Happy Reading🍯
.
.
."Aku mencintaimu. Sangat." bisik Mew dengan intonasi yang tulus, sangat disayangkan mungkin Gulf tidak mendengarnya, namun Mew percaya ucapan yang Ia katakan barusan tersampaikan.
•••
Pagi sudah menjemput, walaupun sinar matahari tidak dapat masuk kedalam ventilasi kamar milik Gulf namun kini kedua mata Gulf mengerjap tidak nyaman.Ia membuka kedua matanya perlahan.
Buram. Kemungkinan matanya membengkak akibat menangis kemarin. Ia masih mengingat jelas apa yang terjadi padanya kemarin, Ia takut. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, tidak ada siapapun hanya Ia sendiri, Ia juga menyadari bahwa Ia telah berpakaian lengkap, satu-satunya yang terlintas dipikirannya adalah MewIa mengambil posisi duduk lalu menutup wajah indahnya menggunakan kedua tangannya mencoba menghilangkan pikiran dan perasaan takut yang Ia rasakan pada malam itu. Jika benar Mew yang telah mengganti pakaiannya dan mencegah aksi Bright kemarin malam Gulf hanya ingin Ia berada disini sekarang.
•••
Mew baru saja keluar untuk berganti pakaian, karena semalaman Ia tepat berada di samping Gulf, memandangi wajah Gulf yang sangat damai ketika tidur lalu membawakan sarapan untuk Gulf di pagi ini, Ia meminta Eye untuk menyerahkan sarapan kepada dirinya karena Ia ingin berada di samping Gulf hari ini. Ia bersumpah tidak akan meninggalkan Gulf dalam keadaan memprihatinkan seperti kemarin.
Mew berjalan santai menuju kamar milik Gulf sesekali Ia melirik makanan yang berada tepat di atas nampan untuk memastikan makanan tersebut masih hangat.
"TIDAKKKK! HIKS... MENJAUHLAH...KUMOHON JANGAN SAKITI AKU LAGI... HIKS! DAD... HIKS..." teriakan histeris Gulf terdengar hingga keluar kamar.
Mew mempercepat langkahnya dan segera menuju ke kamar milik Gulf. Ia membuka pintu dan langsung menaruh makanan di nakas sebelah tempat tidur Gulf, Ia dengan sigap mendekap tubuh kurus milik Gulf dengan erat sembari mengelus pucuk kepalanya.
"Kana... tenanglah! Ini Aku... tidak ada siapa-siapa disini tenanglah jangan menangis" ucap Mew lembut seraya masih terus mengelus pucuk kepala milik Gulf.
Gulf tenang dengan sendirinya namun isakan serta genggaman erat pada lengan baju Mew masih rapat Mew rasakan dan juga dengar.
"Hiks... dad... hiks... Kana... takut... Kana tidak ingin merasakan hal itu lagi... hiks" Kana berbalik memeluk Mew erat, Ia menangis keras, Mew bahkan dapat merasakan bahunya basah akibat air mata milik Gulf.
Mew teringat bahwa perbuatannya dulu juga sangat buruk, Ia lah yang dari awal menanamkan rasa takut dan trauma kepada Gulf, lantas mengapa sekarang Ia tidak dapat membiarkan orang lain melakukannya juga? Mengapa Ia tidak membiarkan satu orang pun menyakiti dan melukai Gulf? Mengapa Ia begitu bahagia melihat senyum Gulf ? Apa mungkin Ia sudah benar-benar merubah sifatnya atau hanya karena itu adalah Gulf ? Ya keduanya benar. Katakanlah Mew memang merubah sifatnya demi Gulf tapi disatu sisi Ia merubah sifatnya juga karena Ia mencintai seorang Gulf.
"Kana, lihat aku! Disini hanya ada aku si brengsek itu tidak akan pernah melukaimu lagi aku yang akan melindungimu mulai detik ini" Mew mencoba meyakinkan Gulf, ibu jarinya terus mencegah air mata yang terus mengalir dari sudut mata milik Gulf, kedua mata yang memerah serta pandangan ketakutan itu merupakan kecerobohan dari Mew sendiri, pikirnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love Doesn't Feel✔
Про вампировDunia terserang virus mematikan dimana virus hanya menyerang manusia yang umurnya berada di angka 18 hingga 18 keatas. Gulf Kanawut Traipipatanapong, Ia merupakan seorang pemuda dari panti asuhan ditengah kota, hidup apa adanya dengan adik-adik kec...