Yeji melihat ke arah jam dinding yang ada tepat di atasnya, menunjukkan pukul sembilan malam. Yeji menyenderkan badannya ke sandaran kursi kerja yang ia pakai.
Capek.
Hari ini ia harus lembur nyusun laporan, deadline besok pagi. Salah Yeji juga sih, hobinya nunda kerjaan. Jadi ya gini sekalinya numpuk harus lembur sampai malam.
Setelah berkutat dengan laporan-laporan yang bikin pusing ini selama berjam-jam, akhirnya Yeji bisa beranjak dari meja kerjanya dan pulang.
Ia berjalan lunglai menuju halte bus dekat kantor. Perlu menunggu sepuluh menit ia di sana hingga bus terakhir menuju komplek rumahnya datang.
Di dalam bus, ia duduk sendiri. Susananya sepi, mengingat hari juga sudah mulai larut. Hanya ada beberapa penumpang selain Yeji yang ada di bus. Masing-masing sibuk dengan hp yang ada di tangannya.
Yeji juga sama, ia kini tengah menatap layar hpnya. Melanjutkan drama korea yang baru dua episode dia tonton kemaren, dengan earphone yang menyumpal telinganya. Ia sangat fokus dengan tontonan di layar hpnya. Sampai tak peduli dengan bapak tua yang mendengkur keras tepat duduk di depannya.
Butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai di halte komplek rumahnya. Setelah terdengar pemberitahuan bahwa bus sudah sampai di halte tujuan, Yeji melepas earphonenya dan turun dari bus.
Matanya seketika mengerjap.
"Hyunjin?"
Yeji tak menyangka bisa mendapati Hyunjin di halte di malam yang sudah larut ini. Tadi ia cek jam di hpnya, sudah menunjuk pukul 23.01.
Hyunjin hanya tersenyum saat ia dengar panggilan dari Yeji.
Yeji mengerutkan keningnya, "Lo ngapain di sini?"
"Gak boleh?"
"Ya bukan gitu.. Aneh aja lo tiba-tiba ada di sini.. Udah malem gini.."
Hyunjin mengangkat kantong belanjaan berisi dua botol kopi. "Abis beli ginian.." katanya.
Yeji ngangguk-ngangguk, "Ooh.."
Hyunjin mengeluarkan satu botol kopi dan memberikannya pada Yeji, "Nih"
"Hng? Buat gue?" tanya Yeji.
"Iya lah. Emang buat siapa?"
Yeji terkekeh, "Hehe, ya kirain kan.."
Mereka pun jalan berdua masuk ke komplek rumah.
Suasana canggung mendadak menyelimuti mereka berdua. Biasa, kalau Hyunjin dan Yeji dikasih momen berdua kan isinya cuman canggung-canggungan. Apalagi ditambah sekarang Hyunjin yang udah tujuh tahun baru ketemu Yeji lagi.
Tangan Hyunjin meraih lengan Yeji cepat membuat si empunya lengan terkejut.
"Eh apaan Jin?" tanya Yeji.
Hyunjin mengangkat dagunya mengarah ke gerobak sate yang ada di dekat mereka, "Nyate dulu kuy"
Yeji mengernyit, "Malem-malem gini?"
"Kenapa emang? Lu diet?"
Yeji menggeleng cepat, "Hah? Engga"
Hyunjin senyum, "Ya udah ayo nyate dulu.." katanya seraya menarik Yeji menuju tukang sate di komplek rumahnya.
Butuh waktu beberapa menit mereka menunggu sampai pesanan datang. Dua porsi sate ayam beserta lontong dan teh manis hangat. Sederhana tapi mengena.eaaakk wkwk
Masih sama seperti sebelumnya, canggung. Baik Yeji maupun Hyunjin saling diam, hanya fokus pada makanan di depan mereka. Aneh memang dua insan ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
katanya sih, TEMAN | Hwang Yeji ✔
FanfictionYeji, siswa SMA Angkasa biasa mendadak jadi temenan sama tiga cogan modelan fuckboy kaya Jaemin, si anak organisasi kaya Hyunjin dan pangeran Angkasa yakni Jeno. Semua berawal dari satu kejadian diluar dugaan dan merubah image Yeji si anak yang bias...