84. Wendy

72 1 0
                                        


Senja menurunkan bayangnya perlahan di balik jendela besar ruang kerja itu. Aroma kayu tua dan buku-buku menguar pelan dari rak tinggi yang berjajar di sepanjang dinding. Di tengah ruangan, Wendy duduk di kursi kulit hitam, menghadap meja kerja ayahnya yang kosong. Di tangannya tergenggam beberapa lembar dokumen.

Di sana tertulis dua kertas dengan biodata dan foto yang tidak asing: Park Chaeyoung dan Roseanne Park.

Matanya membaca cepat, alisnya sesekali bertaut. Pandangannya tajam, seolah mencoba menembus lapisan kata dan menemukan makna tersembunyi di balik semua ini.

Ketika Wendy tengah fokus pada dokumen di tangannya. Tanpa sadar pintu ruang kerja itu tiba-tiba terbuka. Menampakan sosok pria berbadan tegap dan berisi. Dialah ayah Wendy. Son Chang Wook.

"Wendy"

Suara berat itu terdengar panik. Tuan Son — ayah Wendy, baru saja tiba beberapa menit yang lalu. Jas hitamnya masih rapi, namun keringat terlihat membasahi pelipisnya ketika menyadari bahwa pintu ruang kerjanya tidak terkunci — dan anak perempuannya sedang duduk di sana.

Wendy menoleh perlahan. Senyum tipis mengembang di wajahnya. Namun bukan senyum ramah yang gadis cantik itu tampilkan, melainkan senyum sinis, tajam, penuh tanda tanya yang disengaja.

"Oh Appa? Selamat datang kembali," ucapnya datar, lalu berdiri sambil merapikan berkas-berkas yang baru saja dibacanya.

Tuan Son melangkah masuk, menutup pintu dengan tergesa. Entah apa yang ditakutkannya. Namun Wendy dapat melihat bagaimana ayahnya menatap sekeliling sebelum menutup rapat pintu itu.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanyanya, berusaha terdengar tenang, namun nada suaranya gemetar kesal.

Wendy meletakkan berkas itu di meja. Kali ini ia benar-benar menginginkan penjelasan rinci tanpa kebohongan dari ayahnya.

"Aku hanya membaca sedikit sejarah... yang tampaknya Ayah sembunyikan dengan sangat baik."

Tuan Son terdiam. Matanya bergerak gelisah, melirik ke arah dokumen di meja. Tapi yang membuatnya semakin kaku bukanlah tumpukan kertas itu.

Melainkan arah pandang Wendy yang kini tertuju pada lukisan besar di balik meja kerjanya.

Sebuah potret seorang perempuan, mengenakan gaun putih klasik yang duduk anggun dengan latar taman musim semi. Tatapannya tenang, tapi menyimpan kesedihan. Lukisan itu sudah lama tergantung di sana — namun tidak pernah dibahas oleh Tuan Son dengan Wendy maupun Tifanny.

Wendy melangkah mendekat. Matanya menatap lurus pada lukisan itu. Ada rasa sesak didada gadis itu. Ya tentu saja! Bagaimana tidak? Ayah yang terlihat sangat hangat dengan keluarganya menyimpan lukisan wanita lain alih-alih lukisan Mamanya?

"Siapa dia?" tanyanya pelan, namun setiap katanya terasa seperti pisau yang menusuk.

Tuan Son terdiam. Nafasnya terdengar berat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

"Wendy, keluar dari ruangan ini. Sekarang." ucap Tuan Son mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ayah belum menjawab pertanyaanku." tegas Wendy.

"Itu bukan urusanmu."

Wendy menoleh. Tatapannya tajam, penuh luka yang baru saja menganga. Kemudian tawa sarkaspun keluar dari mulutnya. Membuat Tuan Son terkejut keheranan.

"Sejak kapan seorang anak tidak berhak tahu siapa sebenarnya orang tuanya?"

Tuan Son mundur selangkah. Ia seolah kehilangan kekuatan bicara. Matanya memandang lukisan itu — lalu Widi — seolah di hadapannya berdiri masa lalu yang selama ini ia pendam dalam-dalam.

[✔]POWER of DESTINY | LengkapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang