Chapter 14 || Percuma⌛

74 24 41
                                    


Kenapa sih suka banget dihukum?

_________________

"Pekerjaan rumah udah beres, waktunya ke sekolah Aden," ucap Mbok Inem seraya mematikan musik dangdut yang selalu menemaninya. Mulai dari memasak, membersihkan dan merapihkan rumah. Lalu, ia bersiap-siap memakai pakaian yang sopan dan berdandan yang cantik.

"Kalo dipikir-pikir, Inem teh cakep. Tapi kasian Aden kalo Inem nikah, nanti siapa yang jagain?! Masa Den Farel Inem jadiin anak angkat, lancang banget  cuma pembantu, tapi mau angkat anak majikan jadi anak."

Mbok Inem segera mengambil dompetnya yang masih di kamar. "Alhamdulillah masih jam 9," ucap Mbok Inem tersenyum lalu mengambil buku tulis Farel yang tertinggal di meja makan tadi. "Adeeen, I'm coming soon ...."

Saat selesai menggembok pagar rumah, Mbok Inem langsung memanggil ojek yang biasa mangkal di pertigaan kompleks. "Huuy, Abaang buruan kesini," teriak Mbok Inem seraya menepukkan tangannya agar terdengar.

Salah satu dari ojek tersebut menoleh, lalu tersenyum menunjukkan jari jempolnya. "Sip atuh bang,"

Bersamaan dengan itu, prepetan yang berada di sendal mbok Inem lepas, "Yah copot terus daritadi," Karena kesulitan memegangi dompet sekaligus buku, Mbok Inem meletakkan buku tulis milik Farel itu di atas teras bangku-bangkuan depan rumah.

Mbok Inem menundukkan tubuhnya untuk merekatkan sendalnya tadi, "Kayaknya mah besok tambahin lem biru biar prepetnya gak bisa lepas lagi," pikirnya, "Eh kalo dia ga bisa lepas, meuren kaki Inem gak bisa masuk ya? Ih lieur."

"Ayo Bu, mau kemana?" tanya tukang ojek yang tadi Mbok Inem pangggil. Mbok Inem pun, langsung berdiri meninggalkan buku tulis Farel yang masih berada di teras.

"Panggil aja Mbok atuh bang, saya mah pembantu disini, bukan Nyonya."

"Iya maksud saya kan 'Bu' itu panggilan sopan aja," ujar tukang ojek itu menjelaskan maksudnya.

"Hih, si Abang teh keras kepala. Mbok aja!" Mbok Inem pun naik ke motor. "Pantesan, kamu teh ojek baru ya? Ojek yang biasa mah, manggil saya Mbok."

Si Ojek malah dibuat kaku sendiri oleh Mbok Inem, ia hanya tertawa sebagai jawaban. "Antar saya ke sekolah Adhinata ya Bang,"

"Siap Bu-eh Mbok." Mbok Inem tersenyum mengacungkan jempolnya.

Jalan ibu kota cukup lenggang saat ini, memudahkan bang ojek dapat melaju lebih cepat. "Kiri, kiri Bang," ujar Mbok Inem sambil menepuk-nepuk pundak tukang ojeknya.

Saat motor telah berhenti di pinggir jalan, Mbok Inem turun dari motor.

"Ini teh bukannya mobil Den Farel ya?" tanya Mbok Inem sambil memperhatikan mobil jeep wrangler berwarna putih yang terparkir di pinggir jalan. "Bener ini mah mobil Aden,"

"Mbok, mana uangnya?" tanya si tukang ojek.

Mbok Inem yang tengah mengintip bagian dalam mobil lewat kaca itu menoleh, "Hish, saya teh belum selesai, nanti dulu atuh sabar." omel Mbok Inem.

Mbok Inem melirik plang yang bertuliskan Bidan umum, "Si Aden teh ngapain ya, ada di bidan, siapa yang lahiran? Apa jangan-jangan ... Kela-kela, si Aden mah anak baik-baik." ucap Mbok Inem menduga-duga, ia mondar-mandir, kedua matanya berusaha menerobos kaca hitam mobil berwarna putih. "Mobil nya doang warna putih kitu, terang, silau. Tapi, kaca nya mah warna hitam, legam, gimana mau liat atuh ini mah."

Mbok Inem mengetuk-ngetuk kaca mobil itu seraya memanggil-manggil nama Farel. Namun, tak kunjung mendapat balasan.

"Itu mah gak ada orangnya Mbok,"

Freya Anandita || by SfnalifTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang