Sudah Berlalu

15 7 1
                                    

"Di belantara ingatanku, kau serupa nama yang tak kuingat lagi siapa pemiliknya."

______

Dia mendongak ke atas menghentikan langkah yang refleks kuikuti. Aku mendesah pelan. Merapatkan sweter saat angin merayap menelisik di permukaan kulit.

“Bilangin aja dimana lokasi bengkelnya, biar saya yang ambil sendiri.”

“Nggak bisa Mai, setahu karyawan bengkelnya perbaikan mobil itu atas nama saya. Mereka tidak akan mengizinkan siapapun mengambilnya kalau bukan saya. Karena saya ngomongnya begitu sama mereka.”

Sengirannya sengaja dia buat sedemikian rupa kentara sekali agar aku jengkel sekaligus tidak punya pillihan.

“Anda sepertinya sengaja?”

“Nggak baik berburuk sangaka. Maksud saya biar kamu nggak repot.”

Setelah mempertimbangkan akhirnya kuberikan nomor kontakku seperti yang dia inginkan.

Jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 20.37. Sudah malam. Aku harus pulang papa pasti menunggu. Tidak tahu apa Kak Sarah sudah pulang. Kalau restoran tidak terlalu ramai biasanya dia pulang cepat dan menyerahkan sisa pekerjaan pada karyawannya.

Kami tiba di rumah setelah kira-kira 20 menit. Meskipun aku berkeras untuk turun sendiri tetapi dia memaksa untuk mengantarku sampai di depan pintu. Membuatku sangat kesal. Dia mengatakan ingin tahu apa ada yang menungguku.

Saat kutekan bel di pintu yang pertma muncul di hadapa kami adalah Bi Nah, diikuti papa yang duduk di kursi roda tepat di belakang. Aku langsung menyerbu papa mengabaikan dia yang masih mematung. Dengan cepat kuceritakan pada papa apa yang terjadi. Papa tersenyum dan menatap ke arah Akhtar. Ya, terpaksa aku menyebut namanya.

Terkadang hidup memang tidak menyediakan pilihan bahkan untuk urusan seremeh ini.

“Masuk dulu, ayo.” Ajak papa pada akhtar. Di antara garis-garis keriput di wajahnya kulihat ada keceriaan yang tersamar. Terpaksa aku mempersilakan dia masuk. Kami duduk di ruang tamu. Aku dengan kecanggunganku dan dia sikap tenangnya.

Papa memulai obrolan dan dia dengan santun menanggapi. Merasa jengah dengan pembicaraan yang berlangsung aku berpura-pura hendak kebelakang membantu Bi Nah membuat minuman. Kenapa dia tidak cepat minggat saja pikirku. Membuatku kikuk saja. Oh ....

Tiba di dapur Bi Nah benar-benar menyodorkan nampan yang berisi jus buah padaku. Awalnya aku menolak. Tapi menurutnya tuan rumahlah yang harus menyuguhkan itu terkesan lebih sopan.  Begitukah? Oke, baiklah ...

Dengan mimik sedatar mungkin aku berjalan ke arah ruang tamu yang disambut senyum sumringah dua laki-laki berbeda usia itu.

“Terima kasih banyak.”

Dia nyaris berbisik ke telingaku saat aku bersimpuh dan meletakkan gelas di depannya. Kubalas dengan anggukan sungkan. Setelah itu papa memintaku duduk disebelahnya. Obrolan berlanjut kali ini membahas mengenai politik dunia. Ah, membosankan sekali. Rasanya ingin melenyapkan diri ke bawah lantai rumah.

Nyaris satu jam, obrolan sudah ngalor-ngidul. Akhirnya papa berkata, “Sering-seringlah main ke rumah, Nak Akhtar kalau ada waktu. Saya senang di temani ngobrol begini. Sudah tua sudah jarang pergi keluar.”

Dia mengangguk antusias. Senyumnya bertambah lebar. Satu lirikan dia lepaskan padaku. Tapi cukup menganggu konsentrasiku.

Aku mengantarnya sampai ke pekarangan saat dia undur diri. Tapi yang kulihat adalah sosok Ryu. Seperti inilah ketika dia kali pertama bertemu papa. Membuatku kembali merinduknnya.

Izinkan Aku Menjadi  Ibu Untuk Anak-AnakmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang