Seoul, 26 Maret 2092
Duk! Duk! Gedubrak!
"Astaga, Callandeura! Pelan-pelan bisa, gak, sih? Lo packing apaan sampai rusuh banget?"
Su-ni geram. Kegiatannya memasak sarapan sangat terganggu karena sahabatnya, Andra membuat keributan besar.
Gadis Indonesia itu katanya akan berangkat ke luar angkasa bersama para astronot NASA untuk meneliti planet Mars lebih dalam.
Sebagai mahasiswi paling aktif dan ber-IQ tinggi di kampus, tentu saja Andra akan diikutsertakan.
Memilih melanjutkan kegiatan memasaknya, Su-ni mulai mengangkat panci mengepul berisi samgyetang kesukaan Andra ke atas meja.
Menu kali ini spesial karena Su-ni sama sekali tidak memakai printer 3D dalam pembuatannya.
"NDRA! BBAB-MOKCHA!*" Su-ni berseru.
*Bbab-Mokcha: Mari makan!
"YA!" Andra balas menyahut.
Suara bising masih terdengar selama beberapa saat, namun berhenti saat Andra telah menunjukkan batang hidungnya dari balik pintu kamar.
"Sini, cepetan!" Su-ni berseru lagi.
Seluruh tubuh Andra telah terlihat, tubuh tinggi semampai dengan kulit putih bersih terlihat sangat mengagumkan. Mata yang besar khas Asia Tenggara dan rambut sebahu yang diikat ke belakang lengkap dengan poni membuatnya begitu menonjol.
Anak itu terlihat berbicara serius dengan seseorang di hologram gadget-nya.
Andra telah rapi dengan seragam kampus dan tas selempang bergambar karakter BoBoiBoy yang terlihat cukup berat.
"Widiihhhh ... Tumben masak samgyetang~" Andra riang. Makanan kesukaannya terlihat begitu menggiurkan.
Su-ni menggelengkan kepala tak habis pikir. "Lo mau ke luar angkasa apa mau pindahan, Ndra? Astaga! Untung itu tipe multipurpose-bag, kalau nggak, udah jebol sedari tadi," katanya.
Andra tidak menjawab. Dirinya sibuk dengan sumpit, mangkuk dan segala peralatan makan khas Korea itu.
Astaga! Kenapa Su-ni menyajikan ini memakai sumpit?!
"Sun! Sendok dimana, sih? Atau nggak kobokan gitu?! Lo hobi banget nyiksa gue," kata Andra sedih lalu memilih ke arah wastafel.
Anak itu berniat makan pakai tangan saja.
"Oh, iya! Sorry, gue lupa, hehe." Su-ni tersenyum tengil.
"Ih, iyi! Sirry, gii lipi, hihi," beo Andra kesal. "Bae-bae! Salah sedikit kepala lo yang ketinggalan," lanjutnya.
"Namanya juga lupa." Su-ni membalas sekedarnya.
Kalau kalian perhatikan, Andra sedikit pincang saat berjalan. Sedikit saja, nyaris tidak kelihatan.
Gadis itu kehilangan fungsi sebelah kakinya 6 tahun lalu, saat perang dunia IV sedang pecah.
Daripada hidup pincang parah sepanjang hidupnya, Andra menyuruh dokter untuk sekalian mengamputasi kakinya lalu menggantinya dengan kaki mekanik dari aluminium buatannya sendiri. Kaki itu bergerak dengan menggunakan neurotransmiter sebagai pengendalinya.
Singkatnya, Andra adalah cyborg.
"Haaa ..." Andra mendesah lelah. "Kayaknya sekrupnya harus dikencangin lagi. Tadi gue jalan agak nggak nyaman gitu. Sun! Tolong ambilin obeng, dong," lanjutnya, sibuk mengutak-atik tombol yang ada di kaki buatannya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Saranghabnida, Pyeha! : THE GORYEO'S DORAEMON
Historical FictionTahu Doraemon? Iya, Doraemon yang itu. Aku akan senang sekali jika jadi Nobita yang akan dibantu oleh Doraemon. Masalahnya .... AKU YANG JADI DORAEMONNYA! Baik-baik. Mungkin itu tidak terlalu menjadi masalah bagiku jika saja orang yang menjadi...