15

248 61 2
                                    

____

Sungguh menyesakkan dalam keadaan seperti ini, keadaan yang membuatnya menjadi orang yang dipojokkan. Ditambah dengan kerinduannya pada Taehyung yang masih belum pecah dala gelembung di dadanya.

Y/n kini tengah menelungkupkan badannya di
atas tempat tidur. Di hadapannya terbuka sebuah laptop dan terpasang modem di pinggirnya.

Mengotak-ngatik laptopnya sedari tadi, membuka-buka google map namun ternyata tak semudah yang ia pikir mencari alamat dengan cara seperti ini.

"Ya ampun. Susah benget si nyari di sini! Aku harus nanya siapa buat tau alamat ini!" Y/n mengacak-ngacak rambutnya kesal.

"Nona. Makan dulu." Suara itu
terdengar dari balik pintu, suara bibi.

Y/n keluar dari kamarnya dengan rambut yang berantakan.

"Ya ampun. Itu kok
rambutnya." Bibi menunjuk
rambut panjang Y/n yang kini berantakan tak beraturan. Selama di meja makan Y/n menatap dengan tatapan kosong. Mengaduk-ngaduk makanannya, memasukkan makanan dengan suapan-suapan kecil. Sesekali
mendengus sebal. Tadi ia sempat mencari tahu tempat Taehyung, keberadaan Taehyung saat ini. Tapi ternyata mencari alamatnya tak semudah yang dibayangkan.

"Taehyung!!!" Y/n menjerit di sela suapannya.

"Ya ampun nona." Kembali bibi
keluar dari dapur, mendengar
teriakan Y/n yang terdengar sangat putus asa.

"Bi... Bibi tau alamat ini tidak?"
Dengan keputusasaannya ia
menunjukkan alamat keberadaan Taehyung sekarang. Tak maksud serius untuk bertanya, hanya iseng berbagi rasa stressnya.

"Oh ini? Pak Choi pasti tau nona, ini kan daerah kampung bibi." Jelas wanita setengah baya itu,Pak Choi adalah suaminya yang bekerja di rumah Y/n juga sebagai supirnya.

"Oh ya?" Mata Y/n terbelalak.

"Mana Pak Choi bi Mana?" Y/n mengguncang-guncang bahu
wanita di hadapannya kini.
Wanita itu tak menjawab, hanya menunjukkan jari telunjuknya ke arah taman belakang.

"Pak Choi!!!" Y/n berteriak setengah berlar ke arah belakang rumahnya.

"Anterin Y/n besok ke
tempat ini. Pak Choi tau kan?"
Tanpa basa-basi Y/n
menunjukkan secarik kertas berisi alamat yang ingin ia tuju.

"Iya nona tau. Tapi agak lupa." Pak Choi menggaruk-garuk
rambutnya yang sudah memutih.

"Pak Choi pasti ingat, Y/n percaya." Y/n memegangi lengan Pak Choi, lalu dengan cepat berlari ke kamarnya hendak membereskan pakaiannya untuk persiapan besok.

Rencananya, sepulang kuliah
Y/n akan segera berangkat menuju tempat itu, tempat dimana ada Taehyung di sana.

Tak banyak Y/n membawa pakaian, karena jatah Taehyung disana hanya 1 malam lagi, jika nanti ia menemukan Taehyung maka ia juga akan menginap selama 1 malam, ikut hingga Taehyung pulang. Satu malam? Ya jika Y/n pergi menemui
Taehyung besok, itu berarti
keesokkan harinya Taehyung bersama rombongan akan pulang.

Kenapa tak menunggu saja?
Entahlah, rasa rindunya yang
membludakmembuat Y/n tak sabar menunggu kedatangan Taehyung.

***

Selama mata kuliah berlangsung, Y/n sangat terlihat semangat dan ceria. Senyumnya kembali mengembang, wajahnya
tak kusut lagi. Sungguh tak sabar menunggu nanti siang untuk segera berangkat menemui Taehyung. Ya, Taehyung, laki-laki yang sangat ia rindukan keberadaannya.
Rencananya ia akan berangkat
pukul 2 siang nanti setelah selesai mengikuti perkuliahan.
Y/n melangkahkan kakinya dengan cepat. Berjalan namun setengah berlari, diliriknya jam tangan ternyata sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Ia bertekad, pukul 2 ia harus segera berangkat, maka ia percepat langkahnya kini agar keberangkatannya terlaksana sesuai rencana. Namun di tengah langkahnya yang sangat ceria.

Innocent ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang