#RealStory
PART 2 --- Malam Minggu Mina°°°
Ini cerita tiga hari sebelum Mina bunuh diri.
Sore ini sudah keesokan harinya, setelah tadi malam aku tidak bisa tidur karena senyum mengerikan Mina Palsu di pinggir sungai masih terbayang saat aku menutup mata. Sepanjang malam bergulir, hanya diam di balik selimut, pori-pori dan bulu kudukku tegang hingga ke Subuh. Mataku segar dan enggan terpejam semalaman, menatap langit-langit kamar karena tak bisa melupakan apa yang terjadi kemarin sore dengan Mina.
Tanpa sebab dan perintah, merinding meraba sekujur tubuhku hingga menggelitik ke leher. Bahkan aku kerap kali menoleh ke arah jendela, karena kurasa ada yang berdiri dan melotot ke arahku. Pintu yang belum terkunci, seolah ada yang berdiri di sana mengawasiku. Langit-langit kamar yang kurasa ada sesuatu yang hinggap dan memutar kepalanya ke arahku. Sampai ke pintu kamar mandi yang aku takutkan... ada yang tersenyum seperti Mina.
Apa ini paranoid? Aku tidak tahu.
Bahkan aku jadi takut pada selimutku sendiri, dimana aku membayangkan Mina menyusup ke dalam selimut yang ku pakai, kepalanya menyembul keluar dan matanya melotot dari kegelapan selimut.. Rasa ini kudapat justru bukan karena merasa sepi, tapi aku merasa.. ada yang lain di rumah ini. Apapun itu, kurasa tidak hanya satu, tapi ramai. Mereka beraktivitas sepertiku, hanya saja.. tidak terlihat.
Itu memang hanya perasaan dan halusinasi. Baik siang, ataupun malam. Hal itulah yang menyeramkan bagiku. Di mana lagi tempat ternyaman kecuali kamar pribadi? Apa jadinya jika kamar yang paling kita kenal ini, ... dikunjungi makhluk-makhluk yang tak diharapkan kedatangannya? Apa rasanya jika sosok lain masuk ke kamar, namun merubah wujudnya persis menjadi... ibu kita? ayah kita? atau bahkan adik kita?
Tok-tok-tok.
Selayaknya orang hendak kesambet, mataku melotot ke arah pintu. Baru saja aku memikirkan hal yang membuatku parno, setelahnya langsung dijawab suara ketukan.
"Siapa?" Kataku agak ketus.
"Ini Mama, teh."
Kurang ajarnya aku, aku tidak percaya.
"Mama?"
"Iya, Mama buka pintunya ya?"
"I-iya."
Jika kalian tanya anak durhaka mana yang ketakutan dengan pikirannya sendiri dan menganggap ibunya datang malah disangka bukan ibunya? Itu aku. Logisnya, otakku iritasi karena tidak tidur kemarin malam dalam keadaan ketakutan. Alhasil imajinasi seram membayangi pikiranku bahkan pada setiap anggota keluargaku sendiri. Apa kalian pernah seperti ini?
Ibuku masuk dan menaruh beberapa lembar uang di atas meja lampu dan berdiri di tepi kasurku. Aku menarik selimut, menatapnya takut.
"Hari ini, Mama, Papa dan dua adik kamu harus pulang ke Cikarang. Tiba-tiba Papa ada urusan, tapi lusa balik lagi ke sini. Jadi.. kamu jaga rumah, ya?"
JLEB.
"A-apa? Teteh sendirian di sini?" kataku tak terima.
"Iya. Tapi Mama udah minta Mina ke sini."
DEG!
Klap..klap..klap.
Di ambang pintu, muncul Mina. Entah yang asli atau palsu. "Hai, Yunita." Katanya dengan cengengesan khasnya.
Jika kalian melihatku sekarang, aku seperti orang gila yang dijemput keluarga tapi tidak mau pulang dari rumah sakit jiwa. Wajahku pucat, mata was-was dan gelagat tak mau disentuh oleh siapapun.
"Ya udah, berhubung Mina udah datang. Sampai Mama pulang, kamu tidur sama dia, ya? Jajannya udah Mama dobelin. Stok makanan ada di dapur."
Rasanya kakiku gemetar, tapi ingin lari terbirit-birit. Dorongan alami, orang tua mau pergi, aku mengangguk takut, lalu mencium tangannya. "H-hati-hati, Ma."

KAMU SEDANG MEMBACA
Kumpulan Cerita Horor Nyata
HorrorBerisi kisah-kisah nyata para pendaki dan kisah horor lainnya