◇ Die | Park Jihoon (1)

94 12 2
                                    

Tentang dua anak kembar yang bernama Park Jihan dan Park Jihoon. Mereka bagaikan sendal yang tak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan. Mereka sangat dekat bagaikan di lem-in lem Korea semasa bayi oleh ibunya. Tetapi tetap saja, mereka sering bertengkar seperti kaka beradik lainnya.

Dan hei! Jihan merasa sangat bersalah kepada Jihoon, karena ia tidak mengetahui kondisi Jihoon yang sebenarnya.

"Ini hari terakhir aku bareng kamu, Han..."

---

Happy Reading!

< 1. Cough >

Jihan POV

"Jihoon! Jihoon! Main kartrider kuy!" Ajakku seraya merangkul pundaknya. Dia menoleh kearahku dan menggeleng malas. "Mager. Mending ngejailin Junkyu di saung sana. Kamu main kartrider sama bang Hyunsuk aja tuh." Jawabnya seraya menunjuk bang Hyunsuk menggunakan dagunya.

Bang Hyunsuk si tetangga sebelah kami yang sedang duduk dilantai rumahku lagi minum es cendol menatap kami bingung. Tatapan matanya seperti mengatakan, hah? Kenapa? Dimana? Siapa? Apa? Bagaimana? Kapan?

Aku menatap Jihoon kesal kemudian melepas rangkulanku, dan duduk di sofa. "Dih ngambek." Celetuk Jihoon. Aku mengerucutkan bibir kesal kemudian mengulangi celetukkannya. "Dih ngimbik." Cibirku.

Jihoon membelalakkan matanya kesal, kemudian duduk disampingku seraya menggembungkan pipinya.

"Idih apaan sih panda, sok lucu yeu." Ledekku dan masih mengerucutkan bibirku. Jihoon menatapku kesal. Tangannya bersedekap dada. Dia pun mengulangi perkataanku. "Idih ipiin sih pindi, sik lici yii." Cibirnya balik dan mulutnya monyong-monyong.

Bang Hyunsuk menatap aneh kelakuan absurd kami. Dahinya mengernyit. "Kalian berdua sama aja. Sok lucu," ucapnya yang membuat kami berdua tertohok, "eh ga deh. Kalo Jihan mah emang lucu. Lah apaan si Jihoon malah bikin pengen muntah."

Aku tertawa terbahak-bahak, sedangkan Jihoon melotot bang Hyunsuk sebal.

Aku menyeringai kemudian mencubit pipi Jihoon yang gembul. "Ututu panda gemoi sebel." Ledekku sembari menggoyangkan pipinya ke kanan-kiri. Dia berontak dari cubitanku yang membuat bang Hyunsuk tertawa.

"Eh. Abang pulang dulu ya. Mami minta anterin ke PLuto." Ujar bang Hyunsuk yang membuat kami berdua menoleh. "Hah? Pluto? Ngapain ke Pluto, Ncuk? Mau jadi alien, Ncuk?" Tanya Park julid Jihoon. Dasar emang nih anak kalo ngomong ga disaring dulu.

"Halah Jihoon kudet. PLuto tuh nama tempat belanja makanan holkay! Ah kamu mah bukan holkay, makanya ga tau." Jawabku yang membuat Jihoon mendelik kesal. "Emang kamu pernah ke sana hah?!" Tanya Jihoon meledak-ledak. Aku mendengus bangga kemudian menjawab, "pernahlah diajak bang Hyunsuk, HAHAHA."

Bang Hyunsuk tertawa kemudian ia memakai topi chanel-nya.

"Dah ya, abang pergi dulu. Babai." Ucap bang Hyunsuk kemudian keluar dari rumah kami. Aku menatap punggung bang Hyunsuk kemudian menatap Jihoon bergantian. Jihoon menatapku heran kemudian menjitak kepalaku yang tidak bersalah ini.

"Duh! Apaan sih, Hoon!" Seruku kesal.

Jihoon menjulurkan lidahnya, kemudian meledekku dengan ekspresi menyebalkan, "gitu doang sakit yeu. Cemen."

Aku menghela napas panjang kemudian membuangnya kasar.

Capek aku tuh ngeladenin kembaran ga ada akhlak. Ada yang mau gantiin aku?

---

Suara batuk Jihoon membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan melihat Jihoon terbatuk-batuk tiada berhenti. Aku panik melihatnya dan refleks memukul-mukul punggungnya.

"Adoh! Sakit! Ngapain pukul-pukul punggung aku?!" Tanya Jihoon tidak santai.

Mataku terbelalak melihat wajah Jihoon. Bukan! Bukan karena aku terpesona melihat wajah Jihoon! Melainkan aku melihat darah yang keluar dari mulutnya, akibat tadi dia batuk-batuk.

"Ho-hoon! Ada darah ditelapak tangan sama mulut kamu!" Pekikku panik. Jihoon tertegun. Ia menyeka darahnya tergesa-gesa kemudian menyumpal mulutku menggunakan boneka berbentuk bunga yang ia namai Romy.

"Hmph... Ho-hoon! Romy nya bau jigong kamu!" Keluhku tidak jelas karena mulutku tersumpal boneka. "Ssst, jangan berisik, Han. Ntar ibu sama ayah denger." Bisiknya ditelingaku seraya menaruh jarinya didepan boneka.

Aku memutar bola mataku malas, dan akhirnya mengangguk. Ia tersenyum puas kemudian menjauh dariku. Mengubah ekspresinya menjadi imut.

"Ayo main kartrider!" Ajaknya seraya tersenyum lebar, membuat matanya menjadi bulan sabit. Aku mengangguk-angguk saja macam pajangan dimobil. Dia beranjak menuju kamarnya, mengambil ponselnya yang berada dikasur. Meninggalkanku yang duduk disofa seraya menunduk.







"Jihoon sebenernya kenapa? Kok aku sebagai kembarannya ga ngerasain apa-apa? Juga aku ga tau apa-apa?" Batinku sedih.











CAST

Park Jihoon of TREASURE as HIMSELF

Park Jihoon of TREASURE as HIMSELF

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jihoon with Romy 💗






















Park Jihan...

ENGGA ENGGA JADI, YA AMPUN AKU BERDOSAH 😭😭 GA JADIII INI BUKAN JIHAN 😭😭😭 Terserah deh Jihan siapa aja ga usah yang ini 😭😭😭

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


ENGGA ENGGA JADI, YA AMPUN AKU BERDOSAH 😭😭 GA JADIII INI BUKAN JIHAN 😭😭😭 Terserah deh Jihan siapa aja ga usah yang ini 😭😭😭

To be continued...

---

A/n:

Oke! Jadi ini cerpen Jihoon! Semoga suka yaa. Dan ini cerpen yang ada book nya yang lama~

Don't forget to click VOTE and comment! Thank you!

Goodbye Road ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang