Face

109 18 12
                                    

Dalam Danganronpa hanya ada dua pilihan, mati atau bertahan. Manusia bermuka dua dan manusia berotak licik sudah menjadi teman sehari-hari bagi mereka yang terjebak di sana. Terbangun dalam keadaan ingatan yang berubah begitu pula dengan tempat sekitar. Boneka yang menyebut dirinya kepala sekolah dengan nama Monokuma meminta mereka untuk saling membunuh dengan dalih agar mereka bisa lepas dari kekangan gedung terkunci.

Rantaro mengetuk sandaran kursi yang ia jadikan tumpuan dagu, duduk terbalik pada kursi dari cara duduk yang benar. Menatap gadis di hadapannya kesal lantaran tak dihiraukan. Hari ini tanggal 13 Februari berarti besok adalah hari yang pemuda itu tunggu. [Name] tak ingin meladeni walaupun ia tahu.

"Tidak mau." Rantaro menenggelamkan kepalanya pada sandaran kursi, mencoba mengerti dengan jawaban sang gadis perihal keinginannya. Ia kembali memperhatikan [Name] yang sibuk mengobrol dengan Kaede.

Suara kencang Oma membuat pemuda bersurai hijau itu mengerutkan alis, kesal lantaran terlalu berisik. Ruang makan terdengar berisik karena suara anak-anak yang saling sibuk berdiskusi. Monokuma berseru pada speaker, memberi tahu bahwa jam makan malam telah selesai. Saling melangkah ke arah kamar masing-masing tanpa tahu apa yang akan terjadi esok hari. Gadis itu tersenyum, mengingat bahwa bakatnya belum diketahui oleh siapapun. Ini sangat menguntungkan, ia tak rugi berbohong saat pertama kali bertemu dengan yang lain.

❅❆❅

Ia tertawa, Tsumigi mengikuti. Ini memang rencananya, tapi tak salah bukan jika saling bekerja sama seperti ini? [Name] suka permen, oleh karena itu dia memintanya dari jauh-jauh hari untuk Valentine dan akhir segalanya. Gadis itu tersenyum, lalu melambaikan tangan tanda berpisah dengan perempuan berambut biru dengan kacamata tersebut. [Name] tidak perlu takut rencananya gagal, bakatnya terlalu sempurna malahan. Ia hanya perlu meminta persediaan dan membuat bumbu tambahan dalam racikan terencana. Tsumigi Shirogane menjadi jawaban atas semuanya.

Derap langkah terdengar berirama dalam sunyinya koridor, ia tak perlu takut akan suara yang terdengar hingga kamar lain, semua orang telah tidur karena itulah peraturan yang ada. Mengetuk pintu secara perlahan, menyerukan nama sang pemuda agar ia tahu bahwa sang gadis bukanlah ancaman. Rantaro membukakan pintu lalu tersenyum kala melihat gadis dingin tsundere itu sedang berdiri di hadapannya. Mempersilahkan sang gadis masuk tanpa rasa curiga, [Name] hanya tersenyum malu-malu saat memasuki kamar Rantaro.

Lelaki bermarga Amami tersebut hanya terkekeh lantaran mendengar suara [Name] yang terbata-bata.

"I–ini untukmu!"

Menyodorkan sebuah permen rasa melon pada Rantaro. Situasi yang terkesan lucu tapi tawa tak bisa keluar dari bibir sang pemuda, baginya kejadian [Name] ingin melakukan hal seperti ini adalah hal langkah, hingga diri tidak terpikir darimana gadis itu mendapatkan permen?

Permen diambil oleh Rantaro, "Terima kasih."

[Name] berlari ke arah pintu, "Sayonara." Gadis itu menutup pintu, menghiraukan raut lelaki bersurai hijau yang mengernyit heran.

Rantaro membuka bungkus permen lalu memakannya, menerawang ke langit-langit kamar setelah merebahkan diri pada atas kasur. Bertanya pada diri sendiri tentang ingatan masa lalu, tak banyak yang ia ingat selain hubungan sepasang kekasih antara dia dengan [Name]. Memikirkan bagaimana bisa ia berpacaran dengan [Name] yang pada dasarnya memiliki sifat tak menentu. Kadang gadis tersebut bersikap dingin padanya, kadang pula bersikap begitu pemalu hingga diri mengira bahwa [Name] adalah perempuan yang sangat tsundere. Namun, rasa senang lantaran mendapat perhatian dari pujaan hati membuat Rantaro menepis kuat-kuat pikiran negatif dengan kuat-kuat.

Whivalen ›› Rantaro. A 【✔】Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang