Kembali Mengenal 3

118 102 49
                                    

Hari ini seperti biasanya, Gita mengerjakan tugas catatan sekolah yang menumpuk. Gita memang suka menunda-nunda dalam mengerjakan tugas sekolah jika deadline nya masih jauh. Tapi jika udah mendekati deadline H-2 contohnya, Gita udah kayak Ironman.

Senin sampai Jumat Gita sekolah seperti pada umumnya. Sabtu untuk ekstrakulikuler dan Minggu untuk other work.

Sama seperti kehidupan anak SMA pada umumnya. Pernah merasakan bimbang, apakah akan lanjut kuliah atau memutuskan untuk langsung berkerja. Walau masih membutuhkan waktu yang panjang, tapi Gita terlalu didewasakan oleh keadaan.

Gita bukan dari kalangan keluarga kaya namun bukan dari keluarga yang kurang. Naik turunnya kehidupan bagai roda yang berputar dan kadang berhenti terhalang batu sudah pernah dirasakan. Walau masih remaja situasinya mengharuskan Gita untuk berpikir dewasa walau dia sebenarnya tidak menginginkan itu.

Salah jika Gita tak pernah memiliki ego seperti remaja lainnya. Gita juga memiliki rasa ingin yang tinggi seperti temannya yang lain. Rasa ingin memiliki seperti yang dimiliki orang lain. Tapi, Gita sadar bahwa tak ada di dunia ini yang akan memiliki sesuatu yang persis seperti yang orang lain punya.

Wahyu Ardiansyah contohnya. Mengenalnya untuk yang kedua kali membuat Gita sadar, bahwa dibalik diam dan pintar nya seorang Wahyu ada hati yang kesepian didalamnya. Banyak orang yang menginginkan menjadi seperti Wahyu yang cerdas, tampan, baik dan sopan tapi mereka tidak tau jalan mana yang dilewati Wahyu sehingga dia mendapatkan itu semua. Orang lain cenderung melihat apa yang hanya mata mereka lihat tapi tidak dengan hati yang mereka dilihat.

Pukul 15.10

"Kamu itu harus bisa kayak anaknya temen papa. Liat mereka, masih kecil aja udah bisa ngurus usaha bisnis orang tuanya. Kamu harusnya bisa lebih dari mereka!"

Wahyu yang hanya bisa berdiri diam setiap kali ayahnya melontarkan kata. Tak ada pembelaan yang keluar dari mulutnya dan tak ada orang yang berani mencampuri urusan mereka. Ibunya?

Wahyu harus kehilangan ibunya saat dia dilahirkan. Mungkin hal ini yang menyebabkan ayahnya berperilaku demikian. Tapi menuntut sesuatu agar seseorang menjadi seperti orang lain apakah dapat dibenarkan?

Wahyu yang dari kecil hanya diasuh oleh babysister yang setiap tahun selalu berganti tak mendapatkan perlakuan dan kasih sayang dari seorang ibu. Bukan karna tidak betah, tapi ayahnya tak ingin Wahyu menjadi memiliki ketergantungan kepada orang lain yang bukan keluarganya.

Ayahnya tak memberi izin anggota keluarga lain untuk mengasuh Wahyu, karena dia tidak mempercayai siapapun di dalam keluarganya. Dia berpikir bahwa dia bisa menjaga dan merawat anaknya sendiri tanpa bantuan anggota keluarganya. Pernikahan kedua orang tua Wahyu memang mendapat penolakan dari keluarga ayahnya, namun ayahnya tetap bersikukuh pada keputusannya.

Perbedaan kasta yang masih menjadi permasalahan dalam kekeluargaan membawa pengaruh buruk bagi Wahyu. Bahkan di lingkungan sosialnya.

"Dan kamu?! Malah mau sekolah di sini? Kan papa udah bilang kamu itu sekolah diluar negeri! Ngapain kamu daftar SMA disini? Kamu mau buat papa malu ha? Liat keluarga kamu yang lain! Mereka sekolah tinggi di luar negeri! Kamu mau jadi apa?" Sambil melempar vas bunga yang terletak di dekat mereka.

Dengan masih diposisi yang sama, Wahyu hanya bisa diam tanpa ekspresi saat lelaki yang notable ayahnya pergi menjauh dari tempatnya berdiri. Hanya setetes air yang turun membasahi pipinya tanpa ada suara yang mengiringinya jatuh.

Pukul 20.20
Caffeine Coffee

Tepat di salah satu cafe, Wahyu yang hanya sendirian menikmati secangkir kopi bertemu dengan Dimas yang kebetulan berada di tempat yang sama.

"Wahyu kan? Lu suka nongki disini? Anak pinter tempat nongkrong nya beda yah."

Wahyu yang sadar dengan kehadiran seseorang hanya melihat tanpa mengeluarkan suara. Dimas yang menyadari hal itu tetap berusaha mengajak Wahyu untuk mengobrol walaupun hasilnya tetap sama. Sampai pada suatu topik pembahasan..

"Gita menurut lu orangnya gimana? Aku liat kayaknya kamu nyaman sama dia. Bukan nyaman yang maksud gimana-mana tapi lu kalo sama dia mau ngobrol. Lu kenalan lama Gita? Lu siapanya Gita?"

"Teman SMP." Sambil beranjak menjauh meninggalkan cafe. Dimas yang masih belum puas dengan jawaban Wahyu hanya diam melihat kepergian sang kulkas 8 pintu.

Dimas dengan cekatan mengambil ponsel dari saku celananya dan mengirimi beberapa pesan.

Dimas3
Gitak!
Tadi aku gak sengaja ketemu Wahyu pas di cafe
Kayaknya dia lagi kurang mood deh

Anda
Lah ngapain bilang ke aku
Dia emang gak mood tiap hari

Dimas3
Dia bilang kalian dulu temenan satu SMP
Jadi lu tau dia kek mana orangnya kan
Keknya dia lagi ada masalah

Anda
Buset kalian gibahin aku ya?
Dia ngomong apa aja tentang aku?

Dimas3
Enggak dia cuma bilang kalian temenan
Lu tau dia orangnya gimana?

Anda
Mana aku tau
Aku sama dia aja gak pernah ngomong
Cuman setau aku dia orangnya emang gitu
Susah dideketin

Dimas3
Masukin ke grup kita aja
Biar bisa nyontek tiap hari kan

Anda
Dasar tukang manfaatin orang lu

Dimas3
Lah kalo gak mau dimanfaatin ya jangan jadi orang yang bermanfaat lah

Anda
Serah lu lah. Dah aku mau tidur.
Besok piket lu datang cepet!

Dimas3
Iya ratunya Dimas


Apa kabarnya para readers ku?

Makasih yang udah mau meluangkan waktunya untuk mampir di kisah Gita.

Semoga pada suka ya sama ceritanya.

Yuk berikan tanggapan kalian tentang kisah Gita ini, dengan vote dan tinggalkan komentar kalian.

See You...

Seru Berujung TanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang