9 ; mission accomplished

106 25 5
                                    

"Dia selamat dari kematian."

"Operasinya berhasil."

Rasa panik tergantikan oleh rasa lega. Tuhan mengabulkan doa kami. Semua orang bersukacita dan bersorak sorai, tidak terkecuali aku.

"Draken-kun terselamatkan!"

"Hinaaaa! Rei-chaaan!" Emma memeluk kami berdua sambil menangis.

"Aku senang sekali, Draken selamat!"

"Syukurlah, aku sangat bersyukur."

"Hore! Hore! Hore!"

"Kalian berisik!" Ujar Mitsuya yang tersenyum lega.

"Kita juga harus mengabari teman-teman diluar."

"Baik!"

Semua berlari keluar rumah sakit untuk memberitahukan hal baik ini kepada anggota Touman yang lain. Aku keluar duluan bersama Hina dan Emma meninggalkan Mitsuya, Takemichi dan Pehyan.

**

"Wah, hujannya reda." Ucap Hina.

"Duh gimana nih? Sudah jam segini."

"Sudah melebihi pukul 12." Hina dan Emma sama-sama membuka ponsel lipat mereka dan mengecek jam.

"Sudah 4 Agustus nih."

"4 Agustus? Takemichi, kita berhasil menghentikan kematian Draken. Misi kita sukses!" Aku menepuk pundak Takemichi. Ia masih diam tidak percaya.

"Sekarang sudah 4 Agustus.." Takemichi jatuh berlutut.

"Kita.. berhasil!" Ia menangis. Memang sebutan Akkun cocok, ia adalah Pahlawan Cengeng.

"Ah, Mikey-kun dimana?"

"Eh?" Aku baru sadar. Sejak tadi ia sudah menghilang.

"Aku akan mencarinya. Takemichi, kau pulang saja. Ini sudah larut malam."

"Baiklah, terima kasih Rei-san, atas semuanya."

"Terima kasih padamu juga."

Takemichi mengangguk. Kami saling melambaikan tangan satu sama lain. Aku bergegas mencari Mikey kemanapun sampai aku menemukannya dibelakang bangunan seorang diri.

"Eh? Itu dia." Gumamku sambil memperhatikan apa yang dilakukan Mikey.

Ia jatuh terduduk dan menangis. Pertama kalinya aku melihat Mikey menangis. Padahal tadi ia berusaha tegar dan meyakinkan semua orang dengan senyuman diwajahnya.

"Syukurlah.. Kenchin.."

"Kau telah membuatku cemas."

Aku berjalan mendekatinya dan mengelus kepalanya lembut. Ia terkejut dan segera menghapus air matanya.

"Kau k-kenapa disini?!" Ia masih sesenggukan. Aku mendudukkan diri disampingnya dan tersenyum.

"Aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau disini."

Ia terdiam dan menunduk. Berusaha menyembunyikan air matanya dariku. Aku memeluknya dengan erat.

"Kalau kau mau menangis, menangislah. Aku tidak akan beritahu siapapun."

Mikey menangis dan membenamkan kepalanya dipundakku. Ia menarik pinggangku mendekat kearahnya. Bisa kurasakan air matanya membasahi pundakku. Selama 15 menit kami tidak berubah posisi, dan selama 15 menit ia masih menangis dipundakku.

"Uh, Mikey, waktunya pulang." Aku berusaha melepaskan pelukannya tapi ia tetap menahanku.

"Tetaplah seperti ini.." Ucap Mikey dengan suaranya yang agak serak sehabis menangis.

ride or die ; mikeyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang