Obrolan Dimas dan Pak Ismailpun masih berlanjut, waktu yang sudah mau memasuki siang, matahari yang begitu mulai sangat terik sudah terasa.
Dimas yang merasa sangat haru dan sampai meneskan air matanyapun terlihat oleh Pak Ismail.
"Hmmm, Dim kenapa kamu menangis?" Tanya Pak Ismail.
"Hehe, Dimas terharu saja dengan kebaikan Pak Ismail, Dimas merasa seperti mendapatkan sesuatu yang begitu luarbiasa dan sempurna, terimakasih banyak Pak Ismail." Jawab Dimas dengan tersenyum.
"Hehehe, ah kamu bisa saja, eh kapan mau belajar bikin puisi?
"Hehe sekarang saja Pak hehe, bagaimana?"
"Hehe, boleh, tapi da sebenarnyamah tidak ada patokan harus ini itu Dim dalam berkarya mah, yang perlu kamu asah itu, kamu harus mampu membangkitkan imajinasi kamu dan tuangkan dalam tulisan, kamu coba saja, dulu Ayah kamu, dan Pak Ismail sama kaya gitu, sering maen ketempat hening dan sejuk, nah disitulah ide-ide akan terbuka hehe." Ucap Pak Ismail
"Ooooh, begitu ya Pak hehe."
"Iyaaa begitu hehe."
"Terus Dimas harus ngapain hehe." Dimas yang masih kebingungan dengan ucapan Pak Ismail.
"Ya kamu sekarang atau nanti sore, coba maen ke pesisir pantai, apalagi pas matahari tenggelam tuh, nah inspirasi itu selalu ada ketika matahari tenggelam."
"Oooh begitu ya Pak." Dimas yang baru saja sedikit faham dengan menganggukan kepalanya naik turun secara perlahan.
"Iyaa, kamu coba saja, mengarang beberapa tulisan, terus jika sudah banyak dan bagus, nanti Pak Ismail coba kirim ke penerbit, mudah-mudahan bisa di terbitkan dan menjadi sebuah buku puisi yang luar biasa, nah dari situlah nanti kamu bisa mencicipi hasil karya kamu. Tapi ingat!
"Oooh begitu ya, waaah Dimas jadi semakin tertarik hehe, tapi ingat apa Pak Ismail?"
"Kamu harus ingat satu hal, bahwa berkarya itu tidak harus bertujuan untuk mendapatkan uang dan keterkenalan, intinya kamu harus tulus dan jujur, kamu berkarya hanya untuk di nikmati saja oleh setiap orang, itu saja tujuannya."
"Oiyaa Pak siap, baik kalau begitu, nanti Dimas mau maen ke pesisir pantai sore, mau mencoba berimajinasi hehe, jadi semakin semangat nih Pak, terimakasih hehe."
"Iyaaa, sekarang kamu istirahat saja dulu, Pak Ismail juga sama, mau tidur siang dulu hehe, ngantuk, maklum udah tua begini hehe.
"Iya Pak baik, hehe."
Obrolan Dimas dan Pak Ismailpun berakhir, Pak Ismailpun beranjak masuk kedalam rumah untuk beristirahat tidur siang. Berbeda dengan Dimas yang kembali ceria dan semangat, seakan akan ingin segera sore hari dalam pikirannya, karena Dimas sudah tidak sabar ingin mencoba menguarkan ide-ide nya dan dituangkan kedalam buku.
"Daripada aku diem, mending nyiapin dulu buku dan alat tulisnya buat nanti sore, haduuuh sudah tidak sabar ingin segera sore." Ucap Dimas
Dimaspun mulai menyiapkan semua peralatan untuk dibawa kepesisir pantai sore nanti, Dimas yang terlihat kembali menemukan keceriaannya yang asalnya hanya hidup dengan lamunan, kini agak sedikit berubah, seakan kembali kejati dirinya yang dulu selalu ceria dan tangguh serta selalu semangat. Selepas alat yang akan di bawanya siap, Dimas segera membereskan jemuran-jemuran yang sudah mulai kering dan menyimpannya kedalam rumah.
"Haaah, sudah selesai semuanya, sekarang tinggal duduk manis saja menunggu waktu sore hari, karena kalau saya berangkat sekarangpun masih sangat panas." Ucap Dimas sambil terduduk diatas kursi teras depan rumah Pak Ismail.
Matahari mulai tergelincir kearah barat, angit yang berhembus kencang menyejukan suasana, pohon-pohon kelapa yang bergemulai tehempas angin berdansa dengan sangat indah, siang yang telah berubah menjadi sore, Dimaspun bersiap siap untuk bergegas untuk jalan-jalan disore hari kepesisir pantai pasir putih, dengan membawa satu buah buku ditangan kanannya, dan satu buah pensil yang diselipkan di sela telinganya.
"Pak Ismail, Dimas pergi dulu ya ke pesisir pantai, Assalamu'alaikum."
"Oiyaa Dim hati-hati, Wa'alaikumussalam."
Dimaspun mulai berjalan kearah pesisir pantai pasir putih yang indah nan bening air nya, serta ombak yang begitu kecil, membuat setiap orang yang berlabuh disana tidak ingin kembali pulang, karena melihat salah satu panorama lukisan Tuhan yang keindahannya begitu sangat menakjubkan, disebut oleh orang-orang sekita sebagai surganya dunia.
Sesampainya di pesisir pantai Dimaspun terkagum melihat keindahan yang nampak didepan matanya yang membentang sangat luas seraya iapun berkata.
"Subhanallah, Allahuakbar, begitu luasnya samudra ini, serta indah dan terlihat begitu sangat unik dan manja."
Dimas terduduk dan menyenderkan badannya ke batang pohon kelapa, lalu Dimaspun mulai membuka buku serta mengambil pensil yang diselipkannya di telinganya.
"Hehehe, aku akan segera memulai mengarang puisi, dan ini adalah kali pertamaku."
Dimaspun mulai berimajinasi dengan tenang, sembari menikmati hangatnya sinar matahari yang akan segera berpamitan, dan iapun mulai mencoba menulis sebuah puisinya.
Terlihat sejenis sinar cahaya
Yang mampu memadamkan mata
Ketika aku coba memandangnya
Hati dan rasaku berubah seketika
Semilir angin berhembus kencang
Suara deras air dilautan
Keindahannya membuatku lupa
Akan kepedihan dan kesengsaraan
Aku tidak tau keindahan apakah ini
Ia hanya memberi sebuah isyarat
Dan membisikan sebuah janji
Tetapi setelah kutela'ah dengan cermat
Ketika saat itulah
Mulai aku tau dan rasa
Dialah sang penabur cinta
Serta sang pelukis alam semesta
Keindahan lukisannya elok tiada tara
Seraya hatiku berkata
Bahwa tidak akan ada lagi didunia
Yang mampu sepertinya
Wahai engkau sang pelukis senja
Aku rindu dan ingin bertemu
Kendati aku harus hancur
Tetapi itulah persembahan terbaikku
Untukmu.....
Dimaspun berhenti sejenak dan menaruh penanya, menggeletakan penanya diatas bukunya, lalu Dimas memperhatikan kembali sinar senja yang begitu indah dan sangat menakjubkan, bayangannya yang terarsir rapih diatas air laut, membuat hati dan perasaan Dimas terhentak haru, karena seakan ia disadarkan oleh Sang Pencipta, serta bisikan janji yang terdengar murni didalam hatinya.
"Subhanallah ya Rabb, sungguh indah lukisan senjaMu ini, " berkata didalam hatinya, serta tetesan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya dan jatuh kebumi dengan sangat indah dan teratur.
Senja sudah mulai sangat terlihat tipis, sinarnya yang mulai padam, perlahan menghilang berganti dengan kegelapan malam yang masih tergenangi sebuah lembayung bewarna ke orenan.
Tak lama kemudian Dimaspun mulai membereskan dan membawa buku serta penanya, beranjak pergi dari pesisir pantai untuk segera pulang, karena hari sudah mulai gelap, ketika hendak ditengah perjalanan pulang Dimas melihat seorang perempuan yang cantik serta indah, perempuan itu baru saja pulang dari arah pesisir pantai bersama 2 anak kecil perempuan, dipandang tanpa henti oleh Dimas, karena sebuah keindahan yang tak kalah indahnya dari sebuah keindahan lukisan senja yang baru saja ia lihat di tepi pesisir pantai, sehingga membuatnya hati serta pikiran Dimas bertanya-tanya.
**********
KAMU SEDANG MEMBACA
Kupu-Kupu
General FictionUntuk Hanifah. Tercipta sebuah ukiran Yang bersumber dari Tuhan Lekukan serta arsiran Tampak dari sebuah pancaran Yang memberikan keindahan Pesonanya........ Beragam memberikan penghayatan Kepada siapapun yang memandangnya Membawa kerelung ima...
