chap. 2 ketulusan

1.4K 170 14
                                    

Mina berdecak kesal, dia kembali melirik jam tangannya. Kini sudah jam setengah dua belas siang tetapi Chaeyoung masih tak mau bangun dari tidurnya.

Sebenarnya Mina tak keberatan Chaeyoung mau bangun di jam brapapun, namun kali ini dirinya harus pergi berbelanja bulanan. Sudah berkali-kali Mina mencoba membangunkan suaminya tetapi yang dia dapat hanya gumamam tak jelas keluar dari mulut Chaeyoung.

Mina tidak mau menyerah begitu saja, kembali dia mencoba membangunkan suaminya ini.

"Ayolah bangun Chaeng!"

"Ck ishhh!" Chaeyoung mengibaskan tangannya meminta Mina tak mengganggunya terus.

"Yaudah aku belanja nih ya, kamu di rumah sendiri gak papa kan?"

"Hmm!" Gertakan Chaeyoung makin meninggi, dia menarik selimut hingga menutup seluruh wajahnya. "Mina berisik!"

Mina mendesah lelah, memang apa tujuannya membangunkan Chaeyoung? Dia hanya ingin suaminya ikut, Mina khawatir jika dia pergi sendiri lalu tiba-tiba Chaeyoung bangun dan mendapati dirinya tidak ada di apartemen maka bagaimana reaksi Chaeyoung.

Mina sudah dapat menebak pasti akan terjadi kekacauan. Bisa saja Chaeyoung mengamuk dan menghancurkan semua yang ada di rumah saat Mina pergi. Mina hanya tak mau semua itu terjadi, tetapi tentu saja Chaeyoung tak akan mengerti sampai sejauh itu.

Mina meraih cardigannya, dia kembali melirik kearah Chaeyoung. Berat rasanya meninggalkan suaminya sendiri, mau bagaimana pun meski Chaeyoung sudah besar tetapi tetap saja dia tak ubahnya masih seperti bocah umur lima tahun yang bisa menangis saat mamanya tak ada didekatnya.

"Chaeng, aku belanja cuman sebentar. Kamu jangan kemana-mana ya dan.. hmm jangan nangis aku tinggal ya. Jadilah anak pintar."

Orang lain mungkin akan tergelak puas mendengar pesan seperti itu, mana ada istri yang mengatakan hal seperti itu pada suaminya. Mana ada? Ada, Minalah orangnya. Memang beginilah rumah tangga yang harus Mina jalani.

Setelah itu Mina bergegas pergi, tak mau menyia-nyiakan banyak waktu lagi. Yang ada di kepalanya hanya harus cepat belanja dan kembali ke rumah sebelum Chaeyoung terbangun. Atau kekacauan akan siap menghampirinya.

.

Mina mendorong troli belanjanya, matanya meneliti berbagai kebutuhan yang sudah ia catat agar tak terlewat sedikit pun. Ini menjadi belanja bulanan pertamanya, sebelumnya semua belanja sudah siap tersedia di apartemen karena mama Chaeyoung sudah menyiapkan semua untuknya. Mama Chaeyoung juga hendak mengirimkan kembali semua itu namun Mina menolak.

Tentu menolak dengan halus agar mertuanya tidak tersinggung. Dengan mengatakan jika 'ingin lebih mandiri' maka mama Chaeyoung sudah bisa memaklumi niat baik menantunya itu. Itu tak masalah, selama menantunya tak menolak uang bulanan dari mereka. Karena memang nyatanya putra mereka pasti tak bisa di andalkan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya dan Mina.

"Eh Mina.." sapa gadis cantik yang juga sedang berbelanja disana.

Mina menoleh dan tersenyum pada gadis itu, dia adalah teman Mina waktu sekolah dulu. Ah tetapi tidak terlalu dekat, bahkan bisa di bilang Mina tak pernah ingat bila mereka pernah dekat karena seingatnya Mina tak pernah punya teman yang benar-benar tulus berniat menjadi temannya.

"Oh hai."

"Apa kabar, Mina?"

"Hm baik, kamu sendiri apa kabar Seohyun?"

"Aku juga baik dong. Belanja sendiri?”

"Ya, seperti yang kamu lihat kan.”

"Yayaya tapi Mina, aku dengar kamu udah nikah ya? Mana suami kamu? Kenapa gak ikut nemenin?" Tanya Seohyun membuat Mina tersenyum kecut. Mina mengenal betul gadis cantik bermulut pedas dan suka menghina ini, dia sudah menduga pasti Seohyun akan bicara macam-macam kepadanya.

So Bad - michaeng (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang