Bab 4 : Pertikaian

48 23 80
                                    

"Ingatlah, berpandu pada air yang mengikuti arus akan membawa seseorang kian terpuruk. Ini hidupmu, maka segala roda permainan ada ditanganmu."

rasyidahaz12
The End Of Wandering

Ada sebuah kalimat yang Variela tidak suka. Yakni, ikuti saja arus membawaku kemana, karena kamu tidak tahu sampai mana arus membawamu dalam pemberhentian. Bisa jadi, arus itu membawa pada indahnya dunia. Bukankah itu salah? Karena berpandu pada air yang mengikuti arus akan membawa seseorang kian terpuruk. Ini hidupmu, maka segala roda permainan ada ditanganmu. Pikir Variela, hidup seperti air yang mengikuti arus sama saja ingin membawa jiwa pada nerakanya kehidupan. Ini hidup Variela, maka ia harus ikut andil dalam setiap kondisi. Memberantas hal yang tidak ia sukai, dan mempertahankan segala hal yang membuat ia bahagia. Karena takdir siapa yang tahu. Tidak selamanya berpandu pada air berakhir pada pemberhentian laut atau sungai jernih. Bagaimana jika pemberhentian itu menghantarkan Variela pada keruhnya air got. Tidak, hal itu tidak boleh terjadi.

Kini Variela berjalan di samping pria kodok itu. Langkah mereka berdua saling berirama. Variela menatap Kim sambil tersenyum dan membuang pandangnya ke depan dengan wajah licik dan sinis. Setiap mata memandang ke arah Kim dan Variela. Tidak sedikit gelak tawa mengudara bebas hingga mendarat pada pendengaran calon pasangan itu.

Kemudian langkah mereka memasuki restoran. Duduk di bangku sebelah kanan pilihan Kim. Tidak berapa lama pelayan hadir mencatatkan menu pesanan. Lalu berlalu pergi.

"Today you don't smell," ucap Variela tersenyum. (Hari ini kamu tidak bau)

"Because we travel. If at home i wouldn't take a shower," jawab Kim membuat Variela harus tersenyum paksa. (Karena kita bepergian. Kalau dirumah saja aku tidak akan mandi)

"That frog outfit doesn't suit you. Aren't you embarrassed? If you want, after this we will shop to buy your clothes?" tawar Variela. (Baju kodok itu tidak pantas untukmu. Apa kau tidak malu? Jika mau setelah ini kita akan belanja untuk membeli bajumu, gimana?)

"Why? Are you embarrassed to be around me?" tanya Kim dengan wajah datar. (Kenapa? Apa kau malu berada di dekatku?)

Variela menyangkal perkataan Kim. Ia  mengangkat kedua tangan yang saling mengaah ke kanan dan kiri. "Not. Forgive me," ucap Variela memasang wajah sendu. Variela akan menjadi aktor hebat hari ini. Lihat saja nanti.

Semenjak ucapan tadi, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Semuanya sibuk dalam lamunan sendiri. Sampai pelayan hadir, membuat kedua insan itu menoleh. Setelah menyajikan menu, pelayan berlalu pergi.

"Wah, i didn't expect this buldak to be so delicious. How about your tteokbokki, Kim?" tanya Variela sembari memakan buldaknya dengan lahap. (Wah, aku tidak menyangka buldak ini sangat lezat. Bagaimana tteokbokkimu Kim?)

"Very tasty," jawabnya singkat sembari mengaduk-aduk makanannya.

Variela tidak sabar menanti ekspresi Kim setelah memakan makanan itu. "Makanlah, apalagi yang kau tunggu. Rasakan kenikmatannya," batin Variela.

Ya, Kim mulai menerbangkan sendok yang berisi tteokbokki mengarah pada mulutnya. Sudah lima detik Kim melahap makanan itu tanpa merasa kepedasan sedikit pun. Dalam benak Variela bertanya, bagaimana bisa Kim tidak kepedasan dengan makanan itu, sebab tadi Variela menyuruh pelayan secara diam-diam untuk menyajikan pesanan Kim dengan sangat pedas. Apa pelayan tadi tidak mengindahkan perintah Variela?

Variela mulai gusar, takut jika aksinya gagal. Walau begitu, Variela tetap memakan makanannya dengan tenang. Sesekali ia menelik ke arah Kim, memastikan lelaki itu dalam keadaan tidak baik-baik saja.

The End Of WanderingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang