Raquel’s POV
Tahun ajaran baru datang lebih cepat dari dugaan. Semua yang terjadi dalam enam bulan terlewati begitu saja. Kali ini selama liburan sekolah aku dan Rachelle pergi bersama. Butuh usaha yang keras untuknya membujukku agar pergi bersamanya kali ini. Sesuatu dalam diriku mengatakan kalau kali ini aku harus ikut sehingga akhirnya aku menyetujui ajakannya itu.
Di hari pertama sekolah, beberapa anak sama sekali tidak kukenal satu kelas bersamaku. Sialnya, aku kembali sekelas dengan Gina. Alangkah lebih baik jika aku sekelas dengan Kiara. Dia memang menyebalkan, tapi Kiara masih menjaga image-nya sebagai seorang selebgram. Dia harus jadi seseorang yang bisa dianggap sebagai panutan atau menjadi orang yang dipercaya.
“Apa ibumu sudah memikirkan kuliah untukmu?” Pagi-pagi Rachelle sudah menyapaku dengan pertanyaan konyolnya.
“Hm?” balasku malas, kualihkan pandanganku dari buku.
“Ah, nggak, nggak. Lupain aja. Nanti temenin gua ke club ya.”
“Kenapa nggak bareng gua aja? Maen di rumah gua.”
Rachelle terdiam dan menunduk. Dia bahkan mengerucutkan bibirnya sebagai tanda tidak mau membahasnya lebih lanjut. Sifatnya yang dimanjakan di rumah memang terkadang terbawa hingga sekolah. Sesuatu hal yang sudah mendarah daging memang akan sulit untuk dihilangkan. Rachelle juga terkadang menyadari ini, tapi tidak sekalipun dia merasa menyesal.
Tidak bisa berkata apakah aku sial atau tidak, lagi-lagi aku dipertemukan dengan Laurena dalam kelas yang sama. Kali ini tempat duduk kami berdekatan. Dia terlihat jauh berbeda dari tahun pertama masuk. Anak yang dulu sangat ceria, murah senyum, ramah dan sering menyapa sekarang hanya terus menundukkan kepalanya. Senyumannya juga terkesan lemah dan tidak memiliki cahaya.
“Duh! Ati-ati dong kalo jalan!” omelan dari suara yang asing memasuki pendengaranku ketika kami sedang beristirahat. Mata seluruh anak kelas tertuju kepada sumber suara itu. Tanpa diduga, orang yang diomeli adalah Kiara.
“Gua diem aja loh. Nggak salah omelin orang nih?”
“Ha! Bukannya minta maap malah ngoceh gak jelas. Ngerasa hebat gara-gara jadi selebgram?”
Kiara menatap Gina yang menatapnya balik. “Dari tadi gua udah di sini loh padahal. Mata lu ke mana? Yang laen juga bisa buktiin.”
“Dari tadi gua ngobrol sama Kiara. Jangan halu!”
Anak ini mengeluarkan suara tawa kesal yang ditujukan kepada dua anak itu. Tatapannya berubah menjadi lebih tajam, tapi Kiara tidak terpengaruh akan hal itu. Dia justru menatapnya lebih tajam lagi, ditambah dengan tatapan Gina yang juga sama-sama mematikan. Dengan adanya mereka, kapan aku bisa hidup tenang di kelas? Mereka tidak akan puas jika belum menunjukkan kepada dunia kalau merekalah yang berkuasa di kelas ini, di sekolah ini.
“Gua? Halu?” Tanpa segan anak itu langsung mendorong Kiara agar bisa mendekati Gina. Hal yang menakjubkan terjadi. Beberapa anak laki-laki yang ada di kelas langsung berdiri di hadapannya. “Minggir! Ngapain ikut campur, hah?”
“Lu udah hampir nyakitin Kiara, mending lu diem sebelom gua laporin.”
“Ini gak ada urusannya sama lu pada! Minggir gua bilang!”
Anak itu tidak memiliki niat untuk mengalah. Merasa sudah membosankan, kualihkan pandanganku kepada Rachelle yang beberapa baris di belakangku. Dia terlihat berusaha untuk tidur, tapi tentu keributan yang ada hanya akan membuat kepala terasa pening. Keributan itu terus berlanjut sampai aku menghela napas pelan. Selama beberapa saat aku baru menyadari adanya hal yang janggal. Diamnya Laurena Llyod.

KAMU SEDANG MEMBACA
Scars To Your Beautiful {END}
Teen FictionEveryone has a story that they never tell others, even the closest person Tidak semua orang akan bertahan hidup dengan penuh tekanan, tidak terkecuali mereka. Tuntutan yang dimiliki oleh setiap manusia akan mengubah sikap setiap orang. Keinginan unt...