Papa untuk Amira 4

599 74 2
                                    

Sepasang pengantin, baru saja mengarungi kenikmatan dunia. Dengan tubuh polos berpeluh, Emir memeluk sayang Farah yang kini resmi menjadi istrinya. Ya, walapun Farah memang sudah tidak gadis lagi, itu tidak masalah untuknya. Karena memang pekerjaan Farah menuntutnya, mau tak mau harus mengorbankan sesuatu yang sangat ia jaga.

Farah memejamkan mata karena terlalu kelelahan. Acara pernikahan yang padat, macet saat perjalanan pulang, ditambah lagi harus memenuhi kewajibannya sebagai istri bagi Emir, lelaki yang ia cintai, membuat tubuhnya bagai tak bertulang.

"Mau aku buatkan makanan, Sayang?" bisik   Emir di telinga Farah.

"Tidak, ah. Aku mengantuk." Farah berbalik, memunggungi suaminya. Matanya masih terpejam rapat. Emir tersenyum tipis, lalu mengecup kepala Farah. Ia pun turun dari ranjang pengantinnya, kemudian masuk ke kamar mandi untuk melaksanakan mandi hadas besar.

Emir keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk berwarna biru gelap yang dililitkan di pinggang. Ponsel sang istri sedari tadi berkedip di atas nakas. Ingin ia saja angkat, namun takut dikira lancang. Apalagi urusan Farah sangat banyak. Jadi lebih baik abaikan saja.

Setelah memakai baju kaus tidur dan celana boxer selutut, Emir keluar kamar, berjalan menuju dapur. Masih pukul sembilan malam, tetapi pertarungan sengit dengan istrinya tadi, membuat ia rela membuat makanan malam-malam seperti ini. Roti bakar selai nanas. Ah, tiba-tiba saja dia teringat Parni, wanita yang pernah ia suka, begitu mahir membuat menu Nasi Goreng Nanas. Bahkan menu tersebut masih menjadi menu favorit di warung soto milik ibunya.

Dua gelas kopi susu hangat dan juga empat lembar roti bakar lapis selai tertata rapi di atas nampan. Emir tersenyum, ia membawa nampan masuk ke dalam kamar, dengan maksud membangunkan sang istri untuk makan bersama.

"Yang, bangun! Makan dulu nih," bisiknya lembut di telinga istrinya.

"Mmm ... Makasih, Sayang," ujar Farah dengan suara sedikit serak. Pelan ia membuka mata, karena aroma kopi begitu menggoda. Emir membantu sang istri duduk bersandar di punggung ranjang, mengangkat cangkir dari nampan, lalu ia berikan pada istrinya.

Slurp

"Enak banget," pujinya sambil menatap wajah tampan suaminya.

"Ini juga dimakan, jangan hanya minum kopi saja." Emir memberikan satu lembar roti bakar pada istrinya menggunakan tisu.

Keduanya makan dalam diam, sambil sesekali berbalas senyum. Empat lembar roti bakar habis dilahap, lanjut meneguk habis kopi susu nikmat buatan Emir.

Emir berjalan ke arah meja besar, menyimpan nampan di sana. Farah melirik ponselnya yang terus berkelap-kelip, lalu melihat siapa peneleponnya. Ternyata sang manajer, Daniel.

[Hallo, apa sih? Ganggu aja!]

[Iya, gue tahu. Besok yang penting lo udah rapi di bandara ya. Laki gue mah cincai.]

Farah memutus sambungan teleponnya.

"Siapa yang mau ke bandara? Kita?" Emir bertanya begitu antusias. Apakah ini bagian dari kejutan sang istri untuk dirinya?

"Mmm ... Begini, Yang. Kontrak kerja yang ke Malaysia itu aku ambil," ujar Farah sangat pelan, ia pun tak berani menatap wajah suaminya yang kini pasti berubah merah padam.

"Apa? Kamu jangan bercanda, Far? Kamu udah janji ga ambil kontrak itu'kan?" suara Emir terdengar bergetar menahan emosi.

"Sayang banget, Yang. Riga ratus juta, lho. Aku bisa ganti mobil, kamu juga ...."

"Kamu berbohong padaku, Farah! Kenapa seperti ini?" Emir meremas rambutnya kasar, sebelum menikah beberapa bulan lalu, Farah sudah menceritakan perihal kontrak kerja dengan perusahaan iklan di Malaysia dan tak tanggung-tanggung, ada tiga kontrak yang akan ia tandatangani.

Saat itu, Emir berkeras, akan membatalkan pernikahan jika Farah nekat menandatangani kontrak. Namun sekarang, Emir malah di hadapkan pada kebohongan Farah yang diam-diam menandatangani kontrak kerja di Malaysia.

"Maaf, Sayang. Tidak lama kok, hanya dua bulan," rengek Farah sambil memeluk tubuh Emir yang memunggunginya.

"Aku tidak suka kebohonganmu!" ujar Emir masih dengan nada ketus.

"Kapan kamu harus berangkat?"

"Besok pagi, pesawat jam tujuh, Yang."

"Aku akan menyusul kalau gitu."

"Kamu ga papa aku sibuk. Mungkin aku akan banyak menginap di lokasi syuting."

"Kamu di sini aja, Mas. Baik-baik bekerja, aku di sana juga bekerja kok, bukan liburan. Ya Sayang, ya. Aku minta izin ya?"

"Tega sekali kamu Farah, baru juga kemarin ijab qabul, belum dua puluh empat jam, kamu sudah terbang untuk bekerja. Sudahlah, terserah kamu saja!" Emir bangun dari duduknya, pergi meninggalkan Farah di dalam kamar. Disambarnya ponsel, kunci mobil, dan juga dompet di atas nakas.

"Mas, mau ke mana sudah malam?"

"Jangan tunggu aku. Berangkat saja besok. Aku takkan mengantar!" ketus Emir sambil berlalu dari hadapan Farah.

Bllam

Pintu kamar dibanting dengan keras. Emir keluar rumah dengan mengendarai mobilnya, membelah jalan Ibu Kota Surabaya, sendiri, dengan perasaan kecewa dan kesal yang teramat dalam pada sang istri.

Harus ke mana ia sekarang? Sudah setengah jam berputar-putar terus di jalan raya tanpa tujuan yang jelas. Tak mungkin ia pulang ke rumah mamanya, bisa dicecar habis-habisan nanti. Tiba-tiba, ia teringat Ami dan anak cantik bermata abu-abu. Mobil ia arahkan menuju alamat yang kini ada dalam genggamannya.

****
Ami baru saja selesai menggoreng peyek kacang dan udang rebon, untuk dititipkan di warung besok. Sambil menunggu peyek dingin untuk dimasukkan ke dalam plastik, Ami merapikan alat masaknya. Sudah jam sebelas, Amira sudah terlelap dengan keringat mengucur deras.

Ingin sekali ia membeli kipas angin walau yang kecil, agar Amira tidak tidur kegerahan, namun uang yang ia kumpulkan hanya cukup untuk biaya sewa rumah dan makan sehari-hari. Itu pun hanya bisa dua kali makan dalam sehari. Amira tak pernah merasakan jajanan warung, karena ia tidak punya uang lebih untuk membelikan Amira camilan.

Untung saja, para tetangga kontrakan sangat baik padanya dan juga puterinya. Mereka diperlakukan bagai keluarga, terutama Kamal, lelaki yang membawanya ke tempat ini, begitu baik dan sayang memperlakukan Amira. Betapa beruntungnya ia saat ini.

"Papa." Lagi-lagi panggilan itu yang disebut Amira dalam tidurnya. Betapa anaknya ini ingin sekali memiliki seorang pria dewasa, yang bisa ia panggil papa. Ami mendekat, ia mengayunkan kipas sate, agar Amira tidak kegerahan.

"Maafkan Ibu, ya. Papa tidak pernah menginginkan kita, Nak," lirihnya dengan air mata yang siap tumpah.

Tuk!
Tuk!

"Assalamualaikum."

"Wa'alaykumussalam." Ami bangun dari duduknya, dengan kening berkerut, menggeser gorden rumah untuk melihat siapa tamunya.

"Hah, Tuan!" pekiknya kaget, saat melihat seorang Emir tengah tersenyum di depannya.

****

Sudah bisa ikut PO-nya dari sekarang yaa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sudah bisa ikut PO-nya dari sekarang yaa.😍😍🙏

Calon Pengantin yang DinodaiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang