Jadi Senior Tanpa Senioritas

213 17 0
                                    

Nggak diragukan lagi, deh, anak pertama memang sukanya memimpin dan jadi pemimpin. Ya, gimana enggak... Di rumah, bisa jadi dia lebih suka nyuruh-nyuruh adiknya ketimbang ngelakuin hal itu sendiri. Dari hal yang receh macem bukain pintu kalo ada tamu, sampe hal nyuruh beli garem ke warung deket rumah padahal yang disuruh sama si Emak adalah dia.

Ada aja emang alibinya, mana adiknya "iya-iya, aja" kan, jadi makin semangat nyuruh-nyuruhnya🤣 Padahal seperti yang gue bilang, dia sayang, kok, sama adiknya. Jahilnya aja rada keluar batas.

Namun, guys! Dia bisa jadi orang yang berbeda ketika menjadi senior di sekolah, kampus, atau institusi mana pun. Seolah pemimpin yang bijaksana, dia nggak mau menyalah gunakan jabatannya sebagai senior buat menjatuhkan juniornya.

Okelah, dia tegas dan keras. Namun, ada saat dia jadi super ngayomi ke juniornya, dia juga bisa jadi tukang ngademin ketika teman seangkatan lagi ngebully para juniornya, bahkan akan ada saat-saat dia memilih menghindari konflik di mana dia harus melakukan hal kasar ke juniornya.

Apa karena dia nggak bisa? Oh, bukan. Dia bisa banget! Namun, sekali lagi dia itu berhati kucing, guys. Bisa nyakar, tapi mikirnya panjang. Dia ssdar kalo pernah berada di posisi "itu" dan melakukan hal yang sama pada generasi selanjutnya dirasa kurang bijaksana dan nggak solutif. Senioritas yang sembrono bisa terus terulang jika dilakukan terus menerus.

------- Next, deh!🌸 -------

Catatan Random Anak PertamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang