4. Luvyutu Dede Bulan

206 56 1
                                    

Jangan lupa votmen, follow sahdaelsabian, dan share cerita ini ke teman-teman kalian...

Happy Reading ^^

***

Sepulang dari rumah orang tuanya, Bulan menuju ke taman didekat sana. Taman itu adalah taman favorite Bulan karena, di sana lah tempatnya bermain. Tempatnya bermain kejar-kejaran hingga petak umpet dengan Bintang teman kecilnya dulu.

Jika orang tua Bulan ingat dimana kota yang dulu ditempati oleh Bintang, Bulan bertekad akan mencoba mengunjungi dan mencarinya. Namun, naas, orang tua Bulan tak mengingatnya sama sekali. Bahkan, nama lengkap Bintang saja mereka sudah lupa. Sayang sekali....

Bulan mendudukkan diri di bangku kayu panjang yang ada di sana. Ia meletakkan tas ranselnya di atas rumput-rumput kecil yang tumbuh, dan menyandarkan tubuhnya ke pohon besar dibelakangnya.

Menghela napas sejenak, Bulan memejamkan mata, mencoba menikmati keheningan yang baginya adalah surga.

Daun hijau nan bersih jatuh mengenai wajah cantik Bulan. Ia membuka matanya dan tersenyum tipis saat mempunyai suatu ide.

Bulan mengambil tas ranselnya, dan mencari kotak pensil untuk mengambil sebuah bolpoin. Setelah mendapatkan, Bulan langsung menuliskan suatu sajak di daun itu.

———

Lelaki yang hampir sempurna seperti kamu sangat mubadzir jika dijadikan sebagai masa lalu...

———

Bulan menuliskan sajak itu dengan membayangkan seseorang. Bintang teman kecilnya. Memori tentang pesta ulang tahunnya yang ke tujuh seolah terputar dengan sendiri di pikirannya.

"Bintang...." gumam Bulan. Ia mendekap daun itu, seolah daun itu adalah Bintang. Lelaki yang hampir sempurna seperti kamu sangat mubadzir jika dijadikan sebagai masa lalu... batinnya mengulang kata yang ia tuliskan.

Bulan menghela napas. Tak mungkin jika dengan bergumam dan menangis ia akan bertemu Bintangnya kembali. Yang harus ia lakukan hanyalah berusaha dan berdoa.

Setelah memotret sajak di daun itu, Bulan menyimpan kembali ponsel dan tempat pensil yang ia keluarkan. Setelahnya ia berdiri, memandang sejenak suasana tenang yang taman ini ciptakan, lalu meninggalkan tempat itu.

Tanpa Bulan sadari, seseorang ada dibalik pohon besar didekat Bulan, ia mendengar semua yang Bulan ucapkan. Bahkan, raut murung Bulan juga ditangkap retina matanya.

Orang itu menyeringai. Jadi benar tembakannya itu. Hanya kurang memastikan beberapa hal lagi, ia akan langsung melancarkan aksinya.

***

Bulan menggerutu di saat tak ada satupun angkot yang berhenti untuk mengantarkannya ke sekolah. Bahkan, para ojek online pun men-cancel orderan Bulan dengan alasan hujan yang turun sangat lebat.

Memang pagi hari ini ibukota sedang dilanda hujan. Bukan hanya hujan, angin kencang juga melengkapi pagi hari di hari Rabu kali ini.

Bulan merutuki kebodohannya karena kelupaan membawa jaket. Jadilah, ia kedinginan sekarang.

Dari kejauhan, Bintang yang menyetir mobil dengan kecepatan pelan tak sengaja melihat Bulan yang duduk sendirian di halte bus. Ia pun berinisiatif untuk mengajak berangkat sekolah bersama.

Bintang menghentikan mobilnya tepat di depan Bulan. Ia menurunkan kaca mobilnya. "Mau bareng gak?" tawar Bintang sedikit berteriak.

Tanpa berpikir dua kali, Bulan mengangguk dan berlari kecil saat memasuki mobil Bulan.

"Nih, rambut lo basah," ujar Bintang menyodorkan handuk kecil yang ada di mobilnya.

"Thanks." Bulan pun mengusap-usapkan rambutnya yang basah ke handuk itu. Cukup membantu, rambut basah Bulan sudah tak sebasah tadi.

Setelah selesai dengan urusan rambutnya. Kini Bulan mengaca, mencoba melihat penampilannya. Matanya membola. Tadi ia sudah mengeringkan rambutnya, namun, Bulan lupa untuk menyisirnya.

Bintang tertawa saat melihat tatanan rambut Bulan yang acak-acakan. "Gembel!" hujatnya.

"Ck. Lo bawa sisir gak?"

"Ya enggak lah. Gue orangnya gak sok cantik."

"Tapi sok ganteng," cibir Bulan.

Bintang terkekeh dan mengangguk, mengiyakan cibiran Bulan yang sebenarnya sangat tidak betul baginya. Tangannya terulur untuk merapikan rambut Bulan. "Udah rapi."

Bulan tersipu karena perlakuan Bintang tersebut.

·

Mobil yang dikendarai Bintang berhenti tepat di parkiran mobil khusus siswa. Hujan yang sudah mulai reda membuat kedua orang itu berjalan santai saat memasuki koridor.

"Lo tahu gak? Kenapa tinggi lo segini?" tanya Bintang. Ia mengukur tinggi Bulan dan menjajarkannya dengan lengannya.

Bulan menggeleng. "Karena gue kurang minum susu?" tebaknya.

"Enggak."

"Terus?"

"Supaya kalau gue mau ngerangkul lo, jadi gampang." Penerangan singkat dari Bintang itu membuat Bulan mendengus malas. Apalagi saat kini, tangan Bintang sudah mendarat tepat di bahunya, membuat Bulan ingin cepat-cepat menenggelamkan pria itu.

"Nahkan, nyaman lo sama gue?" tanya Bintang. Ia semakin mengeratkan rangkulannya.

Bulan berlagak seperti orang muntah. Walaupun yang diucapkan Bintang sedikit ada benarnya, tapi Bulan tak mau mengakui hal itu. Yang ada tambah PD ntar...

"Udah sampai, Yank," ucap Bintang. Iya, memang mereka sudah sampai di depan kelas Bulan.

Bulan mengangguk. "Thanks."

Bintang ikut mengangguk. Saat melihat Bulan ingin memasuki kelasnya, ia menahan tangan gadis itu dan membalikkan badannya ke arahnya kembali. "Lo gak beli donat Mbak Ika dulu?" ujar Bintang mengingatkan. Mbak Ika adalah warung kantin yang menjual donat kesukaan Bulan.

Bulan menggeleng. "Udah order lewat WhatsApp."

Bintang mengangguk. "Sama jangan lupa satu lagi."

"Apa?" tanya Bulan penasaran. Seingatnya, tidak ada yang Bulan akan lewatkan hari ini.

"Pikirin gue," jawab Bintang dengan cengiran lebar.

Wajah Bulan langsung berubah murung. Ia menatap Bintang sekilas lalu masuk meninggalkan lelaki itu sendirian.

"Semangat belajar, Bulan kesayangan A'a Bintang!"

"Fakyu!"

"AAA.. LUVYU TU DEDE BULAN..."

***

To be continue

Patrick and SabitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang