VAMPLIEN (Vampire x Alien)

0 0 0
                                    

Jum’at pagi ini, semua siswa-siswi XI-IPS lagi mengikuti pelajaran PJOK. Pak Suwandi, guru PJOK berpostur tinggi, berisi, dan berwajah khas pria Pecinan (kayak Koh Lay ‘EXO’ dong, hehehe) itu sengaja memisahkan murid cowok dan cewek, khawatir aja kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan.

 Pak Suwandi, guru PJOK berpostur tinggi, berisi, dan berwajah khas pria Pecinan (kayak Koh Lay ‘EXO’ dong, hehehe) itu sengaja memisahkan murid cowok dan cewek, khawatir aja kalau terjadi hal-hal yang nggak diinginkan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


*Nah kayak gini nih tampangnya. Otak author emang hobi travelling maapkeun🙏

(Kok jadi kangen sekarang😭)

Supaya siswa-siswi kebawa suasana olahraga, Pak Suwandi menerangkan materi circuit training sambil berdiri. Siswa-siswi mau nggak mau juga harus berdiri, apalagi belajarnya juga di lapangan, plus beberapa properti yang disediain kalau ada diantara siswa-siswi yang disuruh praktik langsung.

Virzha yang berdiri di tengah-tengah murid cewek agaknya nggak dengerin penjelasan Pak Suwandi, padahal suara guru kepala tiga itu cukup membahana. Urusan Ariel yang curi-curi pandang pas pelajaran Bu Yasmin beberapa waktu sebelumnya memang udah kelar. Giliran mata kucing Virzha yang nggak sengaja tertuju pada Ariel yang berdiri di barisan depan para siswa. Iya, beda sama Ariel. Virzha justru punya bentuk dan garis mata yang persis kayak kucing.

Pak Suwandi sepertinya mencium gelagat Virzha yang tampak jelalatan. Tampak jelas karena Virzha adalah siswi berbadan paling tinggi, diantara mereka yang paling tingginya sejajar pundaknya, atau malah dadanya.

“Iiiii… iiiyyaaa, Pak, iya Pak, iya!” Virzha lagi-lagi gagap. Cewek itu sempat menjerit karena Pak Suwandi langsung maju dan menjewer telinga kanannya. Bisa copot kalau kayak gini!

“Kamu fokus dengerin Bapak apa lihatin anak-anak cowok, ha?” sahutan Pak Suwandi diyakini bikin jantung Virzha berasa ngacir ke Manila.

“eeehh.. eenngg.. saya.. ss..saya dengerin Bapak kok.”

“Tunggu nanti ya!”

Tunggu nanti? Virzha masih nggak ngerti apa maksud Pak Suwandi ngomong kalimat itu. Mau melawan, tapi takut diapa-apain guru itu lagi. Oiya, kan udah janji sama maminya buat nggak ngibul lagi. Lagi-lagi dia bersalah udah melanggar janjinya.

Siswa-siswi memperhatikan beberapa anak cowok yang dipanggil maju praktik pos circuit training lebih dulu. Sebagian mereka hampir payah. Tapi ada juga sih yang bisa mempraktikkannya dengan hasil nggak mengecewakan. Setelah tujuh orang murid jadi kelinci percobaan, giliran murid cewek yang diminta Pak Suwandi buat praktik.

“Nah… Virzha Elvinna Roseline, coba peragakan latihan pos 8, tendang bola ke tembok sepuluh kali!”

Beberapa siswi cekikikan lihat Virzha yang nampak kikuk begitu menerima bola dari Pak Suwandi. Tuh kan! Dia dipanggil maju! Tapi kedongdongannya itu nggak berlangsung lama. Dengan pedenya dia maju ninggalin kerumunan siswa-siswi itu.

“Loh, Pak? Saya kan bukan Ronaldowati?”

“Itu sepak bola, Virzha... Beda sama yang ini,” dengan sabar Pak Suwandi memberi penjelasan.

PLAYMATE [Preview]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang