Maafkan atas segala ke.bar-bar.anku.. Tingkat imajinasi dan mood menjadi tolak ukur paling utama dalam kelanjutan cerita ini.
Segala upaya berusaha Aku kerahkan untuk melanjutkan dan menyelesaikan apa yang telah aku mulai...Terimakasih untuk kalian semua yang telah setia menanti kelanjutan cerita kehaluanku ini...
Happy reading ☺️
.
.
.Ali meringis tak tega melihat bentuk penganiayaan atau lebih tepatnya pembalasan dendam seorang kakak kepada adik kandungnya sendiri. Sedang sang kakak yang berstatus istrinya itu sedari tadi tak henti-hentinya tertawa bahagia melihat maha karyanya dengan sesekali mengarahkan tatapan layaknya pembunuh.
"Kak, udah dong. Malu banget nih gue" rengekan itu ternyata tak bisa mengakhiri penderitaan yang ia alami.
Raja merutuki dirinya sendiri karena mengajukan diri untuk menjemput sang kakak dan suaminya. Kalau saja kemarin Ia memilih mengantar Bundanya kepasar, pastinya hal memalukan ini takkan pernah terjadi dalam hidupnya.
Memanglah penyesalan memang selalu datang diakhir. Dan Raja benar-benar menyesal dan mungkin ia akan trauma menginjakkan kakinya lagi disini, bandara. Ingatkan ia akan hal itu.
"Sayang, udah ya. Kasian tau Raja nya. Pasti malu banget, Dia"
Prilly hanya menatap sekilas kearah sang suami namun hanya dengan tatapannya, membuat sang suami langsung kicep tak lagi-lagi mau ikut campur. Walau sebenarnya ingin sekali ia membantu mengurangi penderitaan sang adik ipar. Tapi ia lebih takut lagi terhadap istrinya.
Prilly bernazar dihadapan sang suami bahwa saat adiknya telah menampakkan dahi lebarnya, ia akan menghukumnya dengan seberat-beratnya dan seadil-adilnya. Karena telah membuat ia dan suami terlalu lama menunggu.
Saat melihat raut wajah lelah sang istri, Ali menawarkan diri untuk mendekap ke dada bidangnya, namun Prilly lebih tertarik pada punggung tegap sang suami. Jadilah seperti saat ini. Hampir satu jam Prilly duduk bersandar di punggung suaminya yang ia jadikan bantalan kepalanya yang mulai mengantuk. Ingatkan ia karena harus bersyukur memiliki suami yang siap siaga menuruti kemauannya.
Merasa sudah puas, dan cukup melelahkan akhirnya Prilly menghentikan hukumannya. Nafasnya masih terengah dengan bahu yang masih bergetar.
Raja akhirnya dapat bernafas lega, ia segera melesat pergi ke toilet untuk menghilangkan riasan sang kakak diwajahnya. Dan melepaskan segala aksesoris pramugari di tubuhnya.
Ya, Prilly menghukum dengan mendadani sang adik layaknya seorang pramugari lengkap dengan setelan seksi dan sanggul serta bandana dikepalanya. Sang adik tak dapat berelak karena Prilly, sang kakak berdalih kalau itu adalah kemauan calon anak yang tengah dikandungnya. Ali sebagai suami hanya pasrah melihat kelakuan kakak beradik ini. Namun dalam hati, ia bersyukur karena bukan Dia yang menjadi objek ngidam sang istri melainkan adik iparnya, Raja.
.
.Setelah kepergian Raja ke toilet serta bubarnya kerumunan massa, kini hanya menyisakan sepasang suami-istri yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ali Prilly.
"Mas, sumpah tadi itu lucu banget. Aku ngga nyangka ternyata Raja punya bakat terpendam" Prilly terus mengoceh walau tanpa respon dari Ali sama sekali
"Lain kali, Aku harus terus ngasah bakatnya dia nih. Kan mubadzir kalo ngga kepake ha-ha-ha"
"Mas.." Prilly menegakkan tubuhnya lalu balik badan setelah merasa tak ada respon dari sang suami. Dilihatnya sang suami tengah menangkupkan kedua telapak tangannya untuk menutupi seluruh wajahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Until Jannah
FanfictionBagi setiap insan, MENIKAH adalah suatu hal yang sakral. Namun apa jadinya, jikalau suatu pernikahan terjadi tanpa hadirnya mempelai wanita. Bahkan semua keluarga seakan menutup-nutupi hal itu darinya. Akankan Prilly dapat menerima pernikahan terse...