lekukan huruf bersambung yang indah untuk kedua putranya.

Isi surat......

Untuk kedua putra tercintaku.

Hari ini Ayah menginjak umur 55 tahun, tak terasa hidup didunia ini.
Setelah 1 tahun kepergian Ibu, Kita yang asalnya berempat didalam rumah ini, menjadi bertiga....
Terasa hampa jika mendalami itu semua, dan sedih teringat kepergian Ibu...
Putra-putraku tercinta, Dimas dan Rendi....
Diusia Ayah yang semakin hari semakin tua, Ayah merasa semakin dekat dengan kematian pula, dan hati yang semakin rindu untuk ikut dan menyusul Ibu.....
Jika ayah meninggal, kalian jangan bersedih hati untuk menjalani hidup, dan jangan pula putus akan harapan serta cita-cita kalian berdua.
Wahai putra-putraku.....
Dimas dan Rendi kalian harus tetap bersama untuk saling menjaga....
Pesan Ayah untuk kalian wahai putra-putraku...
Kalian harus menjadi orang yang berguna untuk siapapun, kejarlah semua mimpi-mimpi dan cita-cita kalian berdua dan wujudkanlah......
jadilah seseorang yang mengasihi satu sama lain dan janganlah menjadi seseorang pembenci......
Hadapi semua ketir alunan kehidupan dengan sebuah senyuman, dan ketulusan yang selalu dipancarkan didalam hati....
Tuhan yang maha esa selalu menyertai kalian berdua.....

Dari ayah

**********

Kupu-KupuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang