Aku memang tidak bisa mengikuti apa maumu, bagaimana rasamu, dan entah bagaimana nantinya.
Sekeras apapun caraku untuk menembus jalan berlikumu, aku hanya seorang diri.
Bagaimana caranya berkawan dengan pikiranmu? dimana jalan pintas itu? Aku ingin segera bertemu.
Gerbangmu penuh sekat, harus lewat mana, aku?
Bisakah untuk kau katakan saja apa bahagiamu? atau memang kau ingin memintaku untuk terus memikirkanmu di 24 duniaku?
Entah bagaimana akhirnya?
Pikiranku terus saja berkata sia-sia, lupakanlah.
Aku tetap bersikeras, untuk menunjukkanmu dunia sedeharanaku.
Sesederhana, kau merasakan "tulus" dengan makna sebenarnya.
Mungkin permintaanku terlalu jauh, untuk kita yang tidak pernah menyangka akan terjadi suatu pertemuan.
Hangat, bisa saja, hangatmu hanya sekedar meletakkan tubuhmu di depan api unggun.
Aku tidak pernah mengerti.
Hingga detik ini.
Lelah, untuk ku pecahkan teka-teki yang kau buat, sedang tidak ada satupun kisi-kisi yang kau beri.
Aku memang seorang diri
Nekat untuk memberikan duniaku, beserta seluruh isinya.
Entah nantinya bisa kau jaga, atau hanya sebatas kau nikamti saja.
Aku terima.
YOU ARE READING
Entah Bagaimana Nantinya
PoetryEntah dimana, siapa, bagaimanapun, setidaknya kita pernah saling mengenal.