Wrong Destination 03

507 41 7
                                    


Seorang pria bersurai hitam panjang duduk di depan sebuah meja berlapis kaca. Iris merahnya mengamati pergerakan bidak catur yang di mainkan oleh seorang pemuda berseragam SMA.

Ruangan itu sunyi senyap. Kedua orang itu tidak saling berbicara, hanya berkomunikasi melalui papan berpola kotak-kotak hitam-putih di hadapan mereka.

Ruangan itu khusyuk sampai akhirnya konsentrasi mereka buyar oleh suara nada dering panggilan.

"Izuru senpai. Bukannya kau bilang kau sudah mematikan ponselmu?" tanya remaja itu seraya menatap sewot ke arah pria bersurai hitam yang dengan santainya menyalakan ponsel.

"Aku sudah bukan senpai mu lagi," balas Izuru datar. "Apalagi ini telpon dari saudara iparku," tambahnya membuat remaja di depannya itu ber-oh ria.

"Saudara iparmu huh?" Pemuda itu memainkan ujung rambut bergelombangnya. Lalu diingatnya senpainya yang serba bisa itu punya saudara kembar yang sudah menikah, ia tersenyum jahil. "Komaeda senpai kan? Apa kau akrab dengannya?" tanyanya sambil menahan tawa.

Izuru menatapnya datar. "Kurasa begitu?" jawabnya malas seraya menerima panggilan telepon. Belum sempat ia menyapa orang di seberang sana----Nagito mulai mengoceh tanpa henti.

Izuru menghela nafas lelah. "Bukannya seharusnya kau orang pintar? Aku yakin kau bisa mengatasinya sendiri. Dia istrimu," ujarnya dengan nada monotone khasnya. Walau kata-katanya pedas, raut wajah datarnya tidak pernah berubah.

Selagi menunggu lawan bermain caturnya, remaja itu menikmati kue coklat yang di hidangkan untuknya. Dirinya begitu sibuk dengan makanan manis tersebut, sampai-sampai dia tidak peduli akan isi pembicaraan kedua mantan senpainya.

"Ouma-kun. Apa kau masih perawan?" Sampai tiba-tiba ia dikejutkan oleh pertanyaan kutukan tersebut. Pemuda yang di panggil Ouma itu tersedak dan terbatuk-batuk karena ulahnya.

"Tung--ha!!?" Ouma menganga lebar mendengar pertanyaan sejenis itu keluar dari mulut Izuru. "Kenapa tiba-tiba!!?" serunya yang mulai berkeringat dingin. Bulu kuduknya berdiri----Selama ini yang punya tugas melecehkan orang lain adalah dirinya. Lantas kenapa sekarang Izuru yang mempertanyakan privasi orang lain sambil memasang wajah sedatar tembok!?

"Kau pasti punya pacar kan? Apa dia sudah menandaimu? Lalu apakah kau pernah merasa uring-uringan tanpa alasan yang jelas?" Segudang pertanyaan di berikan semuanya sekaligus pada Ouma Kokichi yang tak berkutik setelah mendengarnya.

"A-apaan sih....." Ouma masih dalam posisi tercengang. Lalu pandangannya menangkap ponsel Izuru yang masih menempel di sebelah telinga pria berpakaian serba hitam tersebut.

"Komaeda senpai. Apa kau mau masuk penjara atas tuntutan pelecehan seksual?" ancam Ouma setelah berhasil merebut ponsel tersebut dari tangan Izuru.

"Apa kau bodoh? Kalau sudah seperti itu kenapa kau masih menunggu heatnya? Apa saja yang kalian lakukan selama ini?" Sekarang giliran Ouma yang mengoceh di telepon.

Izuru hanya diam memperhatikan pemuda itu mulai berkacak pinggang mendengarkan keluh kesah Nagito yang terdengar tidak masuk akal---terutama karena si albino itu sudah menikah lama. Apalagi kenapa pula Izuru harus mendengarkan keluh kesah seksual saudara iparnya?

"....jangan bilang sebenarnya kau impoten?" tanya Ouma sambil memasang wajah jijik sekaligus geram.

"Pfft!!"

Pertanyaan terakhir Ouma berhasil membuat si wajah datar Izuru menahan tawa. Ouma yang melihat reaksi tak terduga tersebut tersenyum miring. "Apa ini seharusnya menjadi sesuatu yang lucu?" tanya pemuda itu membatin.

Bitter Sweet MomentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang