── 22

276 45 1
                                    

Bete, super duper bete. Niatnya mau jalan-jalan sore sekalian nonton senja di Taman Banteng malah buyar. Padahal Reksa sudah cape-cape nyetir motor dari Jakarta Selatan ke Jakarta Pusat buat bawa Aruna main. Kalau begini ceritanya, mending dari awal mereka ke Kemayoran. Makan-makan di sekitar Masjid Akbar, itu lebih baik ya daripada harus bertemu nenek lampir yang ternyata pujaan hati Nicholas, sumpah!

Reksa yang memang total bete, selama di jalan benar-benar diam tidak bersuara kala membawa motornya melaju. Kalau Reksa saja masih bisa ingat, apalagi Aruna? Reksa sebegini marah dan sebegini sebalnya kok bisa Aruna biasa-biasa saja padahal Reksa tahu kalau Aruna juga dengar, aneh.

"Sa, ini kita beneran ke Masjid Akbar?" tanya Aruna yang sayangnya tidak mendapat jawaban dari manusia yang memboncengnya.

Tahu kalau Reksa sedang dalam emosinya, Aruna mencondongkan badannya miring ke depan dan menatap wajah Reksa dari samping. Kalau manusia yang ditatap ini, dia langsung merespon dengan menengok sebentar lalu kembali fokus ke jalan.

Apaan sih Aruna? nggak tahu kah kalau dia ini gemes luar biasa? Reksa jadi nggak fokus!

"Sa, kok gue tanya gak dijawab sih?! jawab dong. Emangnya gue lagi ngomong sama patung Kios Itc apa?!" omel Aruna sembari membuka kaca helmnya dan kaca helm milik Reksa. Tapi walau sudah mengomel begitu, Reksa masih tidak merespon sama sekali.

"Dih lo mah ngambekan kaya cewe. Gue aja nggak papa kali, Sa. Kok jadi lo yang marah beneran? nggak inget omongan gue waktu di jalan kemarin?" tanya Aruna lagi.

Memang ya, nyebelin. Aruna benar-benar berasa sedang mengajak bicara patung kios itc, loh!

Akhirnya Aruna nyerah. Pokoknya dia mau diam dulu sampai mereka tiba di tempat tujuan. Habisnya cape juga kalau mengajak ngobrol tapi yang diajak ngobrol malah diam saja dan tidak membalas apa-apa. Mengangguk saja enggak.

Reksa sendiri sebetulnya mau balas, tapi males ah. Nanti saja balasnya kalau sudah sampai.

Jadi ya, dua manusia ini betulan saling diam selama di atas motor. Tapi memang dasarnya Aruna tidak bisa terlalu diam, jadi ada saja tingkahnya. Beberapa kali helm Reksa jadi korban pukul tangan Aruna yang gemas lihat kepala Reksa jadi kelihatan besar. Beberapa kali juga Aruna bersenandung ria dengan suara lumayan kencang untuk terdengar sampai jok depan.

Pokoknya mah ramainya cuma karena Aruna aja. Reksanya masih diam sampai mereka akhirnya tiba di parkiran dekat masjid akbar. Untungnya mereka datangnya sore, jadi sudah banyak warung ataupun tukang yang berjualan makanan di sana.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Baru mau turun dari motor, telfon Aruna berbunyi. Jadilah Aruna turun terburu-buru dan hampir terjatuh kalau saja Reksa tidak menahan tangannya. #terimakasihReksa.

"Bentar-bentar, ada yang telfon gue." kata Aruna memberi sinyal agar Reksa menunggunya menjawab telfon lebih dahulu. Reksa mah nurut-nurut saja. Pokoknya dia masih duduk di jok motor dengan helm yang ia taruh di kaca spion, lalu pandangannya ia fokuskan ke arah Aruna yang baru mau menekan tombol hijau di layar ponselnya.

REKSATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang