Today's Colour

674 47 15
                                    

Komaeda duduk sendirian di pojok ruangan restoran hotel. Dari kejauhan ia memperhatikan teman-temannya yang berkerumun di sekitar HInata, terutama para anak perempuan.

Hari ini Hinata bangun dengan semangat yang tinggi. Rambutnya yang biasanya berwarna coklat gelap hampir mendekati hitam, sekarang rambutnya berubah menjadi seputih salju. Matanya yang seindah batu emerald kini berubah menjadi sewarna batu rubi kelas atas.

Ada perubahan drastis pada penampilan Hinata namun tak ada satupun orang yang membahasnya. Komaeda sudah bertanya pada teman-temannya termasuk Hinata, namun sepertinya mereka semua tak menyadari perubahan fisik tersebut.

".........aneh sekali," komen Komaeda seraya melahap potongan terakhir dari roti bagelnya.

Setelah ini Usami akan mengumpulkan mereka semua untuk melanjutkan kegiatan harian mereka. Pada saat Hinata dalam keadaan primanya, dia bisa membabat habis pekerjaan teman-temannya yang lain. Dalam sekejap tugas harian mereka semua terselesaikan di tangannya.

Seharian penuh Hinata di kejar-kejar oleh sekumpulan anak perempuan, membuat anak laki-laki lainnya cemburu berat, terutama Kazuichi. Komaeda dan yang lainnya hanya bisa menertawakan ocehan dan protes teman mereka yang ahli mengotak-atik mesin itu.

Keesokan harinya penampilan Hinata kembali normal. Dia berjalan masuk kedalam restoran dengan langkah sempoyongan, wajahya terlihat sedikit pucat.

"Ukh....komaeda," ia duduk di seberang Komaeda. Kursi yang paling dekat darinya. "Entah kenapa staminaku terkuras habis. Rasanya seperti badanku hancur berkeping-keping," keluhnya sambil meletakan kepalanya di meja makan.

"..........kemarin kau bekerja terlalu berlebihan," Komaeda mengusap puncak kepala pemuda di depannya dengan perasaan simpati. Belum ada yang menyadari perjuangan Hinata untuk di akui oleh teman-temanya. Dia yang tak bisa mengingat talentanya, sepertinya merasa terbebani oleh dirinya yang tak memiliki title Ultimate.

"Mmm...." Hinata menganguk, masih membiarkan Komaeda menyentuh kepalanya. "Setelah ini apa kau mau meluangkan waktu bersama ku?" tanyanya setelah itu.

"Kau tidak mau istirahat?" tanya Komaeda dengan tatapan tak percaya. Bukannya Hinata terlalu memaksakan dirinya?

"Mana mungkin aku bisa beristirahat," HInata membenahi posisi duduknya dan menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kau ingat? Aku tokoh utama di sini. Kalau aku tidur game ini tidak akan selesai," ocehnya yang terdengar tidak masuk akal.

"Game huh...." gumam Komaeda sambil mengosok dagunya. "Kurasa kita tetap bisa berangkat mengumpulkan barang meskipun kau tidur Hinata-kun," ujarnya lalu tersenyum kecil.

"Selama ada pemainnya. Kita semua masih bisa menjalankan game ini."

Hinata tertawa, untuk suatu alasan ia menganggap perkataan Komaeda lucu. "Jadi? Kau mau mencobanya?" tanyanya dengan senyuman cerah menghiasi wajah manisnya.

Entah kenapa ia menerima tawaran Hinata untuk menjadi tokoh utama atau pemain di dalam game ini. Pekerjaannya kurang lebih adalah mengatur posisi teman-temannya dalam mengumpulkan barang survival, mengangkrabkan diri dengan teman-temannya yang lain, berlari kesana-kemari mengelilingi pulau.

Dan yang lebih penting lagi, dia harus sering berbicara dengan Usami untuk memeriksa level ketertarikan setiap karakter terhadapnya. Pantas saja selama ini Hinata dengan mudah mengetahui siapa yang sangat menyukainya, siapa yang tak begitu menyukainya.

"Ne Usami," Komaeda berjongkok di depan boneka kelinci berwarna pink. "Bisa beritahuku aku. Siapa saat ini yang paling dekat dengan Hinata-kun?" tanyanya dengan sinar mata yang menakuti si kelinci malang.

Bitter Sweet MomentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang