_G E Z A R A _Bunyi alarm berdering kencang mengusik Geza dari tidur. Geza mengernyitkan dahi dengan mata yang masih terpejam, tangannya meraba bagian bawah bantal guna mencari Handphone miliknya yang menjadi sumber suara alarm tersebut.
Setelah menemukan keberadaan Handphonenya, Geza langsung mematikan bunyi alarm dan melihat jam yang terpampang dilayar Handphone.
Jam 5. batin Geza.
Geza terlentang menatap kosong langit-langit kamarnya, berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi. Sudah menjadi kebiasaan bagi Geza ketika bangun tidur untuk mengumpulkan kesadarannya terlebih dulu.
Setelah merasa kesadarannya telah terkumpul, Geza bangun dari tidurnya lalu berjalan kearah kamar mandi untuk mandi sekaligus melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Walaupun Geza bobrok dan slengean dia tetap mengingatkan dirinya untuk selalu melaksanakan ibadah kecuali jika memang sedang datang bulan.
Hari ini adalah hari Senin. Hari yang horror bagi semua murid, begitupun dengan Geza. Menurutnya, hari Senin adalah hari terkutuk bagi Geza. Pasalnya, jika hari senin Geza harus berangkat awal karena akan diadakan upacara pagi, dan Geza yang dulu selalu kesiangan gara-gara harus bekerja lembur dihari minggu sering sekali mendapat hukuman karena datang terlambat.
Tapi, kebiasaan itu tidak berlaku hari ini. Karena Geza kemarin sudah tidak lagi lembur bekerja dan siap memasang alarm agar dirinya tidak kesiangan lagi.
Bahkan, semalam dia sudah membereskan buku yang akan dibawa hari ini padahal biasanya Geza akan membereskan bukunya ketika ingin berangkat sekolah. Maka, jangan heran kalo dulu Geza sering lupa membawa buku ataupun hanya membawa satu buku saja.
Semua perubahan itu berkat abangnya, Raggel. Kalo saja kemarin abangnya tidak memaksa dia untuk berhenti bekerja, maka hari bersejarah ini tidak akan ada dikehidupan Geza.
Setelah selesai dengan kegiatan beribadahnya, Geza menuju meja rias dan mulai memberi riasan tipis pada wajahnya dan tidak lupa memakai parfum kesukaannya. Merasa cukup, Geza berdiri dan segera mengambil tasnya yang tergeletak diatas meja belajar lalu berjalan keluar kamar menuju ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya.
“Pagi kek, bun, yah, ma, pah.” sapa Geza ketika melihat kakek, orang tua serta bibi dan pamannya sudah duduk di meja makan.
“Adek, kok kakak gak disapa?” protes Arsen.
Geza seketika cengengesan mendengar protesan Arsen. Dia berjalan menuju Arsen lalu segera mengecup pipinya sambil tersenyum.
“Pagi, Kak Arsen. Jangan cemberut gitu dong pagi-pagi, nanti kegantengannya berkurang loh.” rayu Geza.
“Ah, kamu bisa aja.” Arsen mengibaskan tangannya sambil tersenyum malu.
Tak lama kemudian, derap langkah terdengar menuju ruang makan. Raggel, Adit, Haidan, dan Bara keluar secara bersamaan. Mereka langsung menuju kursinya masing-masing setelah menyapa para orang tua yang ada disana.
“Pagi, Kak.” sapa Geza.
“Pagi juga, Ael.”
“Pagi juga, Gez” saut mereka terkecuali Raggel.
“Kok abang gak jawab?.” tanya Geza heran.

KAMU SEDANG MEMBACA
G E Z A R A
HumorAbigael Gezara. Si gadis yang mempunyai sifat tengik, malu-maluin, pecicilan, dan jangan lupa sifat tomboy nya yang sudah mendarah daging dari ia lahir. Hidup sebagai mantan penghuni Panti Asuhan, menjadikan dirinya sebagai wanita yang tidak manja a...