Sebenarnya, inti kekacauan yang kugunakan itu tidaklah memerlukan mantra. Karena proses yang panjang dari memasukan berbagai kemampuan akan memakan waktu banyak, aku mengisinya dengan mengucapkan kalimat tidak jelas. Tadinya juga aku ingin menamai inti kekacauan dengan nama 'Dewa Kekacauan Nyarlathotep'. Tapi menurutku itu tidak cocok, jadinya aku mengambil julukan dari Nyarlathotep, yaitu 'Kekacauan Yang Marayap'.
Setelah beberapa saat aku menusukan pedang, efeknya sudah mulai terlihat. Alam semesta ini perlahan mulai menjadi kacau. Bahkan lebih kacau daripada yang kukira. Banyak bintang-bintang yang saling menarik dan akhirnya bertabrakan, menciptakan sebuah ledakan besar. Black hole tercipta di mana-mana, menghisap segala yang ada di sana. Bentuk-bentuk planet yang seharusnya bulat malah berubah-ubah, dan lain sebagainya. Itu adalah sedikit dari bentuk kekacauan di dunia ini.
Di permukaan sini juga sangat kacau. Hukum dan sebab-akibat seakan dikacaukan dan membuatnya menjadi tidak jelas. Bahkan konsep-konsep seperti kehidupan dan kematian seakan ditulis ulang dengan sangat kacau. Seakan ada penulis bodoh yang menghancurkan sebuah cerita maha karya. Membuat cerita itu menjadi hancur sehancur-hancurnya.
Selain kekacauan, aku juga mulai merasakan keruntuhan alam semesta. Nampaknya alam semesta memilih untuk meruntuhkan dirinya sendiri. Itu adalah pilihan yang sangat bijak daripada kekacauan ini terus dilanjutkan. Jika terus dilanjutkan, kekacauan ini mungkin akan merambat ke alam semesta lain. Untuk itu, alam semesta memilih meruntuhkan dirinya.
Oh iya, alam semesta memiliki semacam sistem atau aturannya sendiri. Ini seperti sesuatu yang mengatur agar segalanya berjalan dengan lancar. Tidak memiliki kecerdasan atau kehidupan namun mampu mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Ibaratmya itu adalah semacam chipset di perlataan elektronik.
Alam semesta yang meruntuhkan dirinya sendiri adalah sebagai bentuk perlindungan terhadap alam semesta lainnya. Karena alam semesta lainnya terhubung satu sama lain dengan sesuatu seperti seutas tali, apa yang terjadi di alam semesta ini bisa saja berdampak ke alam semesta lain. Ini seperti ada banyak komputer saling terhubung dan tiba-tiba ada sebuah komputer terinfeksi virus. Daripada merambat ke komputer lainnya, komputer itu akan lebih memilih untuk keruntuhan diri atau semacam itulah. Atau seperti ada buah busuk di antara buah lainnya, lebih baio membuang buah busuk itu daripada buah lainnya akan terkena dampak. Setidaknya, itulah yang dikatakan oleh Firman.
Brak!
Tiba-tiba, sebuah pedang berwarna putih yang mengeluarkan cahaya hampir menebasku. Di depanku ada Raphael yang memiliki penampilan berbeda daripada sebelumnya. Ia menggunakan mahkota dan bahkan halo malaikatnya lebih seperti lingkaran sihir daripada halo malaikat. Apalagi, ia nampak sangat kuat dibandingkan terakhir kali aku melihatnya. Dia adalah sosok yang berbahaya.
Untungnya, ada dua barier yang melindungiku. Barier pertama adalah milik Zebian dan itu berhasil ditembus dengan mudah layaknya tahu. Barier kedua adalah milik Viani dan itu tetaplah utuh. Ya, ada sebuah retakan cukup besar yang terlihat dan itu membuatku terkejut. Padahal katanya barier Viani adalah pertahanan mutlak terhadap serangan fisik dan lainnya, tapi entah mengapa itu hampir ditembus. Jika tidak ada barier Zebian, aku yakin kepalaku sudah terputus.
Raphael mengambil jarak dan terdiam sesaat. Ia seakan menyadari apa yang terjadi. Benar, alam semesta ini akan hancur. Aku bahkan bisa mengetahui itu. Karena kekacauan yang tidak bisa ditangani, menghancurkan diri adalah satu-satunya opsi. Walau aku tidak terikat dengan kehancuran alam semesta, akan sangat berbahaya untuk tetap di sini.
"Viani, ciptakan gerbang!" teriak Firman memberikan perintah kepada Viani.
"Baik!" jawab Viani yang langsung merapalkan mantra.
Sepertinya menghuhungkan alam semesta satu dengan alam semesta lainnya membutuhkan waktu cukup lama untuk Viani. Aku bisa memaklumi itu dan tidak bisa memprotesnya. Ya, setidaknya aku ingin Viani menciptakan gerbang sebelum alam semesta ini hancur. Apalagi, waktu di alam semesta ini mulai kacau. Masa lalu, masa kini, dan masa depan mulai bertabrakan. Ini seperti sihir Bella, yaitu [In-Time] namun dengan skala alam semesta.
Brak!
"A-apa?" tanyaku terkejut begitu melihat barier Viani hancur berkeping-keping.
Di depanku atau lebih tepatnya lima meter dari wajahku, sebuah pedang berhasil menghancurkan pertahanan mutlak dari Viani. Itu adalah pedang yang ditebas oleh Raphael. Setelah menghancurkan barier, Raphael memasang senyuman yang mengerikan. Aku tidak pernah menyangka kalau malaikat akan memasang senyum seperti itu.
"Mati!" teriak Raphael mulai melayangkan pedangnya ke arahku.
Mataku membelalak melihat pedang melesat dengan kecepatan yang tidak bisa kulihat. Untuk sesaat, aku merasa bersyukur diberikan plot armor yang cukup tebal. Setidaknya, aku sudah selamat dari maut beberapa kali. Mungkin aku tidak akan selamat dari ini jika tidak diberikan plot armor. Setidaknya, aku bisa mengetahui kalau banyak orang yang mencoba menghentikan pedang Raphael.
Eh? Mati? Aku tidak mau itu! Aku bahkan tidak mengetahui kemana diriku setelah mati. Jadi, aku tidak akan mau mati!
Entah mengapa, tiba-tiba segalanya menjadi lambat. Bahkan pedang Raphael yang seharusnya tidak bisa kulihat menjadi sangat lambat hingga aku bisa menghindari itu. Bukan itu saja, aku bahkan bisa melihat partikel cahaya berhenti. Tidak lama kemudian, segalanya menjadi berhenti, termasuk dengan Raphael.
Karena kekacauan waktu, anda berhasil membuka segel kemampuan [Dunia Yang Membeku].
Begitulah yang dikatakan otak keduaku. Jadi, aku sekarang berada di [Dunia Yang Membeku]. Aku tidak tahu kenapa namanya tidak dalam bahasa inggris, tapi aku akan membiarkannya.
Nampaknya, [Dunia Yang Membeku] berbeda dengan [Time Stop]. [Time Stop] hanya memberhentikan waktu, entah itu pada skala bangunan atau alam semesta. Artinya, kita akan bergerak di mana waktu berhenti. Oh iya, [Time Stop] bisa dilakukan jika kau memiliki akselerasi yang sangat cepat. Sedangkan [Dunia Yang Membeku], membekukan alam semesta secara instan. Bukan hanya masa kini, tapi masa lalu dan masa depan juga akan membeku. Ruang-waktu, hukum, konsep, dan lain-lainnya benar-benar beku di sini. Ibaratnya adalah, aku sudah terpisah dari alam semesta namun masih berada di dalamnya.
"Entah mengapa, [Dunia Yang Membeku] itu mirip dengan [Suspended World] dari Tensura, ya."
Tidak ada batasan dalam penggunaan [Dunia Yang Membeku]. Karena waktu sudah membeku atau bahkan bisa dianggap tidak ada, aku tidak perlu khawatir jika kehabisan waktu. Sebenarnya, aku juga memiliki kemampuan [Time Stop]. Tapi melihat kecepatan Raphael yang tidak masuk akal, aku yakin ia bisa bergerak di dalam [Time Stop].
Oh iya, satu hal lagi yang mengejutkanku. Ketika aku menggunakan [Dunia Yang Membeku], aku otomatis menyatu dengan timeline. Bahkan aku bisa berpergian ke waktu yang kuinginkan. Memang aneh mengatakan menyatu dengan timeline tapi terpisah dari alam semesta. Intinya adalah, aku ini hebat.
"Tapi, gimana caranya menonaktifkan ini?"
Apakah anda ingin menghentikan [Dunia Yang Membeku]?
"Kalau kau itu otak keduaku, seharusnya kau sudah tahu pilihanku."
Dimengerti. Menghentikan penggunaan [Dunia Yang Membeku] dijalankan.
Mencairkan kembali ruang-waktu ... Berhasil!
Mencarikan kembali alam semesta ... Berhasil!
Mencairkan kembali objek lainnya ... Berhasil!
Dengan cepat, segalanya berjalan seperti biasa. Raphael menebaskan pedangnya ke tanah dan itu membuatnya terkejut. Ia pastinya tidak mengira diriku berhasil menghindari tebasan yang memiliki kecepatan tidak masuk akal itu. Jika aku tidam membuka kemampuan [Dunia Yang Membeku], sudah dipastikan kalau aku ini mati.
"Ba-bagaimana bisa kau menghindari itu?"
Menciptakan barier dari hasil analisa barier Viani ... Berhasil!
Menciptakan pengurung mutlak yang terpisah dari ruang ... Berhasil!
Apa ingin menerapkannya kepada Archangel King Raphael?
"Tentu saja," jawabku dengan senyuman sombong. "Tebasanmu terasa sangat lambat untukku."
Merilis pengurung mutlak yang terpisah dari ruang dan mengurung individu bernama Raphael ... Berhasil!
"Gate berhasil kuciptakan! Ayo kita pergi dari sini!" Viani menghampiri diriku dan membawaku pergi dari sini.
Raphael tidak sadar kalau dirinya sudah terkurung. Ia hanya bisa terdiam kebingungan mencoba memikirkan apa yang terjadi. Memang mustahil untukku menghindar. Tapi, aku berhasil membekukan dunia, jadi itu tidak masalah.
"Eh? Apa ini? Barier penghalang?"

KAMU SEDANG MEMBACA
Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?
FantasíaSeorang siswa SMA bernama Devan Steviano menjalani kehidupan sekolahnya yang monoton. Ia menyukai kehidupan klise yang ia jalani setiap harinya. Suasana damai adalah yang ia nikmati. Merasakan damai dengan setiap bagian dari tubuhnya. Namun, itu sem...