Chapter 72. Penjelasan

85 9 1
                                    

Kebenaran memang masih samar, namun aku sudah mengerti sebagian. Apalagi, bukan aku di sini yang mengatur kebenaran dan fakta. Semua kebenaran dan fakta yang ada bisa saja diubah dengan sesuka hati. Karena, eksistensi itu sendirilah yang menciptakan kebeneran dan memegang itu. Alam semesta ini juga baginya adalah kumpulan-kumpulan buku di perpustakannya yang kecil. Tidak peduli ada berapa banyak alam semesta yang lebih tinggi atau bahkan dimensi yang lebih tinggi, itu tetap di bawah diri-Nya. Walau menumpuk dimensi yang lebih tinggi dengan jumlah yang tak terhingga hingga menjadikannya layer tidak terhingga, ia akan tetap menjadi yang tertinggi. Mau bagaimana pun, dirinya sudah Transenden terhadap konsep.

Benar, apa yang aku bicarakan adalah pencipta alam semesta, konsep, dan lain-lainnya. Itu adalah Sang Pencipta dan Penguasa Mutlak dengan kekuasannya dalam mengatur alam semesta sesuka hatinya. Baginya, alam semesta dengan dimensi yang tidak terhingga bukanlah apa-apa, hanya hiburan untuk mengisi kebosanannya. Benar-benar menyebalkan menurutku.

Fakta bahwa di sana ada dimensi yang lebih tinggi dengan jumlah yang diibaratkan seperti sumbu simetri pada lingkaran, membuat siapapun pasti terkejut, terutama untuk iblis. Mereka percaya kalau mereka adalah makhluk tertinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari mereka, kecuali Tuhan dan aku. Kenyataan kalau ada yang lebih tinggi dari mereka dan bahkan itu tidak terhingga tentunya akan mengejutkan mereka semua. Aku juga awalnya terkejut mengetahui fakta itu. Ya, walau aku pernah sedikit menebak kalau ada yang lebih tinggi dari para iblis, tapi tetap saja itu membuatku terkejut.

Padahal, di sini kami hanya sedang membicarakan hal yang ringan-ringan saja sembari meminum teh dan memakan kue. Sepertinya aku sudah salah langkah karena telah mengungkapkan fakta itu. Walau aku tidak mau menyembunyikan apapun, tapi tetap saja sepertinya itu sedikit saja. Itu bahkan merusak suasana yang telah dibangun sedemikian rupa. Entah mengapa, aku menjadi malu ketika menyadari itu.

"Apa maksud anda dengan dimensi yang lebih tinggi yang tidak terhingga?" tanya Bella yang sepertinya bersemangat.

Karena Bella menanyakan itu, aku menjelaskan apa yang dinaksud. Untuk saat ini, aku menemukan eksistensi yang lebih tinggi dari iblis. Itu adalah apa yang disebut dengan Lazuaril yang tinggal di Anterope. Aku memang dapat menganalisa struktu dimensi, tapi aku belum menemukan keberadaan lainnya. Kemungkinan, itu disembunyikan atau ditutupi agar para iblis mempercayai kalau mereka adalah eksistensi yang tertinggi di dimensi yang lebih tinggi lagi.

Jika ingin diibaratkan, struktur dimensi yang lebih tinggi itu mirip seperti dungeon atau labirin yang memiliki lantai tidak terhingga. Setiap lantai terbagi menjadi beberapa bagian dengan jumlah tidak terhingga dan setiap bagian memiliki luas yang tidak terhingga. Itu merepresentasikan tentang jumlah alam semesta ini.

Lalu, ada lantai berikutnya. Eksistensi di lantai bawah tidak akan tahu seperti apa lantai atas itu. Mereka tidak akan pernah bisa ke atas dan sama sekali tidak mengetahui seperti apa lantai atas itu. Mereka yang ada di bawah akan menganggap kalau mereka adalah yang tertinggi dan terkuat di alam semesta. Seperti itulah pengibaratannya.

Sedangkan, eksistensi di lantai bawah menganggap remeh eksistensi di lantai bawah. Mereka bahkan menganggap kalau lantai di bawah mereka hanyalah sekedat buku-buku fiksi dengan berbagai genre di dalamnya. Itu juga hanyalah hiburan bagi mereka yang sedang bosan. Mereka bisa memainkan lantai bawah sesuka hati atau bahkan melenyapkannya. Mereka juga bisa ke lantai bawah layaknya game VRMMORPG. Jika mereka mati, mereka akan kembali ke lantai tempat mereka berada. Benar-benar seperti game saja.

Lalu, ada lagi eksistensi lantai atas di atas lantai atas. Mereka sama seperti eksistensi lantai atas, memandang rendah eksistensi lantai bawah. Mereka menganggap kalau mereka adalah eksistensi tertinggi dan tidak ada.yang lebih tinggi dari mereka. Itu adalah hal yang mereka tahu dan mereka percaya. Padahal, faktanya tidak seperti itu. Ada lantai yang tidak terhingga yang memandang rendah mereka. Sungguh ironi dibalik ironi.

Itu berlaku untuk lantai selanjutnya dan lantai selanjutnya. Mereka yang ada di lantai bawah tidak akan bisa ke lantai atas karena eksistensi mereka tidak menyanggupi. Mereka yang berada di lantai atas bisa ke lantai bawah, namun tidak akan bisa ke lantai atas. Mereka hanya percaya kalau mereka adalah eksistensi tertinggi. Mereka akan percaya kalau ada yang lebih tinggi dari mereka, jika eksistensi lebih tinggi itu menampakan dirinya di depan mereka atau ada seseorang yang memberitahunya.

Itu adalah bagaimana dimensi yang lebih tinggi diibaratkan. Itu diibaratkan dengan lantai dungeon yang tidak terhingga. Menurutku, itu adalah pengibaratan yang paling mudah dimengerti yang bisa kujelaskan. Jika ada yang tidak dimengerti, aku akan lepas tangan. Aku tidak tahu harus menjelaskan apa lagi kalau tidak ada yang mengerti.

"Jadi begitu, ya. Betapa bodohnya kami menganggap diri kami adalah eksistensi tertinggi," ujar Firman menundukan kepalanya.

"Padahal dunia ini luas, kenapa kami tidak menyadari betapa sombongnya kami?" ujar Desi yang juga menundukan kepalanya.

Entah mengapa, suasanya malah menjadi suram begini. Mereka seperti manusia yang menyadari betapa luasnya alam semesta ini. Itu lucu, namun terlalu suram untuk ditertawakan. Aku yang ingin menjadi tertawa jadi tidak bisa. Ya, lagipula mereka sudah menyadari betapa kecilnya mereka. Itu wajar saja menurutku, jadi biarkan saja untuk kali ini.

Penjelasan tambahan, aku dan Tuhan tidak berada di dalam dungeon atau konsep dimensi yang lebih tinggi. Aku dan Tuhan sudah transenden secara konseptual terhadap segalanya yang ada. Aku tidak tahu kenapa aku seperti itu, mungkin karena memang aku seperti itu jadinya seperti itu. Untuk Tuhan, tentu saja ia sudah melampui konsep, karena dirinya sendirilah yang menciptakan konsep. Tidak mungkin baginya tidak melampui apa yang ia ciptakan.

Eh? Tunggu dulu? Bukannya aku ini diciptakan oleh Tuhan? Kenapa aku sejajar?

Itu adalah pertanyaan yang kutanyakan senjak mengetahui kalau diriku yang sebenarnya setara dengan Tuhan. Untuk saat ini, aku akan mengabaikan pertanyaam itu. Aku akan menyerahkannya kepada diriku di masa depan. Ya, mungkin aku di masa lalu sudah memiliki jawabannya. Jadi, biarkan saja. Aku ingin menikmati liburan kali ini. Aku tidak mau kejadian seperti di Hebell.

"Jadi, kalian sudah mengerti apa yang kumaksud, bukan?" tanyaku mencoba memastikan. Jika ada yang tidak mengerti, aku tidak mau menjelaskannya lagi.

Semuanya mengangguk ketika aku menanyakan itu. Sepertinya mereka sudah mengerti apa yang aku jelaskan. Itu bagus karena aku tidak perlu menjelaskan lagi. Ya, walaupun aku tidak akan menjelaskan lagi kalau mereka tidak mengerti. Mereka harus mengerti, begitulah yang kumaksud. Jika tidak mengerti, berarti kau bodoh. Ya, aku juga sebenarnya masih belum begitu paham.

Begitulah penjelasan yang kuberikan kepada mereka. Semoga saja liburan ini berjalan lancar tanpa kejadian yang tidak mengenakan.

Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang