Chapter 4

2.9K 235 197
                                    

Sebelum membaca, alangkah lebih baiknya kalian klik bintang di pojok kiri bawah:3


⚠🔞+⚠

"Kau.. rupanya kau masih hidup.."

"Alex.."

Ray menyeringai dan merangkul seorang necis yang di panggil Ray dengan sebutan Alex itu dengan sok akrab. Ray terus saja terkekeh membuat semua orang menjadi terganggu.

"Em.. hei, dude! Darimana kau tau namaku?" Alex mengernyit sedikit takut dan waspada.

"Apa kau lupa padaku, Alex? Yah.. wajar sih" Ray menyeruput sisa ice Americanonya dan berjalan keluar cafe, ia menatap sekitar dan melambai pada Alex serta pengunjung cafetaria.

"Hei, tunggu! Jangan pergi.." Alex berlari keluar mengejar Ray dan menarik tangannya.

Ray berhenti dan menyeringai, "maaf Alex, aku tidak mau ke motel!" Ray menampilkan wajah seperti sedang merasa bersalah pada Alex.

"Ka-kalau begitu, apa kau mau ke rumahku saja,  pria cantik?" Alex tersenyum dengan tak tau malunya sambil meremas tangan Ray. Sekelibat perasaan merinding menjalar di tubuh kecil Ray.

"Euh, boleh. Tapi sebelum itu, aku mau minta tolong.." Ray mengeluarkan belati kecilnya dan memberikannya ke Alex. "Bunuh orang itu untukku!"

Alex mengangguk tanpa pikir panjang dan masuk ke mobil, Ray sedikit bingung dengan apa yang di lakukan Alex. Akhirnya Ray ikut masuk ke mobil saja.

Alex membuka kaca mobil seperapat jengkal tangan, ia melirik ke kanan dan kiri dengan mata terpicing dan...

Jleb..

"Kyaaaak!!" suara teriakan dari barisan para  pengunjung bar..

Seluruh orang di bar dan sekitarnya berteriak histeris. Semuanya panik, beberapa orang memanggil ambulance dan meminta pertolongan. Orang-orang yang berada di lain tempat pun ikut keluar karena penasaran.

Alex terkekeh dan menutup rapat kaca mobilnya. Hanya dalam sekali lemparan jitu, Mr. Toni lemas tak berdaya. Belati itu tepat mengenai jantung Mr. Toni hingga membuat Ray terpelongo.

Ah sial! Membuat iri saja Alex ini. Ray tersenyum kaku dan menatap Alex dengan tidak senang. Kemampuan Alex masih sama seperti dulu. Tidak, bahkan lebih hebat lagi melebihi Ray.

"Luar biasa bukan? Tidak ada yang menyadari kalau belati itu berasal dari mobil ini." Alex terkekeh dan menyenderkan kepalanya ke belakang tempat duduk.

"Benar, Alex. Mereka heboh sendiri, dan terkocar-kacir seperti anak ayam kehilangan induknya." Ray masih tersenyum tidak senang dan sebal.

"Aku sudah menuruti kemauanmu, sekarang mari kita ke rumahku.." Alex menghidupkan mesin mobilnya dan mulai memundurkan pelan-pelan.

"Tu-tunggu dulu, belatiku bagaimana?" Ray tidak mau kehilangan belati kesayangannya itu. Walau dia sudah memiliki sangat banyak belati di rumah, belati yang ia selalu bawa adalah belati peninggalan almarhum kakeknya.

"Apa? Kenapa kau ingin belati murahan begitu sih, aku bisa belikan yang baru dan lebih bagus." Alex mengerutkan keningnya bingung dan heran.

"Bahkan sifat menyebalkan kau itu masih sama seperti dulu, Alex. Aku tidak mau ke rumahmu!" Ray melipat tangannya di depan dada dan mendengus kesal, membuat Alex jadi tambah bimbang.

"Aku bingung dengan apa yang kau ucapkan. Apa dulu kita pernah bertemu? Aku sama sekali tidak ingat" Alex mengernyitkan dahinya.

"Cih... Alex, kau itu musuh bebuyutanku saat SD. Apa kau ingat saat kau terdorong dari tangga dan terjatuh dari lantai tiga karena kepeleset? Itu semua aku penyebabnya." Ray menggedikan alisnya.

PSYCHOPATH || BL18+⚠Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang