Sabda, Naraya, dan Makna Pelangi

11 2 0
                                    

Siang selepas hujan, pelangi terlihat melengkung indah dari ujung ke ujung. Awan juga ikut menghiasi, walau hanya bisa dihitung jari.

Naraya berjalan dari gedung fakultasnya menuju gerbang barat kampus. Ia berniat pulang dan mengistirahatkan diri setelah hampir mual didamprat dosen.

Genangan air nampak berada dimana-mana, membuat gadis itu harus beberapa kali menghindar dan melompat agar sepatunya tidak basah.

Naraya memeriksa ponselnya hanya untuk dibuat berdecak kesal kemudian. Tidak ada ojek online yang tersedia saat ini dan itu artinya adalah sebuah bencana. Ia harus pulang naik apa?!

Tidak jauh dari gerbang, ada sebuah warung sederhana yang kini lumayan ramai oleh para mahasiswa. Naraya sama sekali tidak berminat untuk pergi ke sana. Namun, sebuah suara yang amat sangat dikenalnya itu terdengar memanggil namanya.

"Naraya!"

Sabda dan suara hangatnya di bawah lengkungan pelangi.

Naraya sempat tertegun, sebelum tersenyum tipis untuk menanggapi. Lelaki yang tadi menyebut namanya, kini berjalan menghampiri.

Ah, Naraya tidak suka jika harus menahan nafas melihat pesona Sabda. Tiga tahun pernah bersama rupanya tidak membuat gadis itu bosan dengan aura yang lelaki itu miliki.

"Kamu pulang naik apa?" Sabda membuka suara setelah berdiri kurang dari satu meter darinya.

Satu hal lagi yang tidak pernah Naraya lupakan perihal sosok Sabda. Lelaki itu tidak pernah menanyakan hal yang sudah jelas terjadi di depan mata. Contohnya, 'kamu mau pulang?' karena basa-basi akan membuat lawan bicaranya bosan, katanya.

Naraya menggigit bibir bagian dalamnya, lalu menjawab pelan, "Kayaknya jalan kaki."

"Aku anterin, ya?" tawar Sabda dengan tangan yang merogoh saku ripped jeans-nya, hendak mengambil kunci motor. Segera, Naraya menggeleng kaku.

"Nggak usah, Sab. Aku coba cari ojek lagi aja."

Sabda tiba-tiba menyentuh lengan atasnya dengan jari telunjuk. "Kita bisa nggak jadi biasa aja? Anggap hal kemarin nggak pernah terjadi," katanya dengan suara pelan dan Naraya rasa, sesuatu yang rapuh masih tersimpan di dalam diri lelaki berjaket hitam ini.

"Bisa, Sab. Tapi, nggak sekarang."

"Kenapa?"

Kenapa... Naraya juga tidak tahu alasannya. Dia tidak bisa menjawab, hanya diam dan menatap Sabda dengan tatapan kosong seakan merasa kehilangan sesuatu dalam dirinya.

"Apa karena kamu sekarang lagi benci sama aku?" ucap Sabda, lalu tertawa gamang. Lelaki itu menatap kunci di tangannya, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Yaudah. Nanti kalau udah nggak benci, bilangin aku, ya? Aku pergi dulu."

Sabda berbalik dan hendak melangkah pergi, sebelum Naraya menarik tangannya dan malah merengkuh lelaki itu dengan erat.

"Maaf, Sab, maaf..." Suara gadis itu tenggelam di dada Sabda. Bahunya bergetar, tangisnya mendominasi.

Sabda sempat membeku sesaat, kemudian tersadar. Ia mengusap rambut Naraya, mengisi jemarinya dengan rambut halus gadis itu.

Selama seminggu, Naraya berpikir tentang kemungkinan yang akan terjadi jika dalam tiga tahun yang lalu ia tidak bertemu Sabda. Mungkin, ia akan stress di saat-saat ujian. Mungkin, ia akan menyerah dengan segala sesuatu tentang dunia perkuliahan.

Dan mungkin, gue bakal mati tergantung di kamar mandi...

Lelaki bernama Sabda Aditya berhasil menyelamatkannya, membawanya dalam rengkuhan hangat dan mengatakan bahwa dia selalu ada di sana. Benar, Sabda selalu ada dikala ia benci kehidupannya.

Sabda, Naraya, dan Makna Pelangi [Lee Haechan]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang