Dua Puluh: Awal dan Akhir

17 3 5
                                    

Menara kecil di mana Lethia dikurung di istana Kitala jauh dari keadaannya di Lapis Lazuli. Tidak banyak yang ada di sana selain sebuah meja dan ranjang. Kesederhanaan yang awalnya asing untuknya, kini perlahan-lahan membuatnya terbiasa. Sumber cahaya menyusup ke dalam ruangan dari sebuah jendela kecil berteralis, membolehkannya untuk menghitung hari. Tanpa tirai bersulam, tanpa karpet kulit harimau. Segalanya terlihat abu-abu dan cokelat.

Tapi bukan semua itu yang membuat hari-hari Lethia terasa menyakitkan. Belum pernah ia merasa keberadaan para dayang di Lapis Lazuli dulu adalah sebuah kemewahan. Ia tidak berani berharap akan keberadaan Aran, karena ia tahu itu hanya akan membuatnya lebih kesepian lagi. Menghitung suara gagak yang bertengger di teralis jendelanya adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan.

Sekali dalam sehari, prajurit datang dan menaruh makanan di atas meja. Yang disuguhkan padanya bukan anggur terbaik dan masakan kerajaan, tapi Lethia puas. Selama mereka tidak melupakan Lethia, apapun yang bisa membuatnya bertahan hidup akan dimakannya. Ia sudah cukup bersyukur seperti itu.

Jika mereka melihat Lethia kini, siapa yang akan menyangka bahwa ia dulu pernah menjadi putri di Assori? Pikiran semacam itu membuat Lethia menyesali dari mana ia dilahirkan.

Satu-satunya pintu yang menghubungkan menara Lethia dengan tangga batu berputar ke istana utama dipalang dengan besi. Deriknya telah familiar, namun tidak dalam waktu seperti ini. Matahari belum tinggi di langit.

Lethia mengepalkan tangannya. Ia mengetahui apa yang akan datang. Dan ketakutan terbesarnya diyakinkan dengan sosok Antares yang muncul di hadapannya. Jenderal itu menatapnya seperti melihat hantu, sebelum menutup pintu di belakangnya. Antares pun mengalihkan pandangannya pada jendela di belakang Lethia, seakan ia mencari keberanian untuk menatap lurus pada Lethia lagi.

Jemari Lethia menyentuh pipinya yang kian tirus. Ia tersenyum miris. Suaranya serak ketika ia berbisik pelan, "Apa kau di sini untuk memenggalku?"

Antares berdiri di tengah ruangan, tegap melawan pertanyaan itu. Namun Lethia tahu dirinya telah membuat jenderal itu terkejut.

"Terkurung di dalam sini tidak membuatku buta akan apa yang sedang terjadi," Lethia berkata. "Aku tahu aku adalah penyebab semua ini. Jika ini adalah keputusan kerajaanmu, maka aku tidak bisa mengelaknya."

Walau ia berkata begitu, Lethia merasakan kakinya lemas setelahnya. Ia bergerak perlahan ke arah meja di sampingnya, bersandar dengan tangan menopangnya. Yang baru ia utarakan adalah kecurigaan terbesarnya, yang ia sadari setelah melarikan diri dari pasukan penyelamat Jenderal Laurent tempo hari. Lethia merasa ia pantas mendapatkannya.

"Jika kau telah mengerti situasinya...."

Antares tidak menentang kata-katanya. Lethia menyalahkan dirinya sendiri karena ia telah berharap sangkalan itu akan datang. Ia mendesah dan menekan pelipisnya. Merosot ke lantai, Lethia tiba-tiba disadarkan dengan takdir yang menunggunya.

Getaran mengerikan merambah ke seluruh tubuhnya. Rasa takut.

"Apa Pangeran Aran menyetujui ini semua?"

"Ia akan berterima kasih padamu. Bukan rahasia lagi sudah sejak lama pangeran kami menginginkan perang. Mereka bilang alasan perang adalah karena dirimu, tapi perebutan kekuasaan tidak pernah disebabkan hal seemosional itu," Antares berkata. "Memenggalmu adalah perintah Baginda, tapi pangeran kami memberikan persetujuannya. Peranmu sudah mencapai akhir."

Lethia bangkit. Tubuhnya bersandar pada dinding, helai-helai rambut menutupi pandangannya dari Antares. Jenderal itu tidak tampak menunggu jawaban dari Lethia.

"Sementara kita bercakap-cakap saat ini, Pangeran sedang mengerahkan seluruh pasukan untuk menguasai Gentieu. Saya ragu Hugues Desmares bisa menahan kekuatan Gondvana. Jikapun pada penyerangan kali ini mereka bisa bertahan, hanya dalam masalah waktu kami bisa menguasai Gentieu. Dan setelah itu, Assori dan Prescia."

Lapis Lazuli (COMPLETE STORY)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang