"Kenalin dahulu cintamu itu. Benarkah dia cinta karena sang pencipta atau hanya nafsu yang sekedar bertahta."
rasyidahaz12
The End Of WanderingDi atas kapal pesiar, seorang nakhoda itu tengah dijebak oleh tuturan sang Ayah yang membebankan pikirannya. Zaid tahu, berlama-lama sendiri padahal sudah mampu menikah adalah hal yang kurang baik. Namun, nama perempuan itu tidak pernah pudar di dalam hatinya.
Flashback on
Hendra meletakkan buku berukuran tebal di atas meja ketika Zaid datang ke ruang tamu sembari membawa koper besar. Hari ini ia akan pergi untuk bertugas kembali setelah kepulangannya dari Korea yang tidak membuahkan hasil.
"Zaid, Ayah punya kenalan. Dia punya anak yang masyaAllah sholeha. Gimana, kamu mau kan?" tanya Hendra dengan ekor mata mengikuti pergerakan Zaid yang ikut duduk di sofa sebelah Hendra.
"Maaf Ayah. Pikiran Zaid belum kesana," jawab Zaid.
"Pikiranmu udah kesana. Tapi, kau masih menanti seseorang yang nggak akan mungkin bisa kau miliki lagi Zaid," ujar Hendra sembari melepaskan kaca mata yang bertengger diwajahnya.
Hendra memegang tangan Zaid. Kehangatan tersalurkan disana. "Prinsip nikah itu gimana sih menurutmu nak? Kamu mencintai seorang perempuan dengan kriteria yang sudah kamu tentukan sebelumnya. Dan perempuan itu adalah kriteriamu. Lalu, jika dia tidak mencintaimu, jangan paksakan dia harus jadi milikmu. Itu cinta nafsu namanya. Dulu Ayah memiliki kriteria perempuan yang mampu mendukung dan memberi semangat kepada Ayah untuk berdakwah di seluruh penjuru dunia. Yang mampu membimbing calon mujahid dan mujahidah menjadi penghapal qur'an. Yang mampu menjadikan calon mujahid dan mujahidah menjadi anak yang bertakwa. Dan Ayah mendapatkan Ibumu, yang alhamdulillah dia mampu melakukan itu semua. Dan terbukti dengan adanya kamu dan adikmu yang masyaAllah Ayah banggakan dari segi agama maupun dunia," ujar Hendra.
Zaid masih mencerna perkataan Hendra. "Tapi, terlalu sulit untuk melupakan dia. Zaid hanya ingin dia Ayah," ujar Zaid yang setelahnya mendapat cubitan dari Hendra.
Zaid meringis kesakitan sambil mengusap lengannya yang sakit.
"Naik kamu ke pohon kelapa sana. Masih banyak perempuan yang lebih baik dari dia. Jangan diperbudak oleh cinta. Kamu yang harus mengendalikan cinta. Kasihan cinta, dia itu terlalu suci hingga orang yang yang tidak bertanggungjawab menodai arti cinta."
*Flashback off*
Zaid mengusap wajahnya kasar sambil istighfar. Cinta karena nafsu telah mengekang dirinya. Terperosok di dalam lembah cinta yang fana. Cinta yang mengharuskan dia untuk dapat digenggam. Cinta yang mengharuskan dia jatuh di pelukan. Tanpa sadar Zaid terperangkap oleh cinta yang berselimutkan nafsu. Namun tetap saja, semakin hari Zaid tidak mampu membendung rasa sakit hati dan rindu kepada Variela.
"Harusnya kamu nggak gini Zaid. Astaghfirullah," ucap Zaid memejamkan matanya sedetik lalu kembali terbuka tatkala rekan kerjanya memanggil dirinya.
****
"Tolong! Selamatkan Mama. Tolong!!" teriak Variela meminta bantuan kepada seorang pria berpakaian putih bersih tengah bersandar di pohon kelapa tinggi itu.
Mata Variela terasa mendidih walau tidak merasakan penderitaan itu.
"Tidak ..., ku mohon siapa pun tolong mereka!" teriak Variela menangis sebab tidak ada satu pun orang yang peduli dengan penderitaan yang dialami kedua orangtuanya.
Lahar panas layaknya air terjun turun dengan derasnya mengguyur tubuh kedua orangtuanya. Disana kedua orangtuanya Variela berteriak histeris merasa kesakitan yang luar biasa. Berenang di lahar panas merah dan mematikan.

KAMU SEDANG MEMBACA
The End Of Wandering
Misteri / ThrillerMenceritakan tentang seorang gadis yang menjadi korban dari jiwa tantenya yang sangat tergila-gila dengan Korea. Mulai dari aktris maupun aktornya, drama Korea, boy band dan girl band Korea, dan kehidupan Korea, membuat tantenya berharap gadis yang...