"Juna...?"
Kasurnya dingin. Ini baru jam 7 pagi tapi kasur tempat Juna tidur di sampingku sudah rapi, seolah-olah apa yang kami lakukan semalam itu hanya mimpi.
Atau jangan-jangan semua ini memang mimpi?
Aku buru-buru melihat jari manisku dan ternyata cincinku masih ada melingkar disana.
Kata orang, malam pertama biasanya menjadi malam yang indah.
Tapi tidak bagiku. Malam pertamaku tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata karena aku kaget dengan apa yang dilakukan Juna padaku. Apa semua laki-laki berubah saat sudah menikah?
Dulu waktu pacaran, Juna tidak sekasar itu padaku. Juna selalu memperlakukanku lembut dan gentleman sejati. Dia selalu membukakan pintu untukku, selalu memperdulikan aku, baginya akulah nomor satu di hatinya. Aku selalu terlena dengan apa yang dia lakukan kepadaku. Saat aku menolak untuk melakukan seks dengannya, di satu malam di Bali, dengan lembut ia mencium tanganku dan berkata dia akan menungguku sampai aku siap.
Apa mungkin aku membuatnya menunggu terlalu lama?
Aku menyibakkan selimut, terlihat bekas-bekas cairan yang sudah mengering di seluruh sprei kasur. Segera kupanggil asisten rumah tangga dan kuminta dia untuk membereskan kamarku, lalu aku bergegas mandi.
"Bu Elysian, saya sudah siapkan sarapan di bawah ya," sahut Bu Ria, asisten rumah tangga Juna.
"Eh, iya Bu. Juna kemana ya? Kok pagi-pagi udah pergi?" tanyaku. Aku mengambil handuk yang dibawakan Bu Ria, namun wajah Bu Ria terlihat panik.
"Sa-saya ga tau... soalnya saya ga ada di rumah semalam. Saya baru ada disini jam 6 pagi tadi."
"Oh ya? Berarti Juna udah pergi dari sebelum jam 6 dong?" sahutku. Aku tahu Bu Ria bohong. Tapi aku bisa apa? 24 jam belum berlalu sejak aku menikah dengan Juna. Bu Ria terdiam mematung, wajahnya sendu dan merasa bersalah namun bibirnya hanya membuka sedikit seolah ingin menceritakan sesuatu tapi tak bisa.
Aku menarik nafas panjang.
Kenapa aku merasa lelah ya?
"Bu Ria, aku pengen pancake besar, pake eskrim vanilla buat sarapan. Boleh ga?" tanyaku manis. Bu Ria tiba-tiba sumringah mendengarku.
"Boleh! Boleh, Bu! Saya buatkan ya! Ibu tunggu sebentar ya gausah turun ke bawah, nanti saya bawakan ke sini!" kata Bu Ria.
Ya, Bu Ria berbohong. Aku tahu itu. Tapi aku bisa apa? Di rumah 2 lantai ini, yang sudah disiapkan Juna sebagai tempat tinggal kami berdua beserta sepasang suami istri yang bertugas sebagai pengurus rumah ini, aku masih anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa.
Rumah ini terlalu besar untukku, dengan berbagai spot kosong yang bisa kuberi sedikit sentuhan artistik. 4 tahun kuliah di jurusan DKV ada gunanya juga. Mungkin nanti aku akan mampir ke toko furnitur untuk membeli berbagai perabotan dan dekorasi untuk spot-spot kosong di rumah ini.
30 menit kemudian Bu Ria datang membawa nampan berisi pancake bundar gendut dengan es krim vanila sebagai topping-nya. Aku langsung melahap habis pancake itu, memakai jaket jeansku dan bergegas pergi. Pak Alim menawarkan diri untuk mengantarku dengan mobil, namun aku menolaknya dengan alasan ada yang ingin kubeli di jalan menuju kantor.
Pandanganku tertuju pada pasangan yang berdiri di dalam bis. Mereka saling berpegangan tangan sementara tangan satunya menggamit pegangan bis.
Ada rasa iri muncul di hatiku. Aku ingin sekali bisa seperti mereka. Aku ingin bisa pergi ke kantor bersama dengan suamiku. Apalagi gedung kantorku sama. Ruanganku ada di lantai 15 bersama dengan staff konsultan desain dan produksi, sementara ruangan Juna ada di lantai 23.
Waktu kami masih berpacaran, Juna selalu mengantarku sampai ke depan pintu ruanganku lalu naik ke lantainya sendiri. Kadang dia masuk ke ruanganku untuk mengantarku atau membelikan kopi atau minuman apapun untuk aku dan teman-teman satu ruanganku dari kafe Blue milik Markian.
Juna memang tampan. Senyumnya manis, membuat banyak teman-temanku yang menyukainya patah hati saat tahu aku berpacaran dengannya, apalagi saat mereka tahu aku akan menikah dengannya.
Bagaimana tidak? Juna melamarku di plaza lantai satu di depan banyak orang saat aku baru datang ke kantor.
Hari itu aku datang dengan mobilku. Setelah memarkirkan mobil, aku berjalan ke arah lobby namun semua orang yang melihatku langsung berbisik-bisik dan menghindariku sambil mengulum senyum. Aku bingung kenapa orang-orang bersikap begitu padaku.
Lalu saat aku di depan pintu lobby, dua orang satpam yang bertugas dengan sigap membuka pintu untukku dengan gaya double door entrance seperti di film-film Disney. Sesaat kemudian, tepat di ambang pintu, aku dihujani kelopak bunga mawar merah diikuti background music Sucker milik Jonas Brothers dan semua orang bernyanyi dan bertepuk tangan mengikuti irama. Aku ingin maju namun banyak orang yang menahanku untuk bergerak dengan gestur tubuhnya. Aku pun masih terdiam kebingungan di depan ambang pintu masuk. Plaza lantai satu itu berubah. Di atas tangga kembar, dua buah proyektor raksasa memainkan video yang berisi wajahku yang sedang tersenyum, makan, tertawa, serius, dan lainnya. Lalu sedetik kemudian, lagu Marry U milik Super Junior terdengar mengalun lembut. Dari pintu di antara tangga kembar itu, terlihat sosok Arjuna berjalan mendekatiku.
Dari jauh, aku bisa melihat betapa manisnya pacarku. Rambut hitam, tubuh tinggi yang tidak kurus namun tidak terlalu kekar, bahu yang tegap, hidung mancung, bibir yang tersenyum manis...
Aku lupa kalau pacarku begitu sempurna.
Dari dulu dia sudah menjadi incaran para wanita. Apalagi sejak naik pangkat menjadi dewan direktur di perusahaan ayahku ini. Tampan, manis, ramah, kaya raya padahal usianya baru menginjak 28 tahun. Siapa yang bisa menolaknya?
Juna berhenti di depanku lalu berlutut. Suasana plaza lantai 1 langsung heboh dengan jeritan dan sahutan orang-orang yang melihat apa yang Juna lakukan. Tapi suara itu seolah hanya angin lalu bagiku, karena aku hanya terfokus pada Juna yang merogoh sakunya dan membuka kotak cincin warna silver.
"Menikahlah denganku, Elysian."
Sedetik kemudian Juna berdiri, mengambil tangan kiriku dan menyematkan cincin berlian itu di jari manisku. Aku terharu. Suasana riuh ramai kembali menggema saat Juna memelukku erat dan dia berteriak mengumumkan bahwa dia akan menikahiku, disambut sorak sorai dan tepuk tangan dari keramaian.
"Pemberhentian berikutnya akan segera tiba. Penumpang yang akan turun mohon menekan tombol yang ada di samping pintu keluar--"
Suara pengumuman bis membuyarkan lamunanku. Sebentar lagi aku akan tiba di halte bis di depan kantor. Perutku mual setelah mengingat momen saat aku dilamar oleh Juna. Aku merasa ada yang salah, namun aku tak tahu apa yang salah. Mungkin aku hanya overthinking. Tak ada alasan bagiku untuk meragukan Juna, kan?
Aku turun dari bis sambil memegang perutku yang mual. Jam masih menunjukkan pukul 7.52 pagi. Masih ada waktu sebelum waktu masuk kantor, apalagi pekerjaanku sudah beres semua. Belum ada project baru yang masuk juga, jadi aku punya banyak waktu luang karena waktu kerjaku mengikuti project yang ada.
Kupikir hanya perutku yang mual, namun kepalaku juga mulai terasa berdenyut di sebelah kanan. Tapi tetap saja aku tak yakin kalau sakit ini karena mabuk perjalanan. Mungkin aku benar-benar stres dan overthinking. Dari jauh, karyawan di Blue Cafe milik Markian sedang mengeluarkan menu board dari kafe. Aku pun segera bergegas ke arah kafe.
Aku harap kondisiku akan membaik kalau bertemu Markian.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
[M] KALOPSIA | jaeminju markri
Fiksi PenggemarKalopsia : (n) the delusion of things being more beautiful than they are. 4 orang, 3 rasa cinta, 2 rasa kasih sesungguhnya dalam 1 cerita yang rumit tentang empat orang yang terlibat dalam toxic relationship yang saling meracuni dan saling menyembuh...