nyaman, terbangun

56 3 0
                                    


Nyaman, Terbangun.

Terbang menggunakan pesawat adalah salah satu pilihan utama dalam melakukan perjalanan. Cepat dan nyaman adalah alasan utama mengapa setiap hari puluhan ribu manusia mendatangi suatu tempat yang dinamakan Bandar Udara. Entah apakah mereka pergi untuk berlibur atau urusan cuan, Bandar Udara akan selalu ramai oleh aktivitas.

"Enjoy your flight." Sapa penjaga konter pelaporan begitu aku menyelesaikan urusan bagasi.

Datang lebih awal ke Bandara merupakan suatu kewajiban bagiku. Bagiku datang lebih awal bukan untuk menghindari terlambat masuk ke pesawat. Datang lebih awal merupakan suatu hal yang patut dinikmati. Mungkin sederhananya seperti aku meninggalkan daratan Kota Ambon. Di sana aku terjun langsung tentang penanganan pangan di suatu desa. Aku dan rekan kerja begitu pamrih untuk bekerja di Kota tersebut. Pamrih semakin bergejolak ketika gempa menghantam Kota Ambon. Pamrihku yang harusnya jatuh ke pangan, sebagian harus dipindahkan untuk bergotong royong membantu masyarakat. Menangis, itulah yang terjadi ketika aku perlahan menyusuri Bandara di Kota Ambon untuk kembali ke rumah. Momen tidak tahu mengapa menjadi khidmat ketika aku bisa secara perlahan mengikhlaskan segala peninggalanku di sana.

"Kita nggak sebelahan ternyata," Teman kerjaku, Karin, tiba – tiba datang.

"Demi apa?" Sontak aku terkejut ketika Karin memberikan informasi bahwa aku tidak akan bersamanya selama perjalanan kali ini.

"Iya, tapi tenang aku masih dekat," Tuturnya sambil duduk di sampingku.

"Manado jauh! Aku takut mati karena nggak berbicara," Tidak tahu mengapa aku menunjukan raut muka dan perkataan yang biasa disebut dengan bete.

"Berlebihan kamu! Sudah – sudah flight kita juga masih lama, sepertinya seru kalau kita main ini," Karin memberikan ponselnya kepadaku.

"You wish! Biar apa? Biar aku bisa match sama penumpang di sebelahku?" Tegasku ketika Karin menunjukan aplikasi kencan maya.

"Kyo! Buka! Sumpah dari tadi aku match sama yang bagus – bagus! Nggak apa – apa tidak satu pesawat, terpenting bisa buat cadangan di masa depan! Ya Allah lihat!" Aku melihat ponsel milik Karin dan gairahku meninggi melihat pria – pria tampan dan gagah sudah bisa melakukan percakapan dengan Karin.

Astaga, semoga aku mendapatkan yang sesungguhnya di sini.

"Bandar Udara adalah ladang bagi mereka pejantan tangguh yang rela bekerja demi seorang wanita, remember that!" Tuturku ke Karin sambil mulai melakukan aksi aplikasi kencan dalam dunia virtual.

Aku dan Karin sudah berselancar dalam aplikasi ini sejak lama. Banyak sekali cerita yang bisa didapatkan selama duo perawan ini berseluncur mencari para laki – laki kesepian di dunia maya. Mulai dari faker—orang yang sebenarnya tidak ada, buaya, dan hantu. Hantu adalah pria yang memberikan suatu harapan melalui bujukan dan kata – kata manis, namun hilang begitu waktu berjalan.

KYO AND TIO, MATCH!

"Asik baru swipe beberapa kali, sudah dapat!" Seruku sambil mulai berpindah ke halaman percakapan.

Kyo : Knock, knock!

Tio : Asik, Who's there?

Kyo : Some

Tio : Some who?

Kyo : Someone you need to know more

"Najis, belajar dari mana kamu pick up call seperti ini?" Karin terlihat bingung.

Nyaman, Terbangun [Cerita Pendek]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang