PRESENT : Twenty Eight.

562 96 19
                                    

"Chris . . ."

Mendengar namanya dipanggil, kedua mata Chan terbuka secara perlahan. Chan yang tertidur dalam keadaan duduk dengan tubuh bagian atas bertopang pada tempat tidur itu berdiam sejenak untuk memastikan bahwa ia benar-benar mendengar namanya dipanggil.

"Chris . . ."

Dua kali. Chan yakin namanya benar-benar dipanggil. Pemuda itu pun dengan segera menegakkan tubuh dan menyahuti panggilan tersebut dengan gumaman khas orang bangun tidur. Chan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku karena tidur dalam posisi tak nyaman selagi mengedarkan pandangan untuk mencari seseorang yang sedari tadi memanggil namanya.

Kedua alis Chan bertaut heran. Ia usap matanya yang masih sedikit berat sebelum kembali memincing untuk menemukan orang lain di dalam ruangan. Namun, ia tak dapat menemukan siapapun.

Chan pikir dirinya masih bermimpi,

"Chris . . ."

tetapi saat namanya kembali dipanggil, ia tahu bahwa ia sudah tidak lagi bermimpi. Di hadapannya, di atas tempat tidur yang semula menjadi tumpuannya, gadisnya, Park Yeeun, terus memanggil namanya. Nama Chan.

"Chris . . ."

Chan tak tahu bahwa setetes air mata jatuh begitu saja saat ia mendekat untuk menggenggam tangan gadisnya dan menyahuti panggilan tersebut, "Aku di sini."

"Chris . . ."

Tangan Chan yang lainnya terulur untuk membelai puncak kepala gadisnya dengan lembut. "Buka matamu, Sayang. Dan lihatlah kalau aku sudah sampai. Aku sudah di sini."

"Chris . . ."

Tetesan air mata lainnya menyusul. Chan kecup kening gadisnya yang tak kunjung membuka mata sebelum beranjak dari tempatnya untuk memanggil dokter.

Dengan sigap, dokter serta para perawat berdatangan. Mereka melakukan tugas untuk memastikan kondisi Yeeun sementara Chan menunggu di luar bersama seluruh keluarga serta Deokmi Ajhumma yang baru kembali usai makan malam.

"Yeeun sudah sadar?" adalah sang ibu yang pertama kali ajukan tanya selagi menghapus sisa jejak air mata yang membasahi putra sulungnya.

Chan menggeleng lemah, "Tapi dia terus memanggilku."

"Mengigau?"

Kali ini Chan beri anggukan kepala yang dibalas hela napas lega oleh sang ibu, "Puji Tuhan, berarti Yeeun sedang tidur sekarang."

"Apa itu artinya baik?"

"Tentu saja. Yeeun berhasil melalui masa komanya lagi. Cepat atau lambat ia akan bangun." jelas Nyonya Bang yang sesaat kemudian mengulurkan kotak makanan pada Chan, "Sekarang kamu makan dulu. Jangan buat Yeeun sedih saat menemuimu dalam keadaan belum makan."

Chan tersenyum kemudian mengangguk dan menerima kotak makanan yang ibunya sodorkan. Ia pun bergerak untuk menempati sisi kursi tunggu yang kosong dimana kedua adiknya mengisi sisi lain yang Chan tempati.

Meski Chan masih merasa cemas dan terus-menerus menatap pintu kamar rawat Yeeun, Chan tetap memakan makanan yang ibunya bawa.

"Hyung," panggil Lucas yang membuat kegiatan mengunyah Chan seperti terhenti hanya untuk menyahuti panggilan adiknya.

"Sejak dulu Yeeun-Noona itu selalu manggil nama Hyung setiap tidur, iyakan?" Chan beri anggukkan singkat dan membiarkan Lucas melanjutkan kalimatnya, "Lucas bingung, kenapa Yeeun-Noona selalu manggil Hyung. Dan karena penasaran waktu itu Lucas nanya sama Yeeun-Noona, terus Hyung tahu enggak Yeeun-Noona jawab apa?"

Stand by Me - Stray Kids FanfictionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang