Selama latihan Kageyama tidak bisa fokus. Tentu saja, dia sedari tadi mengirim pesan dan juga menelpon (Name) berkali-kali, namun hingga latihan selesai pun belum ada balasan satu pun dari (Name).
Malam ini udara entah mengapa terasa dingin menyentuh kulit pria itu. Kini pria itu sudah berada di depan pagar rumah mereka. Tatapannya melihat ke balkon yang ada di lantai dua, lampu kamar mereka menyala. Begitu juga lampu di lantai satu yang menyala. Kageyama berharap (Name) ada di dalam.
Tiba-tiba dering telepon berbunyi, dilihatnya benda layar datar tersebut. Miwa-kakaknya-menelpon, Kageyama menghela napasnya sebelum mengangkat telepon dari Miwa.
"Halo, Onee-chan."
"Kau sudah minta maaf pada (Name)?" tanya Miwa langsung to the point.
"Belum, ini aku baru pulang latihan," jawab Kageyama dengan suara lesu.
"Apa?! Kau begitu polos atau bodoh?! Masih bisa kau latihan di saat seperti ini?!"
Terdengar Miwa yang mengomel dari seberang telepon. Kageyama memijat pelipisnya pelan.
"Kakak kira aku bisa fokus selama latihan?" ujar Kageyama menekan setiap kata.
Terdengar Miwa menghela napasnya, "Kau tau ini adalah salah paham, cepat temui (Name). Tadi sore aku telepon (Name), dia masih saja menangis."
"Iya aku tau, Onee-chan."
Sambungan telepon pun terputus. Kageyama pun memasukkan mobilnya ke garasi rumah mereka. Kageyama berdiri diambang pintu, menguatkan hatinya terlebih dahulu.
Cklek
Iris birunya menyapu seluruh sudut ruang tamu rumahnya, dan menemukan istrinya yang sedang menonton tv. (Name) yang mendengar pintu rumah terbuka pun menoleh dan mendapati Kageyama yang sedang berdiri terpaku di sana dengan jaket hitamnya.
Dilihatnya sebentar dan kembali menonton tv. Kageyama serasa tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri.
"(Name)," panggil Kageyama. Perlahan dia menghampiri (Name) hingga duduk tepat di sampingnya.
"Hmm ... bisa kita bicara? Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini," tutur Kageyama yang hanya dapat menatap istrinya.
(Name) menghela napasnya, mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Kageyama sembari bersender pada salah satu sisi sofa. Kini tatapan (Name) seakan menunggu penjelasan dari Kageyama.
"Dengarkan dulu penjelasanku ya," ucap Kageyama lembut.
"Oke." Kageyama menghela napas panjang sebelum menjelaskan.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar gak sadar kalau dia sengaja melakukannya. Aku hanya tau kalau itu adalah bagian dari pemeriksaan, karena memang gerakannya seperti tidak disengaja ... dia mengukur pinggangku seperti itu, terlihat seperti memeluk dan seperti itu. Ak-" suara Kageyama tercekat ditenggorokannya.
"(Name) ... maaf kalau penjelasanku tidak menjelaskan apa pun. Intinya ... aku gak seperti yang kau pikirkan tadi, aku benar-benar gak sadar. Percayalah padaku, (Name)."
Kageyama mendekat, meraih tangan (Name) dan digenggamnya erat-erat. "Kau boleh marah, teriak atau memukulku juga tidak apa-apa. Tapi jangan diam seperti ini, aku gak bisa. Bicara padaku, kumohon. Kau tau sekhawatir apa aku padamu? Pesan dan teleponku tidak dibalas. Aku sampai gak fokus latihan. Aku-"
Kageyama menunduk, menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya untuk tidak terbawa emosi.
"Maaf," gumam (Name) menundukkan kepalanya.
Kageyama sontak mengangkat kepalanya.
"Maaf kalau aku tadi berkata kasar padamu. Aku tidak bisa menahan amarahku. Maaf ... Tobio-kun," (Name) mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan Kageyama.
Kageyama dapat melihat bahwa (Name) menangis. Seketika hatinya berdenyut sakit, dia telah membuat (Name) menangis. Pria macam apa dirinya.
Kageyama menarik (Name) ke dalam pelukannya, mendekap istrinya dengan erat. (Name) menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya, menumpahkan segala kekesalan yang sedari tadi ditahannya. Kageyama berusaha tidak menangis, dia harus tegar. Dielusnya rambut hitam milik (Name).
"Syukurlah kau sampai rumah dengan selamat. Maafkan aku (Name). Kau tidak perlu minta maaf padaku. Aku yang salah." Kageyama berucap tepat di telinga (Name).
Suara isakan (Name) terdengar jelas di telinga Kageyama. Pria itu semakin mengeratkan pelakukannya serta menenggelamkan wajahnya di pundak (Name).
"A-aku k-k-kesal," ucap (Name) sesegukan.
"Iya aku paham."
"A-ku gak sukaaa." (Name) memukul dada Kageyama sambil terisak.
"Aku yang salah, maafin aku ya, honey."
Pria itu membiarkan (Name) melampiaskan kekesalan pada dirinya. Saat dirasa (Name) sudah tenang, pria itu melonggarkan pelukannya. Dilihatnya mata (Name) yang sembab. Dikecupnya kedua mata istrinya lembut.
"Jangan nangis lagi."
Kedua ibu jarinya mengusap bekas air mata di pipi (Name). Mata keduanya bertemu beberapa saat.
"Boleh aku ... menciummu?" tanya pria itu dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Gak boleh," jawab (Name) singkat.
"Kenapa? Kau ... masih marah denganku?" tanya Kageyama ragu.
(Name) menangkup wajah Kageyama, "Karena, aku akan menghukumu."
Cup
Tindakan cepat (Name) membuat Kageyama sedikit terkejut. (Name) mendorong tubuh Kageyama bersandar di sofa, kini dirinya sudah berada di atas pangkuan Kageyama. Wanita itu menyesap bibir Kageyama dengan kuat. Mengubah posisi kepala mereka, dari kiri ke kanan, semakin memperdalam ciuman mereka. Napas keduanya memburu, decapan demi decapan memenuhi ruangan tersebut. Sesekali (Name) dengan sengaja menggigit bibir bawah Kageyama, membuat Kageyama sedikit meringis. Kageyama pun membalasnya dengan lembut, membiarkan istrinya yang memimpin.
Sekitar lima menit berlalu, (Name) menyudahi hukumannya. Keduanya sama-sama mengatur napasnya, menghirup udara sehabis aktivitas liar mereka. Tangan (Name) mengusap bibir Kageyama yang basah, membersihkan sisa saliva di sana.
"Itu hukuman untukmu," ucap (Name) pelan.
Kageyama mengulas senyum dan berkata, "I love you, honey."
"Maaf," lanjutnya.
"Jangan meminta maaf terus. Aku sudah memaafkanmu."
Dibawanya (Name) ke dalam pelukannya. Rasanya Kageyama sangat beruntung dicintai oleh (Name). Tangannya menepuk-nepuk punggung istri tercintanya, memberikan rasa tenang di sana. Seakan mengatakan 'aku beruntung dicintai olehmu'.
Saking heningnya, (Name) dapat mendengar detak jantung Kageyama yang teratur. Dirinya semakin mempererat pelukannya, tidak membiarkan Kageyama melepasnya sedetik pun. Degupan jantung serta helaan napas Kageyama yang teratur, membuat (Name) mengantuk. Perlahan, matanya terasa berat. Kantuk mulai menghampirinya. Membiarkan dirinya tertidur dalam pelukan suaminya.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Kageyama baru menyadari (Name) yang sudah tertidur. Pria itu dengan perlahan menggendong tubuh (Name) ala bridal style menuju kamar mereka. Diturunkannya tubuh (Name) dengan perlahan, menyelimuti wanita itu hingga menutupi dadanya.
"I love you ... Kageyama (Name)."
Dikecupnya kening (Name) sebelum dia pergi untuk mandi dan membereskan barang-barangnya.
***
See you next chapter!
#skrind🦊

KAMU SEDANG MEMBACA
Become His Wife? | Kageyama Tobio X Reader
Fanfiction(Full name) kini sudah memiliki marga baru? Ini bukan mimpi, kan? -kageyama tobio x reader- Complete : 14 Juni 2021