24. Lukisan Buatan Syahna

8 6 0
                                    

HAPPY READING
.
.
.

Lukisan Buatan Syahna

"Jika keluarga tak mampu membuatku tertawa, aku percaya seorang teman mampu menyembuhkan luka di jiwaku."

Semburan cahaya matahari menerobos masuk melalui jendela yang terbuka, membiarkan tiupan angin pagi masuk membelai surai indah si gadis yang masih terlelap dalam tidur. Namun, tak lama Nisya akhirnya membuka matanya yang langsung disambut dengan sorot lampu yang sudah menyala. Dia memiringkan posisi tubuhnya seraya menarik guling ke dalam pelukannya. Akan tetapi, niat untuk tidur kembali mendadak urung saat matanya menangkap seseorang yang kini tengah merapikan lemari bajunya.

"Bi Tini?" lirih Nisya tapi masih terdengar jelas di telinga Bi Tini.

"Eh, Non. Udah bangun?" Bi Tini menghampiri Nisya, lalu mengikat rambut Nisya karena Nisya meminta asisten rumah tangganya itu untuk mengikatkan rambutnya.

"Gimana kondisi Non sekarang?" tanya Bi Tini setelah selesai mengikat rambut.

"Alhamdulillah, udah mendingan, Bi," jawab Nisya yang langsung dihadiahi senyum syukur dari Bi Tini. "Oh, iya, Bi. Bibi kenapa ngin—"

Ucapan Nisya tiba-tiba terjeda ketika suara yang ditebak adalah suara pecahan piring, berdenting nyaring dari lantai bawah. Nisya cepat-cepat berlari turun untuk melihat siapa yang memecahkan piring pagi-pagi seperti ini. Ia hanya takut kalau bundanya sampai kenapa-kenapa.

Nisya mengerutkan kedua alisnya saat melihat seorang lelaki berpakaian jas hitam dan sepatu mewah tengah menyeduh kopi di belakang dapur, tapi naas cangkir itu malah membentur lantai dan pecah di bawah lantai. Namun, seolah tak peduli pada pecahan cangkir itu, lelaki setengah paru baya tersebut melanjutkan kegiatannya untuk menyeduh kopi panas.

"Ayah," panggil Nisya pelan.

Sementara nama yang dipanggil hanya menoleh sekejap, kemudian berlalu tanpa menjawab pertanyaan Nisya. Nisya yang menyadari ada hal aneh yang ayahnya tutupi, lantas mengikuti langkah Adnan yang sepertinya akan menuju taman belakang. Ia sempat meminta tolong pada Bi Tini untuk membereskan pecahan beling tersebut, dan Bi Tini mengangguk.

Tatapan Nisya seketika meredup saat dirinya melihat kondisi sang ayah yang begitu kusut. Bahkan, hal yang sebelumnya belum pernah ia lihat kini dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri saat Adnan tiba-tiba menyulut rokok dan menghirupnya ke dalam mulut. Mungkin benar, Adnan dalam kondisi tak baik sekarang.

"Ayah," panggil Nisya berusaha menarik atensi ayahnya.

"Ayah."

"Ayah."

"Nisya! Kamu bisa diem dulu enggak?! Ayah lagi pusing!" sentak Adnan memelototi Nisya dengan keras.

Nisya tercengang, untuk kali pertama telinganya mendengar bahwa Adnan berani menyentaknya sekeras itu. Jujur, sepanjang hidup ia belum pernah merasakan kasarnya seorang Adnan Adyarsa. Bahkan, pria itu begitu lembut menyayangi kedua putrinya dengan adil. Namun, mengapa posisi lembut itu kini berotasi menjadi kasar dan kejam?

"Ayah capek, ya, lembur terus? Aku pijetin ayah, ya?" tawar Nisya langsung melenggang ke belakang tubuh Adnan, lalu memijat bahu Adnan dengan adem.

Namun, belum lama tangan Nisya bertengger di bahu Adnan, lelaki itu seketika menepisnya. "Nggak usah."

Nisya makin bingung dengan kelakuan Adnan hari ini. Perasaan, semelelahkan apa pun Adnan bekerja, belum pernah dia yang namanya bersifat keras.

"Ya udah, aku pijetin kakinya aja, ya." Nisya menawarkan jasa keduanya sambil menghela panjang. Namun, lagi-lagi, Adnan dengan cepat menarik kakinya saat Nisya baru saja akan memijatnya.

NIKISYA [END] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang