"To play a wrong note is insignificant, to play without passion is inexcusable."
-Beethoven
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
__________________
[Nara's]
Mengulang di beberapa tahun kebelakang, dimana semua terjadi begitu cepat–mengikuti ritme musik yang ada. Dan dimana sekarang aku berada.
Sebagai seseorang yang bisu.
Lantunan piano terdengar bersahutan ketika kakiku memasuki ruang musik. Melihat cermin, saat itu aku sangat terlampau muda. Sangat muda.
"Nara, inget ya...kalau ada sesuatu yang terjadi. Kalau kamu dibully sama anak-anak disekolah...jangan segan untuk telphon kakak." Kak Areum kayanya sangat cemas dengan keadaan aku sekarang. Dia bahkan tidak henti-hentinya memeluk aku sebelum memutuskan untuk berangkat pergi.
Kebetulan sekolah kak Areum berbeda dengan aku, dia bersekolah di gedung lain. Padahal sebetulnya sekolah aku ini menyatu dengan siswa SMA, tapi entah kenapa mama berfikir untuk membuat penghalang diantara kita berdua. Dia memisahkan sekolah kita.
Aku gapapa kok kak. Aku berucap begitu padanya sebelum memasuki sekolah.
Kak Areum tersenyum sambil melambai, dan itulah hal terakhir yang kami lakukan di hari pertama masuk sekolah bersama, setelah libur panjang menyerang kalender disetiap harinya dalam dua pekan terakhir.
Aku merasa berbeda dengan dia, dan itu di-akui kuat oleh mama yang membuat dinding penghalang diantara kami. Mama seolah terus membedakan kami, itu terlihat lewat matanya. Bahkan aku tau meski dia tidak berucap apapun, dia takut aku sakit hati.
Ah ya...
Sekedar informasi, aku masuk ke dalam sekolah menengah pertama, sedangkan kak Areum naik kelas tiga. Kami berjarak usia dua tahun, tidak terlalu jauh.
Dilorong sekolah, aku menyendiri. Setelah kelas usai tidak ada aktivitas lain, yang sebenarnya aku ingin lakukan dengan teman lainnya. Tapi mungkin harapan itu tidak akan pernah terjadi, mereka membenciku.
Itu karena aku orang yang tuli...bisu...idiot. Aku tau hal itu semenjak aku 'bicara', bahwa aku pernah masuk sekolah disabilitas dulu. Mereka menatapku seolah enggan, dan ini menambah kesan buruk dari aku sendiri, dan lucunya...lewat tatapan itu, mereka sepertinya memang tidak akan menerima seseorang yang cacat sepertiku.