Kangen gk sama BinaBul?
Bintang berbohong! Dasar pembohong!
Kemarin ia bilang bahwa akan membebaskan Bulan dari status Babu nya selama 1 hari. Namun, itu hanyalah tipuan semata.
Tadi, Devan memberitahu Bulan bahwa hari ini Bintang tidak masuk sekolah. Kesempatan terbebas dari Bintang hanya sia-sia bagi Bulan.
Bulan berdecak. Menatap buku tebal di depannya tanpa minat sama sekali. Kurang lebih, waktu olimpiade diadakan 10 hari lagi. Tapi semangat belajar Bulan malah kian menurun.
Merasa butuh moodboster, Bulan akhirnya menutup bukunya dan memakan donat yang seharusnya ia makan di rumah. Semenjak kejadian kehabisan donat itu, Bulan selalu memesan donat setiap harinya. Untuk disekolah dan ia sisihkan juga untuk di rumah.
"Bukannya lo tadi udah makan donat ya, Lan?" tanya Caca menarik kursi kosong disebelah Bulan dan mendudukinya.
"Hm... Pingin lagi aja." Bulan kembali menyuapkan donat itu.
"Sehari lo cuma makan donat?"
Bulan menggeleng. "Gue tetep makan nasi, kali."
"Anjir. Bisa-bisanya makan nasi, masih nyemil sebanyak itu lo gak gendut juga." Caca mengeluh. Ia iri dengan tubuh proporsional yang Bulan miliki.
"Gak tahu gue. Gak bisa gendut."
"Makan nasi tiga kali sehari. Lo sehari bisa makan berapa donat?" Caca mulai menghitung. Membandingkan antara porsi makan Bulan dan dirinya serta tubuh keduanya yang berbeda.
"Gue di sekolah selalu makan tiga. Bungkus buat di rumah paling tiga sampai lima," jawab Bulan yang masih asik menikmati donat kesukaannya.
Caca menatap tubuh Bulan dengan takjub. "Lo kayak ada olahraga rutin gitu gak, sih?"
Bulan kembali menggeleng. "Gue olahraga cuman pas ada pelajaran olahraga doang. Selepas itu paling naik turun tangga karena dipanggil dan dimintain tolong guru." Bulan menyodorkan plastik donatnya, menawarkan kepada Caca.
Caca mengangguk paham. Ia mengambil satu donat dengan toping keju dan memakannya. "Jujur gue iri deh, sama bentuk tubuh lo. Gue aja harus pergi ngegym setiap dua minggu sekali."
Bulan tertawa kecil mendengarnya. "Lo tuh gak usah terlalu mikir sama yang begituan. Kalo lo mikir gitu malahan lo berusaha gimana caranya biar lo tetap kurus, malahan bisa sakit juga, kan."
"Gue tuh, bukannya terlalu mikirin atau gimana. Tapi lo tahu sendiri lah gimana endorse an gue... kalo gue gak mikir bentuk tubuh juga bisa-bisa gak laku gue." Bulan baru mengingat hal itu. Caca memang sudah biasa di endorse oleh brand-brand menengah, mengingat jumlah followers di akun oficial Instagramnya, sudah bisa dipastikan jika cewek itu akan memperhatikan sekali oleh apa yang ada ditubuhnya. "Btw, thanks donatnya."
Bulan mengangguk.
***
Hari ini adalah hari turnamen basket diadakan. Kegiatan ini sudah rutin dari tahun ke tahun. Tuan rumah untuk acara ini sendiri adalah SMA Wira Tama.
Sebenarnya, hari ini full tidak ada pelajaran. Namun sekolah menentukan Tidak Boleh bagi siswa yang ingin membolos. Setidaknya jika mereka tak mau menonton turnamen ini di gor besar sekolah yang ada di bagian belakang, mereka bisa membaca di perpustakaan atau bisa mengunjungi stand bazar kecil-kecilan yang ada.
Bulan sendiri sebenarnya malas untuk menyaksikan pertandingan itu. Namun, baru saja Bintang menelponnya. Meminta Bulan untuk menonton. Namun sebelum Bulan dimintai menonton di gor, Bintang meminta Bulan datang ke basecamp basket untuk membantunya sesuatu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Patrick and Sabit
Teenfikce[Follow dulu sebelum membaca] "Fiks, no debat. Lo pacar gue, Bulan Anastasia." "Heh, ngaco ya lo!!!" Bulan Anastasia, gadis cantik yang selama 10 tahun terakhir ini menyibukkan diri untuk mencari sahabat kecilnya. Hingga tak sadar jika sifatnya b...