juu nana.

975 153 10
                                    

"ma, pa, mikir apaan sih hah?? ninggalin airi sendirian di apartemen?? nanti kalo terjadi sesuatu gimana?? mama sama papa sebenernya peduli gak sih sama airi??" haruto menatap kedua orang tuanya secara bergantian

"mama sama papa lupa penyakitnya airi?? kalo dia hilang gimana?? kita lagi gak di jepang ma, pa, kalo airi hilang kita carinya gimana?? ini negara orang!"

airi hanya menonton keluarganya, dia ingin tau apa yang sedang mereka bicarakan, karena namanya sering disebut, tapi sayangnya airi tidak mengerti bahasa yang tengah digunakan

ayah watanabe memutar bola matanya, haruto mulai lagi "shikashi, shōko wa anata no imōto ga genkidearu to iu kotodesu, anata wa tsuneni hitei-tekina kangaedesu!" [tapi buktinya adik kamu baik-baik aja, kamu aja yang selalu negative thinking!].

airi langsung mendekat ke arah ayah watanabe "airi daijōbu? nande airi?" [airi baik-baik aja? memangnya airi kenapa?].

mendengar pertanyaan airi, ibu watanabe segera menangkup kedua pipi putrinya "airi, takoyaki ga hoshī? okāsan ga sore o tsukuru no o tetsudaimashou" ajaknya mengalihkan pertanyaan airi [airi, mau takoyaki? ayo bantu mama bikin].

airi langsung mengangguk riang "okāsan ni kite!" ibu watanabe mengangkat airi kedalam gendongannya "monogoto ni tsuite hanasanaide kudasai, soshite watashi wa anata-tachi ga mō tatakau koto o nozomanai" ujarnya lalu pergi meninggalkan ayah watanabe dan haruto yang terdiam ditempat [ayo ma!] [jangan ngelakuin sesuatu, dan aku gak mau kalian berkelahi]

"mana hanbin? kenapa kamu pulang? kenapa gak sama dia? di usir?" haruto mengepalkan tangannya geram "emang papa tuh yang bikin keluarga ini gak harmonis"

ayah watanabe melipat tangannya didepan dada, menatap putranya dengan remeh "ini keluarga papa, kepala keluarganya papa, kenapa kamu ngomong gitu?"

"nan demo! haruto wa koko o saritai!" ujar haruto sebelum emosinya memuncak, ia segera berlari keluar apartemennya lagi, ia tidak bisa terus berbicara dengan ayahnya jika seperti ini, atau tidak akan terjadi sesuatu nanti

"daijōbu, anata wa machigainaku-go de modotte kurudeshou, anata wa chichioya nashide wa dekinaideshou" gumam ayah watanabe lalu menyusul airi dan ibu watanabe ke arah dapur [oke terserah, kamu pasti kembali nanti, kamu gak akan bisa tanpa papa]

ジジジ

haruto mengusak rambutnya frustasi, kakinya melangkah tak tau arah, mengapa harus seperti ini dengan orang terdekatnya, bahkan keluarganya sendiri

"biarin lah gue gelandangan di negara orang" batin haruto setelah melihat supermarket dengan banyak motor yang terparkir didepannya

haruto berjalan mendekat ke arah supermarket kemudian duduk di sebelah tempat sampah yang sudah cukup penuh

haruto memeluk lututnya, kemudian menenggelamkan wajahnya ditumpukan tangannya

loser hitori tada kodokuna kyosei 
louse kusona hanpasha
just a loser hitori susandeku merodi
soukon kyou no naka no i'm a

shoujiki seken to wa ori awanaisa 
ai nante mono wa wasuretainda 
toki wa nagare sakaraezu 
koreijou kiiterarenai rabu songu

orera wa kainarasareteru yo 
asobasareteru kanashiki piero
aruki tsukarete i'm coming home
mata modoritai kokoro no kokyou 

haruto menghela nafasnya berat, rasanya menyanyi bagus juga menghilangkan kesedihannya, tangannya segera meraih ponselnya untuk memutar lagu, yang cocok dengan kondisinya saat ini

aa itsu kara ka yeah
sora yori jimen no hou wo mitsume oh
iki dekinai hodo 
tsurakute mo sashi dasarenai sukui no te i'm a

loser hitori tada kodokuna kyosei 
douse kusona hanpasha
just a loser hitori susandeku merodi
soukon kyou no naka no i'm a...

"LOSER!" teriak haruto frustasi yang otomatis mengalihkan semua pandangan ke arahnya karena terkejut dengan suara deepnya

seorang pemuda yang baru keluar dari supermarket ikut terkejut, matanya membulat melihat sosok seperti gelandangan yang duduk disebelah tempat sampah, tapi menurutnya terlalu tampan untuk menjadi semacam gelandangan─ ah, kembali serius!

"h-haruto??" jeongwoo, pemuda itu menghampiri haruto yang masih frustasi menyembunyikan wajahnya ditumpukan tangannya

"l-lo kenapa duduk disini? lo kenapa woy? jangan malu-maluin diri lo sendiri ah! ayo bangun!" haruto hanya terdiam, namun ia sedikit terkejut karena yang menghampirinya adalah orang yang ia benci, park jeongwoo

"ah! malu banget ketemu musuh dikondisi gue gini!" batin haruto gusar semakin frustasi

"to, lo kenapa sih?? jangan jadi gelandangan gini, lo mau dikira anak terlantar? anak hilang? anak jalanan? sebatang kara? gak punya tujuan hidup? beban ortu?"

haruto menggeram kesal, apa niat jeongwoo menghampirinya? membuatnya emosi?

"bacot! pergi lo!" bentak haruto, jengwoo yang tidak bisa mendengar jelas suara haruto mendekatkan bibirnya ke arah telinga haruto

"lo kalo mau jadi sadboy gak gini caranya, cari tempat elite gak didepan supermarket duduk disebelah sampah lagi" bisik jeongwoo kemudian menjauhkan wajahnya, tangannya meraih ponselnya untuk mencari tempat bagus di internet

"nah, ternyata ada taman bagus deket sini, tuh cepetan!" ucap jeongwoo sambil menunjukkan ponselnya didepan haruto

sedangkan pemuda tinggi itu tidak peduli, ia masih sibuk pada pikirannya, tapi perkataan jeongwoo benar juga, seharusnya ia mencari tempat yang sedikit bagus untuk menumpahkan kesedihannya

"dimana tuh?" haruto mengangkat kepalanya, jeongwoo yang melihat mata haruto memerah basah terkejut bukan main, karena baru satu hari mengenal haruto, jeongwoo sudah menilai haruto itu tangguh dan berani

"yuk ikut gue, tapi usap dulu air mata lo, cowok apaan nangis? ada sejarahnya haruto si cowok tangguh itu nangis?" sontak jeongwoo membekap mulutnya, mengapa ia menyemangati haruto??

haruto tersenyum simpul "makasih" ucapnya pelan, jeongwoo mengangguk gugup, perlahan jantungnya mulai nakal, berisik tanpa ada sebab

"dimana tempatnya?" jeongwoo mengerjabkan matanya melihat pemuda tinggi dihadapannya "d-disana, ayo gue anter"








.
up! :(
apa kayak gitu? gomen not connect ya? :(
vomment ! :D

♞ϟ - huh? ˓★﹆Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang