Chapter 5: The Long Sparkly Night

577 126 43
                                    


Sore itu, langit tampak cerah menyinari ibukota yang ramai dan padat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Sore itu, langit tampak cerah menyinari ibukota yang ramai dan padat. Di Bundaran Hotel Indonesia, mobil dan motor berlalu-lalang. Tepat di sebuah kamar yang berharapan langsung dengan Bundaran HI, seorang perempuan berdiri mematung memandangi jalanan. Di belakangnya ada seorang perempuan lain yang membantunya memakai resleting baju di bagian punggung.

"Karisya. Gue tanya sekali lagi, lo yakin?"

Suara Alea memecah keheningan. Karisya mengangguk tenang, meski bola matanya berkali-kali melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup.

"Kenapa emangnya?"

"Lo masih tanya kenapa?" Alea menghela napas. "Gue tau lo gila tapi gue nggak nyangka lo segila ini."

"Alea, gue nggak minta lo untuk selalu suportif sama keputusan gue. Tapi bisa nggak jangan bikin gue melempem gini?" Karisya memutar badan.

Tatapannya bertemu dengan Alea yang duduk di atas kasur besar dan empuk bercover warna putih. Alea mengerucutkan bibir, merasa bersalah sedikit karena sudah bersikap menyebalkan pada temannya.

"Lagian gue udah tanya orangnya. Dan dia sama sekali nggak keberatan."

Tepat setelahnya, pintu kamar mandi terbuka lebar. Juno Wiranata keluar dengan setelan jas berwarna biru navy-nya yang memesona. Rambut hitamnya jatuh begitu saja membentuk poni yang menutupi dahi.

Rupawan. Juno selalu rupawan.

Sorot matanya tampak serius. Melirik ke arah Karisya dan kemudian beralih pada Alea. "Gue jauh dari kata keberatan. I'm excited."

Alea berdecak dan menggeleng-gelengkan kepala. "Lo berdua tuh ya. Emang nggak pernah takut miskin. Jangan kaget kalau nanti kalian dicoret dari KK keluarga."

"Actually, gue berharap begitu sih." Juno menyahut.

Laki-laki itu berdiri tepat di depan Karisya, perempuan cantik yang memenuhi pikirannya sejak beberapa bulan terakhir. Kini di hadapannya, berdiri dengan percaya diri dan tampak sempurna. Rambutnya dikepang agak berantakan dan disampirkan ke pundak sebelah kirinya. Karisya yang terbalut mini dress biru tua menarik seluruh perhatiannya.

Sorot mata khawatir dan panik yang dia lihat dari Karisya dua hari lalu kini berganti menjadi sorot mata tajam yang siap menciptakan badai.

"But they would never do that," kata Karisya entah pada Alea atau Juno. "They would never kick us out."

Juno tersenyum miring. "Exactly. You ready?"

Karisya mengangguk.

Jemari tangan Karisya yang dingin kini tak lagi sendiri. Juno yang menyelipkan jari tangannya di antara jemari Karisya kini menggenggamnya erat bahkan sebelum mereka keluar ruangan. Rasa dingin yang semula menyelimuti perlahan berganti menjadi rasa hangat yang menyeruak dari dalam dada. Dan Karisya ingin, rasa hangat ini tidak akan pernah pergi.

You Had Me At Hello | wonwoo x joyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang