Bab 4

10 3 0
                                    

Kesepakatan

Respons Mom datar saja saat kukatakan asisten rumah tangga kebanggannya terpaksa pulang. Lalu tanpa merasa perlu bertanya dahulu, atau meminta persetujuanku, dia sudah menyampaikan sesuatu yang mengejutkan. Bergegas aku menyelesaikan sarapan yang tinggal sekian sendok lagi dan meminum air mineral kemasan botol kecil dalam sekali tenggak.

Aku harus beres-beres di rumah.
Mom bilang sedang dalam perjalanan. Lintas kota, lintas propinsi, menuju tempatku. Sudah hampir sampai malah. Dia juga mengatakan kalau dia akan sekalian "berlibur". Hah, tidak bisa dipercaya! Benar-benar ibu yang aneh. Berlibur di rumah anaknya, apa saja yang akan dia lakukan nanti? Aku langsung dibuat sadar, sepertinya tidak akan ada gunanya aku memberhentikan Mbok Thur. Malah membuat Mom datang secara langsung. Sungguh percuma saja.

Tidak banyak yang bisa kulakukan untuk membuat rumahku tampak rapi di mata Mom. Sebetulnya memang tidak terlalu berantakan. Sisa-sisa beberes Mbok Thur masih ada jejaknya. Lagipula, aku tidak sekacau itu. Aku cukup cakap untuk membuat tempat tinggalku sendiri nyaman. Aku juga tidak suka jika rumahku kelamaan berantakan. Tetapi di mata Mom, bersih dan rapi lebih dari sekadar dua kata itu sendiri.

Bel pintu berbunyi. Tanpa menunggu dibukakan, Mom sudah memasuki rumah, menyeberang ruang tengah. Sebuah koper bagai menempel di jari-jemari dan telapak tangan kanannya. Aku sudah berdiri, sudah berganti pakaian. Mencoba tersenyum semanis mungkin. Menghambur ke arahnya. Memeluknya.

"Jangan menyeringai begitu."

Mom menyentuh pipiku lalu menepuk-nepuknya lembut.

"Dengan mata birumu itu-kamu malah terlihat mengerikan. Senyum harus tulus, apalagi terhadap orang yang kamu sayangi," lanjut Mom. Tampak seolah berpikir dan ragu untuk mengucapkannya. Namun akhirnya keluar juga dari mulutnya.
Mom masih saja suka membahas soal senyumku. Sudah berapa kali, aku tidah tahu pasti. Saking seringnya Mom melakukannya. Dan ini salah satu yang bisa membuat mood-ku hilang, semangatku menguap tanpa bekas.

Apa salahnya dengan cara senyumku? Pernah satu waktu aku bertanya begitu. Mom kala itu menjawab, caraku membuat garis senyum hanya menarik bibir ke sebelah sisi saja. Itu namanya menyeringai. Atau kalaupun senyum, itu masuk kategori senyum sinis. Dari mana Mom bisa mengutarakan hal-hal seperti itu? Katanya, itu hasil dari membaca sekian banyak novel. Dan aku malah jadi objek penelitiannya. Berkaitan dengan karakter dan... ah, apalah entah.

"Kenapa mandadak sekali, Mom? Tahu akan datang, aku bisa menyempatkan pergi ke swalayan untuk mengisi kulkas."

Itu pembuka obrolan yang sekaligus memberikan info, jika lemari es di sini kosong. Tak ada bahan masakan apapun. Sudah kubilang, kan, aku biasa beli dan makan di luar. Pulang hanya untuk tidur. Untuk kemudian menunggu jemputan dan pergi lagi.

"Rumah kamu butuh sentuhan tangan wanita. Kamu tahu itu, kan?"

Mom dengan kebiasaannya. Menjawab pertanyaan dalam kalimat yang juga berupa kalimat tanya. Agaknya aku tahu dari mana hal yang juga jadi kebiasaanku itu berasal.

"Kamu sudah dewasa, lho. Gak ada terpikir cari siapa gitu, untuk menemani kamu di rumah ini? Mengurusmu, mengurus ini dan itu?"

"Please, Mom. Jangan paksa atau suruh aku untuk membuat Mbok Thur balik ke sini lagi." Aku menyeringai, lagi. Yah, sekalian sajalah kusebut demikian. meskipun maksudku adalah tersenyum.

"Cliff!" jeda sebentar. Mom melangkah mendekatiku dengan kedua tangan di pinggang. "Kamu tahu persis apa yang Mom maksud. Gak usah, deh, belok-belok ke Mbok Thur segala."

Honestly, aku paham dengan maksud wanita yang berdiri di hadapanku ini. Sungguh. Tapi, aku membiarkan diriku terlihat bodoh. Aku hanya ingin seperti itu.

Sebelum TerlanjurTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang