Saputangan Merah
Apa yang harus dilakukan saat rasa hatimu tiba-tiba sesak di tempat yang tidak seharusnya?Bis yang kunaiki sepi dari penumpang. Sudah bukan hal rahasia, kendaraan umum seperti ini terkadang penuh sesak, di waktu lain bisa jadi kosong melompong. Persis hari ini. Sebelumnya ada penumpang naik dua orang. Aku seketika merasa ciut melihat tampang mereka berdua--tidak bersahabat. Aku tidak bermaksud untuk berburuk sangka. Hanya saja mengingat aku seorang perempuan dan sendirian, secara naluri ada insting untuk menjaga diri.
Jujur saja, aku begitu khawatir dan ketakutan. Meskipun mereka sebutlah penumpang sah bus ini, tetap saja aku harus waspada. Posisi duduk mereka berjauhan, tetapi sama-sama di bangku seberang dari tempatku duduk. Pria di seberang kanan mulai tampak bergerak-gerak seolah tidak betah. Melihat gelagatnya yang demikian, aku reflek memangku tas, menggenggamnya erat-erat. Sembari merapalkan doa dalam hati. Aku sudah berkeringat dingin, meskipun memakai outer. Sekian menit selanjutnya, mereka yang duduk berjauhan itu, saling mengobrol. Dengan bahasa daerah yang tidak bisa sepenuhnya kumengerti.
Kemudian, tangan penumpang pria yang tampak gelisah tadi, mulai merogoh ke bawah bangku. Di sana tidak ada apa-apa, tapi dia seakan memaksa mengambil sesuatu. Entah jika ada benda kecil yang menarik perhatiannya. Lelaki lainnya lalu menggeser duduk, mendekati pria gelisah itu. Mengusap-usap lengan dari atas hingga bawah, entah teman, atau bisa jadi saudaranya tersebut. Lalu membisikkan sesuatu ke telinga. Pria gelisah, memperlihatkan gigi-giginya. Dia bermaksud tersenyum, tapi dengan cara yang berbeda. Secara tak terduga, lelaki itu mencondongkan tubuhnya ke arahku, dengan tangan seolah ingin menerkam. Tentu saja aku kaget sekaligus takut.
"Eh, tidak boleh begitu. Itu teman. Teman. Teman," ujar lelaki satunya buru-buru memeluk dari belakang.
Lelaki yang dari penampakan luarnya sesungguhnya telah dewasa, tetapi masih bertingkah seperti anak kecil. Saat itulah aku menyadari, lelaki gelisah itu mengalami sesuatu, dia tidak normal sebagaimana umumnya orang.
Aku sontak merasa bingung, saat lagi-lagi dia hendak menarik bahuku. Beruntunglah, lelaki satunya kemudian menyadari mereka telah sampai di tempat tujuan. Dengan sedikit dipaksa, lelaki gelisah itupun menurut. Dan mereka berdua pun turun.
Tubuhku sungguh masih gemetaran. Tanpa bisa kucegah lagi, air mata menetes, aku terisak saat itu juga. Dadaku terasa berat, bahkan napas rasanya sesak. Seketika bayangan-bayangan sekian bulan lalu muncul di benak. Aku mengusap-usap bahuku sendiri, memeluk diri. Tak bisa mencegah kepala untuk menyalahkan dia yang sudah melukai hati. Luka itu terlanjur sangat dalam. Dan nyatanya, aku belum juga mampu melupakan. Hatiku masih meracaukan, kalau saja kemarin perpisahan itu tidak terjadi, kalau saja dia mau membersamaiku dalam suka bdan duka yang sesungguhnya, bukan janji di mulut semata, aku tidak harus bepergian sendirian. Dan mengalami hal-hal tak terduga. Hingga merasa terancam seperti ini. Tersedu sendirian, aku melepaskan rasa sesak yang nyata-nyata masih ada, tak lagi memedulikan sekitar. Sehingga tidak sadar ada penumpang lagi yang baru saja naik.
Hingga entah sudah berapa menit, aku menikmati kesedihan dengan terus menatapi awan di balik jendela bus. Tidak tahu jika dia memerhatikan. Mungkin semenjak tubuhnya mengempas duduk.
Tangannya mengulurkan sesuatu. Baru aku menyadari kehadiran sosok itu. Sebuah saputangan berwarna merah, dengan pola polkadot dan garis tepi berwarna biru tua. Lekas kuseka sudut-sudut mata, hingga beberapa kali. Sebab, air mata belum juga hendak berhenti. Kucoba kuasai keadaan. Aku meraih saputangan. Mengangguk dengan kepala tetap menunduk. Kembali memiringkan tubuhku untuk menyeka air mata. Malu rasanya tepergok menangis di fasilitas umum.Rasanya sangat kikuk, sebab entah mengapa aku merasa dia terus-terusan melihat ke arahku. Bahkan seperti mencari-cari wajahku.
Ponselku berdering. Tak ada nama yang muncul. Nomor baru. Entah siapa. Dan saat kuangkat, sosok yang duduk di seberangku barusan bersuara.

KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Terlanjur
RomantiekSendang pikir kata cinta bukanlah untuknya. Mahligai pernikahan yang ia kira akan mampu bertahan, apapun keadaan dan rintangannya, kandas usai 7 tahun. Tujuh tahun yang semula baik-baik saja, di antara ikhtiarnya agar bisa mempunyai keturunan. Sayan...