Ancaman melalui pesan singkat semalam ternyata bukan semata bercandaan, kini di saat aku sedang terburu-buru bersiap berangkat ke kampus, mas Danar yang biasanya di hari senin pagi selalu di rumah sakit tempatnya bekerja entah kenapa bisa-bisanya kini berada di apartemen tempatku tinggal.
"Tidur dimana semalam?"
"Solo"
"Tau, di rumah siapa?"
"Kos Rio"
Plukkk
Gumpalan tisu di lemparkan kearahku, yang kini berdandan di hadapannya lebih tepatnya di dapur meja makan.
"Rumah bunda mas"
Akhirnya kuralat perkataanku dengan berusaha tertawa untuk berdamai, karena raut wajah mas Danar sudah tak lagi bersahabat sejak masuk kedalam apartemen.
"Bikinin kopi"
"Mas, Eca ada kuliah habis ini"
"Tamu ini"
"Tamu mana ada masuk tanpa ketuk pintu"
"Udah sana cepet"
Gaya bosy nya selalu saja tak pernah hilang, dari dulu selalu hobi menyuruhku ini itu, tetapi entah kenapa aku bisa saja nurut apa maunya tak seperti Eci yang bisa menolak mentah-mentah perintah mas Danar yang merugikan dirinya.
Gubuatkan kopi instan secepat mungkin, sembari kupakai kerudung yang baru saja kuambil dari almari, kemudian segera kusuguhkan secangkir kopi setelah selesai kuaduk.
"Pakai air dispenser ya?"
"Iya"
"Kembung perutku kalau air dispenser, ganti air rebusan yang mendidih ini kamu saja yang minum"
Ingin rasanya kuguyurkan secangkir kopi panas kewajah manisnya, tetapi sayang kopinya jika kubuang percuma.
Kembali kuseduh kopi instan dengan menggunakan air yang baru saja kumasak hingga mendidih, kemudian kuguhkan di atas meja tempat favorit tamuku ini.
Kutinggalkan mas Danar untuk masuk kedalam kamar, membereskan barang-barangku, kemudian kembali keluar kamar untuk segera berangkat ke kampus.
"Bikinin mie goreng"
"Mas udah mau mulai ini kelasnya Eca"
"Udah cepetan makanya, semakin cepat bikin kamu nggak akan telat"
Akhirnya akupun nurut apa yang diminta mas Danar, hitung-hitung kubayar hutang padanya karena kemarin meninggalkan dirinya di pemberhentian bus.
Seperti biasa, favorit mas Danar yaitu mie goreng tetapi dengan sedikit kuah, irisan cabe rawit serta telur yang di campurkan.
"Kenapa di kasih cabe, mau bikin aku sakit perut?"
Setelah kuhidangkan semangkuk mie favoritnya, mas Danar kembali rewel, yang kurasa tak jadi masalah kini di buat seolah-olah bermasalah.
"Tinggal di sisihin kan bisa mas"
"Kamu dong yang sisihin, siapa suruh pakai cabe"
Emosi sudah di ubun-ubun, bahkan kini kelas akan di mulai tinggal lima menit dan pastinya aku sudah terlambat meskipun saat ini terbang menuju kampus.
"Mas kamu ini kenapa sih, ngajakin berantem?"
"Enggak, baperan deh Eca"
Tanpa banyak bicara kusisihkan irisan cabai di dalam mangkok hingga bersih, terlampau capek fisik dan hati akhirnya aku hanya bisa diam, karena bukan tipeku jika berteriak-teriak ketika melampiaskan kemarahanku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Jodoh Dentist (Tersedia Lengkap Di Ebook)
Storie d'amoreMenikah dengan seseorang yang sejak kecil sudah mengenal diri kita, keluarga besar bahkan mengetahui hal-hal buruk yang kita simpan, bukan lah hal mudah jika pernikahan itu hasil perjodohan yang dipaksakan. Berawal pernikahan yang diharapakan untuk...