Ya Tuhan aku sangat gelisah. Aku terus mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin berharap pintu tersebut terbuka secepat mungkin. Aku ingin segera melihat istriku. Bagaimana keadaaanya sekarang? Apakah bayiku sehat?
Sampai saat ini aku belum mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan. Kak Miwa mengusap lenganku, berusah memberi ketenangan di sana. Kuulas senyum kecil padanya, berusaha mengurangi kegelisahan dalam diri.
Ya Tuhan, selamatkan istri dan anakku.Tak lama kudengar tangis bayi dari dalam ruangan. Aku segera mendekati pintu putih itu, menunggu pintu tersebut terbuka dengan perasaan yang campur aduk.
Kulirik Kak Miwa yang tersenyum bahagia. Tak lama keluar seorang dokter perempuan dengan senyum lebar di wajahnya.
"Tuan Kageyama?"
"Iya, saya. Bagaimana, Dok?" tanyaku menatapnya.
"Persalinan berjalan lancar, bayi dan ibunya dalam keadaan sehat. Selamat ya Tuan Kageyama, anak laki-laki anda lahir dengan sehat dan tanpa cacat."
Mendengar itu rasanya aku lemas. Perasaan bahagia seketika mengisi dadaku. Kini aku menjadi seorang ayah. Sekarang akan ada malaikat kecil yang memanggilku 'ayah'. Air mataku tak dapat dibendung lagi.
"Terima kasih, Dok. Bolehkah saya bertemu mereka?"
"Silakan." Dokter itu mempersilakan hanya dua orang saja yang boleh masuk untuk saat ini.
Aku dan Ibu (Name) segera masuk ke dalam. Kulihat (Name) yang masih lemas di ranjang rumah sakit dengan infusan di tangannya. Dengan cepat aku ke menghampirinya. Kuraih surai hitamnya, tatapan matanya yang sayu itu bertemu dengan mataku yang sudah lembab.
"Honey. Thank you," ucapku pelan.
Ya Tuhan. Aku sangat bahagia. Kulihat dia mengulas senyum, dia tetap cantik dalam keadaan seperti ini. Kukecup dahinya cukup lama. Dia menggenggam tanganku.
"Honey, thank you. Aku sangat bahagia."
"Tobio-kun, sekarang kau menjadi seorang ayah," ucapnya dengan suara parau.
Air mataku tak dapat ditahan lagi, aku sungguh bahagia. Dia meraih wajahku, mengusap aliran sungai di sana.
"Thank you," tuturku dengan menahan tangis.
Dengan lembut kucium (Name) tepat di bibirnya. Kuselipkan perasaan bahagiaku padanya.
"Thank you, (Name). I love you."
"I love you too."
Aku dan dia terkekeh. Kukecup kembali puncak kepalanya.
"Permisi, tuan dan nyonya Kageyama. Baby Kageyama sudah saya mandikan. Lebih baik babynya segera ditaruh di dada nyonya, sepertinya dia lapar."
Seorang perawat membawa bayi kami yang sudah dipakaikan baju. Ya Tuhan aku gemetar melihatnya, kini bayi kami sudah berada ditangan istriku.
Ya Tuhan. Dia kecil dan imut sekali.
"Honey, bayi kita imut sekali."
"Dan tampan sekali seperti ayahnya."
Entah mengapa seperti ada kupu-kupu yang terbang dari perutku.
"Rambutnya hitam sepertiku. Dan matanya biru sepertimu," ucapnya.
"Iya. Dia memiliki mataku."
Aku mengulas senyum terharu.
"Hai anak ayah yang tampan."
Aku meraih tangan kecil itu dan dia menggemgam jariku. Hatiku menghangat. Bayiku.
***
See you next chapter!
#skrind🦊

KAMU SEDANG MEMBACA
Become His Wife? | Kageyama Tobio X Reader
Fanfic(Full name) kini sudah memiliki marga baru? Ini bukan mimpi, kan? -kageyama tobio x reader- Complete : 14 Juni 2021