part 89

534 84 0
                                    

"Ughhh.." Selfi terbangun seraya memegang kepalanya yang masih merasakan sakit.

"Gua di mana.." ucapnya tersadar.

Pemandangan di depannya tetap sama seperti sebelumnya dia menutup matanya. Dia pun juga teringat kejadian yang terjadi padanya.

"HuH? Tadi gua? Apa gua dah mati?.." tanyanya pada diri sendiri.

Gadis itu berusaha bangkit, namun saat kaki kanannya menginjak tanah, ia merasakan nyeri yang begitu dasyat, dia membuang nafasnya kasar.

"Kyknya kaki gue patah.." gumamnya.

"Aishhh, mobil gue kyknya udah hancur berkeping-keping tuh.." lanjutnya menatap jalan yang tak berujung, entah mobilnya ada dimana, jalanan itu begitu sepi, mengingat mobilnya terseret mobil-mobil lain, pasti bangkai mobilnya juga. Bodo lah, dia tak mau memikirkannya.

"Gue harus ke mana? Sana atau sini.." bingungnya, Selfi pun memutuskan pilihannya dan tak memilih keduanya, dia berjalan memasuki area yang banyak pohon-pohon, niatnya ingin mencari kayu agar memudahkannya berjalan, tapi hatinya berkata lain, ternyata dia memasuki area hutan. Di tengah hutan begitu apalagi tengah malam tentu saja sangat gelap, dia bahkan tak punya senter ataupun ponsel.

"Huftt, kenapa gue harus masuk ke sini.." gerutunya dan ingin kembali tapi ia tak ingat jalan yang ia lewati.

"Huftt.." Selfi membuang nafasnya.

Dan mau tak mau, dari pada membuatnya semakin tersesat dia memutuskan untuk mencari tempat untuknya beristirahat dan tak jauh darinya, Selfi melihat pohon tumbang, dia pun memutuskan untuk duduk di sana.

"Huftt.." lagi dan lagi.

"Sebelum kecelakaan, gue mau ke mana ya?.." pikirnya, gadis itu berusaha keras untuk mengingat tapi ia tak bisa mengingat apapun, ia memegang kepalanya saat merasa sesuatu yang membasahi hijabnya.

"Cairan apa ini.." bingungnya, karena tak bisa melihat dengan jelas.

"Jangan bilang?... Jangan bilang gue di berakin burung.." celetuknya dan menatap tangannya dengan jijik.

"Aishhh! Tapi gak mungkin, mana ada tai burung yang gak bau.." lanjutnya, karena memang tak ada baunya, Selfi mendekatkan tangannya ke hidung.

"Oh bau darah?.." serunya.

"HaH?!!.." kagetnya dan langsung memegang kepalanya yang merasakan sakit saat di sentuh.

Gadis itu memeriksa seluruh bagian kepalanya. Dan ternyata keningnya juga merasakan sakit saat di sentuh.

"Pantes gue gak inget apa-apa.." gerutunya.

Hari... Kini kian semakin gelap, Selfi tak bisa menghilangkan rasa kantuknya yang datang karena udara malam yang begitu sejuk, dia melihat sekelilingnya dan mendapati ranting kayu yang sesuai untuk ia jadikan tongkat, ia mengambilnya dan menjadikannya sebagai penyangga dia. Dia tertidur dengan posisi duduk dan runcing kayu yang menjadi sandaran kepalanya.

"Selfi!!! Fokuskan dirimu.."

"HaH!?!.." Selfi tersentak kaget dan melihat sekelilingnya.

"Apa yang aku lakukan di sini.." ucapnya sembari beranjak bangun di bantu dengan tongkatnya yang menjadi penopang tubuhnya.

"Mereka? Aku harus segera menemui mereka.."

.....

"Hai.." sapa Selfi sembari tersenyum.

"Selfi? Itu kamu/kakak?.." kaget mereka setelah baru mengenali bahwa dia adalah anggota keluarga itu.

Ya, tentu saja dia sulit di kenali, mengingat apa yang terjadi dengannya.

One Step To Big Family (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang