Perempuan itu datang lagi ke gubuk yang menyeramkan di tengah hutan itu.
Memberanikan dirinya datang kemari meski sebenarnya dia ketakutan, karena terbukti dukun perempuan itu sangat sakti. Matanya membelalak ketika Nyai Dasima membukakan pintu padanya sambil membawa tongkat dengan tengkorak kecil sebagai kepala tongkatnya.
“Masuklah, Nyonya. Saya tahu Anda akan datang lagi!” kekeh dukun perempuan itu, memamerkan giginya yang agak tajam dan menghitam. Entah karena terlalu banyak menghisap susur atau kebanyakan menelan racun.
Kaok! Kaok!
Suara burung gagak hitam yang berkaok-kaok diatas pohon membuat tengkuk si Nyonya merinding. Apalagi saat dia merasa burung gagak itu mengawasinya dengan seksama.
“Burung gagak, bukannya pertanda kematian, toh?” gumam Nyonya itu, miris.
“Abaikan saja. Burung itu peliharaanku.”Pantas. Munggkin dukun ini penjelmaan set*n. Peliharaannya saja burung gagak, burung pembawa pesan kematian! Begitu masuk ke dalam gubuk, bau tajam kemenyan segera menyerbu lubang hidungnya. Nyonya itu mengernyitkan hidungnya. Dia memilih duduk sejauh mungkin dari dupa yang menyebarkan aroma kuburan itu.
“Duduklah disini.”
Sial, Nyai Dasimah justru menyuruhnya duduk di depan dupa yang tengah mengepul asapnya. Terpaksa dia mematuhinya, sembari berusaha menutup penciuamnnya.
“Dalem, Nyai.”
Nyai Dasima menyeringai, meski maksudnya ingin tersenyum namun terkesan mengerikan di wajahnya yang buruk.
“Kamu datang kemari setelah yakin aku berhasil menenung suamimu, toh?”
Nyonya Wardoyo mengangguk heran. Luar biasa, dukun perempuan ini bisa tahu apa yang terjadi di rumahnya meski belum pernah kesana.
“Bagaimana Nyai Dasima bisa tahu?” cicitnya bingung.
“Hasil penerawanganku. Bagaimana reaksi suamimu?”
“Akhir-akhir ini dia kurang tidur, kantung matanya semakin menebal. Mas Wardoyo mengeluh sering bermimpi buruk.”
“Bagus, teluh dariku mulai bekerja. Kamu membawakan yang kuminta , toh?” Dukun perempuan itu menagih permintaan yang diutarakannya di pertemuan mereka sebelumnya.
“Tentu, Nyai. Tapi boleh saya bertanya. Bukannya saya meminta Nyai memberi pelajaran pada gendakan kurang ajar itu? Mengapa Nyai malah menenung suami saya?”
Nyai Dasima melotot galak pada Nyonya kaya yang menyewa jasanya. “Lain kali jangan tanyakan alasan saya melakukan apapun! Saya punya alasan khusus yang ndak dipahami manusia bodoh seperti kalian! Sekarang, ingat-ingat ... pada saat suamimu ndak sadar, bukannya dia melampiaskan pada gendakannya toh?”
Benar juga, si jalang itu pernah pingsan kehabisan napas karena dicekik suaminya. Senyum nyonya itu mulai merekah. Jadi Nyai Dasima akan menghabisi gendakan binal itu melalui tangan suaminya. Kalau begitu, dia ndak akan ragu lagi.
“Maaf, Nyai. Saya ndak akan bertanya lagi. Ini, saya bawakan permintaan Nyai.”
Perempuan itu menyerahkan kantong merah berisi barang yang diminta Nyai Dasimah, yaitu rambut kemaluan suaminya dan juga kancut bekas pakai suaminya yang belum dicuci.
Nyai Dasima mengangguk puas. Teluhnya akan bekerja, untuk memuaskan dendam dan keserakahan manusia di bumi fana ini!
“Nyonya, saya akan meneluh suami Anda lagi. Pesan saya, untuk sementara ini ... jangan berhubungan badan dengan suami Anda dulu. Biarkan dia memuaskan hasrat dengan perempuannya yang lain. Anda paham maksud saya toh?”

KAMU SEDANG MEMBACA
41. MISTERI NYAI RONGGENG
HororCERITA INI TELAH TERBIT DI DREAME / INNOVEL. DAPATKAN VERSI LENGKAP DISANA. AKUN VALENT C Desa Gayam adalah desa terkutuk, tak boleh ada pementasan tari Ronggeng disana. Ada kisah tersembunyi tentang Nyai Ronggeng yang sebelum terbunuh melancarka...